POJOKSATU.ID - Penerapan kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh ekosistem pendukung, terutama lingkungan keluarga dan sekolah.
Kehadiran teknologi baru ini harus selalu mengedepankan prinsip keamanan, kejujuran akademik, serta kesejahteraan psikologis para peserta didik.
Sistem pemantauan yang ideal tidak boleh hanya berfokus pada pembatasan konten digital semata.
Lebih dari itu, sistem tersebut harus mampu mengenali bentuk interaksi teknologi yang memiliki risiko tinggi terhadap anak.
Baca Juga: Menyeleraskan Langkah Melalui SKB 7 Menteri demi Masa Depan Digitalisasi Pendidikan di Sekolah
Oleh karena itu, keluarga ditempatkan sebagai garda terdepan dalam memberikan pendampingan yang intensif di ruang siber.
Kualitas pemanfaatan teknologi modern pada dasarnya tidak diukur dari seberapa canggih sistem yang digunakan.
Nilai utama dari penerapan teknologi tersebut justru ditentukan oleh kualitas manusia yang mengoperasikannya di kehidupan sehari-hari.
Karakter dan kebijaksanaan pengguna teknologi tersebut dibentuk pertama kali di dalam lingkungan domestik atau keluarga.
Baca Juga: Dilema Adopsi Kecerdasan Buatan atau AI antara Solusi Administrasi dan Risiko Plagiarisme!
Di sisi lain, masyarakat diingatkan agar tidak memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadap kemampuan kecerdasan artifisial.
Teknologi ini bukanlah sebuah keajaiban yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan mendasar di dalam sistem pendidikan.
Dunia pendidikan tetap membutuhkan pendekatan pengajaran yang kontekstual serta adaptif sebagai pagar pembatas yang kokoh.
Pengawasan dari manusia secara langsung tetap tidak dapat diabaikan karena sistem digital ini masih memiliki potensi kesalahan.
Hubungan emosional dan interaksi langsung antara guru dan murid adalah inti dari pembelajaran yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.
Melalui penguatan literasi digital, peserta didik akan dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman etika yang kuat.
Pada akhirnya, teknologi harus diletakkan sebagai alat bantu dan bukan sebagai pengganti kehadiran figur pendidik.***




