POJOKSATU.id — Film horor asal Korea Selatan, 'Gonjiam: Haunted Asylum' kini resmi diangkat ke dalam versi Indonesia dengan judul 402 Rumah Sakit Angker Korea.
Proyek ini disutradarai oleh Anggy Umbara, yang dikenal melalui karya-karya sebelumnya seperti Comic 8 dan Gundik.
Cerita yang dihadirkan masih mempertahankan konsep utama dari film aslinya, yakni mengikuti perjalanan sekelompok kru program horor berbasis webcast yang memutuskan untuk melakukan siaran langsung dari sebuah rumah sakit paling angker di Korea Selatan, Yongwon Hospital.
Baca Juga: Akhirnya! RUU PPRT Masuk Paripurna, Ini 12 Aturan Baru yang Bakal Ubah Nasib PRT
Dengan keberanian yang cenderung nekat, mereka memasuki lokasi tersebut demi menciptakan konten yang mampu menarik perhatian publik.
Ambisi untuk meraih popularitas dan meningkatkan jumlah penonton membuat mereka menjelajahi berbagai sudut menyeramkan di bangunan tersebut.
Namun, keputusan itu justru membawa mereka pada situasi yang tak terduga, di mana teror yang muncul bukan lagi sekadar konten, melainkan ancaman nyata yang membahayakan keselamatan mereka.
Film ini diproduksi oleh MD Pictures bekerja sama dengan Umbara Brothers Film serta Pichouse Films.
Baca Juga: Update Kasus Dugaan Manipulasi Saham HYBE, Polisi Ajukan Surat Perintah Penangkapan Bang Si Hyuk
Sejumlah aktor muda turut ambil bagian dalam proyek ini, di antaranya Arbani Yasiz, Elang El Gibran, hingga kreator konten asal Korea Selatan Jang Han-sol yang memerankan karakter Dae-Ho.
Kehadiran versi Indonesia ini menjadi menarik karena dirilis sekitar delapan tahun setelah film originalnya tayang pada 2018.
Film garapan Jung Bum-shik tersebut diketahui meraih kesuksesan besar secara global, dengan pendapatan mencapai lebih dari US$21 juta dari modal produksi sekitar US$2,2 juta.
Tak hanya sukses secara komersial, film aslinya juga berhasil menarik lebih dari 2,6 juta penonton di Korea Selatan, menjadikannya salah satu film horor paling sukses pada masanya.
Baca Juga: Dituntut 1,5 Tahun Penjara, Mino WINNER Minta Maaf dan Akui Kesalahannya, Minta Kesempatan Wajib Militer Ulang
Keunikan lain dari remake ini adalah proses produksinya yang dilakukan langsung di Korea Selatan.
Langkah tersebut memberikan nuansa yang lebih autentik dan berbeda dibandingkan film horor lokal pada umumnya.
Dalam versi aslinya, film ini terinspirasi dari lokasi nyata berupa rumah sakit jiwa terbengkalai di Gwangju, Korea Selatan, yang dikenal luas sebagai salah satu tempat paling angker di dunia.
Pendekatan visual yang digunakan pun berbeda dari film horor konvensional, karena mengusung gaya “found footage” yang menampilkan rekaman seolah nyata melalui kamera handheld dan siaran langsung, sehingga menciptakan suasana yang lebih intens dan realistis.
Alur ceritanya sendiri mengikuti sekelompok kreator konten horor yang menjelajahi lokasi menyeramkan demi meraih popularitas.
Baca Juga: Tak Terima Dikaitkan dalam Kasus Dugaan Pelecehan sang Kakak, Jisoo BLACKPINK Siap Tempuh Jalur Hukum
Tema ini terasa dekat dengan kehidupan digital masa kini, di mana konten viral menjadi incaran banyak orang.
Keberhasilan film tersebut juga terlihat dari pencapaiannya di pasar global, dengan keuntungan yang jauh melampaui biaya produksinya.
Bahkan, banyak kritikus menilai film ini sebagai salah satu karya terbaik dalam genre found footage karena berhasil membangun atmosfer yang sangat mencekam.
Sementara itu, dalam versi Indonesia, sejumlah elemen ikonik tetap dipertahankan, termasuk keberadaan “ruang 402” sebagai pusat teror utama.
Baca Juga: Wacana Iuran BPJS Kesehatan Naik 2026, Ini Penjelasan Lengkap dan Siapa yang Terdampak
Gaya penyutradaraan Anggy Umbara juga memberikan sentuhan visual khas yang memadukan unsur horor dan ketegangan secara lebih dinamis.
Cerita yang diangkat masih berfokus pada aktivitas live streaming horor oleh para kreator konten.
Namun dengan pendekatan yang lebih relevan dengan tren digital saat ini.
Dari sisi teknis, produksi film ini juga dibuat lebih kompleks karena para aktor turut berperan sebagai kameramen dengan perangkat yang dipasang di tubuh mereka.
Pengambilan gambar yang dilakukan langsung di Korea Selatan turut memperkuat skala produksi film ini, menjadikannya terasa lebih besar dan autentik.
Baca Juga: Mau Ikut Maraton? Ini Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Pemula
Selain itu, tema yang diangkat juga sangat dekat dengan fenomena masa kini, di mana banyak kreator berlomba-lomba mengejar popularitas dan viralitas di dunia digital.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, film ini dijadwalkan tayang pada Juli 2026 dan diprediksi akan menjadi salah satu tontonan horor yang menarik perhatian penonton Indonesia. ***


