POJOKSATU.ID - Kehadiran teknologi kecerdasan buatan di dunia pendidikan bagaikan pisau bermata dua yang membawa keuntungan sekaligus tantangan besar.
Pada satu sisi, sistem digital ini memberikan kontribusi positif yang nyata dalam menyukseskan program digitalisasi sekolah.
Siswa dapat memperoleh panduan belajar yang dirancang secara personal sehingga mampu mendongkrak motivasi belajar mereka.
Bagi tenaga pendidik, kehadiran teknologi ini sangat membantu dalam memangkas beban pekerjaan administratif yang melelahkan.
Baca Juga: Survei APJII Menunjukkan Lonjakan Drastis Pemanfaatan AI oleh Pelajar Indonesia
Guru kini memiliki waktu lebih banyak untuk fokus pada esensi pengajaran dan membangun interaksi yang lebih berkualitas di kelas.
Keunggulan ini juga membuka ruang bagi terciptanya iklim pembelajaran seumur hidup di tengah masyarakat.
Namun, di balik segala kemudahan tersebut, laporan dari berbagai lembaga riset mengingatkan adanya ancaman serius yang mengintai.
Salah satu risiko terbesar adalah munculnya ketergantungan yang tinggi dari para siswa terhadap sistem otomatis.
Baca Juga: Pemkot Bandung Gencar Perangi Nikotin, 500 Siswa SMAN 20 Deklarasi Tolak Rokok dan Vape
Hal ini dikhawatirkan dapat mengikis kemampuan belajar mandiri para guru dan melemahkan ketajaman berpikir analitis para murid.
Masalah klasik seperti maraknya tindakan plagiarisme atau penyontekan karya tanpa mencantumkan sumber juga menjadi perhatian utama.
Lebih jauh lagi, interaksi yang terlalu intens dengan robot percakapan berpotensi memicu masalah kesehatan mental berupa isolasi emosional di dunia nyata.
Hubungan sosial yang sehat dengan sesama manusia berisiko terabaikan akibat kedekatan emosional yang keliru dengan sistem non-manusia.
Pemerintah juga mengkhawatirkan dampak buruk lain berupa maraknya manipulasi digital seperti pemalsuan suara dan gambar yang dapat merusak reputasi serta menyebarkan disinformasi.***




