POJOKSATU.ID - Keberhasilan dari sebuah kebijakan pendidikan kini tidak boleh lagi diukur hanya berdasarkan rekomendasi yang tertulis di atas kertas belahan dokumen semata.

Indikator utama kesuksesan tersebut harus dilihat dari seberapa besar dampak positif yang dapat dirasakan langsung oleh seluruh ekosistem pendidikan di lapangan.

Pandangan mendasar ini disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam sebuah acara penting di Jakarta pada hari Kamis lalu.

Saat itu, beliau memberikan sambutan penutup dalam agenda Southeast Asian Ministers of Education Organization Centre Policy Research Network Summit 2026.

Baca Juga: Mendikdasmen Ramu Strategi Pendidikan Nasional dari Berbagai Belahan Dunia! Sekolah Swasta Siap-Siap Kebagian Peran Penting

Di depan para hadirin, Atip menegaskan bahwa pencapaian acara internasional tersebut tidak akan ditemukan pada presentasi atau lembar rekomendasi yang dihasilkan saja.

Keberhasilan yang sesungguhnya bakal tercermin melalui lahirnya kebijakan yang jauh lebih responsif serta program kerja yang berjalan lebih efektif di masyarakat.

Selain itu, penguatan kemitraan dan dampak konkret bagi para murid, guru, beserta masyarakat di seluruh wilayah menjadi bukti nyata yang paling valid.

Untuk mencapai hal tersebut, kebijakan pendidikan saat ini wajib menyatukan tiga pilar utama yang saling berkaitan erat.

Baca Juga: Kebijakan Baru Guru PPPK Bikin Sekolah Swasta Bernapas Lega, Apa Kebijakan Dari Kemendikdasmen?

Ketiga pilar yang dimaksud meliputi riset atau bukti ilmiah yang kuat, perumusan kebijakan yang matang, serta praktik nyata di lapangan.

Atip menjelaskan bahwa sebuah regulasi yang tangguh tidak boleh dilahirkan dari asumsi kosong atau perkiraan semata tanpa dasar yang jelas.

Kebijakan masa kini harus didasarkan sepenuhnya pada data dan bukti yang sahih agar implementasinya di tengah masyarakat bisa tepat sasaran.

Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan diajak untuk berani melakukan adaptasi serta perubahan yang sifatnya esensial.

Perubahan dipandang sebagai sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari demi menyongsong masa depan yang jauh lebih baik.***