POJOKSATU.id - Wacana penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masa depan mulai bergulir.

Tapi respons kampus? Tidak sesederhana “tutup atau lanjut”.

Sejumlah pimpinan perguruan tinggi negeri justru mengingatkan, kebijakan ini tidak bisa diambil secara instan.

Ada banyak hal yang perlu ditimbang.

Baca Juga: Cara Memancungkan Hidung Tanpa Operasi, dari Makeup hingga Latihan Sederhana

Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai relevansi prodi memang penting. Bahkan, IPB sendiri sudah mulai bergerak ke arah tersebut.

"Di tengah perubahan yang semakin kompleks, pendekatan monodisiplin kerap tidak lagi memadai. Ke depan, dibutuhkan kolaborasi multi, inter, hingga transdisiplin agar pendidikan tinggi tetap adaptif dan berdampak," ungkapnya.

Bukan Sekadar Tutup, Tapi Transformasi
Menurut Alim, transformasi atau konsolidasi prodi bisa dilakukan, tapi harus berbasis pertimbangan yang jelas.

Baca Juga: Resep Roti Kukus Pontianak Ubi Ungu Lembut, Isi Cream Cheese Lumer di Mulut

Mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan masa depan, hingga serapan lulusan di dunia kerja jadi faktor penting.

Tak kalah krusial, performa akademik dan ketersediaan sumber daya juga harus diperhitungkan.

Namun satu hal yang tidak boleh hilang: hak mahasiswa.
"Pada prinsipnya hak mahasiswa untuk belajar sesuai minat tetap harus dijaga. Kuncinya bukan mempertentangkan minat dan relevansi, tetapi mengintegrasikan keduanya," tambahnya.

Baca Juga: Tingkah Jule dan Safrie Ramadhan Makin Menjadi, Na Daehoon Batasi Akses Mantan Istri Bertemu Anak, Ancam Polisikan Buzzer Penyebar Fitnah

Kalau Sudah Tak Dibutuhkan, Masih Perlu Ada?
Pandangan lain datang dari Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Negeri Jakarta, Ifan Iskandar.

Ia menyebut, secara teori, penutupan prodi bukan hal yang tabu. Tapi tetap harus berbasis kajian mendalam.

Konsep seperti deskilling, reskilling, dan upskilling jadi relevan dalam melihat apakah suatu bidang ilmu masih punya “alasan untuk hidup”.

Baca Juga: Akhir Penantian 30 Tahun, PSU Taman Cibaduyut Indah Diserahkan, Bupati: Tak Patuh, Pengembang Disanksi!

"Bila kita melihat konsep deskilling, reskilling, dan upskilling, maka bisa jadi memang suatu bidang ilmu kehilangan alasannya untuk tetap ada, yaitu ketika kebutuhan terhadapnya hilang. Dia (prodi) tidak punya reason d'etre alasan untuk ada," ujarnya.

Namun ia menegaskan, keputusan tidak boleh gegabah.

Penurunan peminat, perubahan kebutuhan industri (sunset dan sunrise industries), hingga banyaknya lulusan yang tidak terserap kerja harus jadi dasar utama.

Baca Juga: Resep Tempe Jablay Renyah Pedas, Camilan Gurih yang Bikin Nagih

Sementara itu, pihak Institut Teknologi Bandung menyatakan belum melakukan kajian terkait rencana tersebut.

Artinya, diskusi soal masa depan prodi ini masih panjang dan belum menemukan titik final. ***