POJOKSATU.id — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat total pendanaan riset dan pengembangan pada tahun 2026 mencapai Rp1,7 triliun.
Anggaran besar ini akan digunakan untuk mendukung 18.215 kegiatan riset yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Langkah ini menjadi salah satu dorongan terbesar pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset nasional.
Baca Juga: Dari Pesantren ke Universitas! Harapan Baru Perjalanan UIB Bogor Barat Penulis: Reizka Kemala Nazar
Tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga dari arah kebijakan yang kini semakin menekankan dampak nyata bagi masyarakat.
Sembilan Program Utama Pendanaan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa pendanaan tersebut akan disalurkan melalui sembilan program utama, yakni:
- Program Penelitian
- Program Pengabdian kepada Masyarakat
- Program Hilirisasi Riset Prioritas
- Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak
- Program Inovasi Seni Nusantara
- Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT)
- Program Mahasiswa Berdampak
- Program Pengujian Model dan Prototipe
- Program PHC-Nusantara
Seluruh program ini dirancang selaras dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menitikberatkan pada penyelesaian persoalan strategis nasional.
Baca Juga: Visa Haji Foruda 2026 Sudah Tak Diterbitkan, DPR Ingatkan Agar Masyarakat Tak Mudah Tergiur
Fokus pada Masalah Nyata
Sejumlah isu prioritas menjadi perhatian utama dalam pendanaan tahun ini. Mulai dari penanganan stunting, ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, penurunan kasus tuberkulosis, hingga pengelolaan sampah terpadu dan pemulihan pascabencana, khususnya di wilayah Sumatera.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa riset tidak lagi hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan untuk menjadi solusi konkret di lapangan.
“Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak,” ujar Menteri Brian.
Baca Juga: Banjir Bandung Disorot, Muhammad Farhan Ungkap Lonjakan Sampah Sungai hingga 300 Kubik
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar hasil riset bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.
“Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Komposisi Penerima dan Bidang Prioritas
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menambahkan bahwa skema pendanaan tahun ini difokuskan pada percepatan pemanfaatan hasil riset.
Secara komposisi, penerima pendanaan berasal dari seluruh provinsi di Indonesia, dengan 40 persen dari perguruan tinggi negeri dan PTN berbadan hukum, serta 60 persen dari perguruan tinggi swasta.
Baca Juga: Jejak Kanal Molenvliet yang Hilang, Dari Jalur Air Batavia hingga Jadi Jalan Gajah Mada Hayam Wuruk
Dari sisi bidang, sektor kesehatan mendapatkan alokasi terbesar sebesar 27 persen, diikuti ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, serta digitalisasi termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor sebesar 15 persen.
Sisanya dialokasikan untuk energi, manufaktur dan material maju, maritim, hingga pertahanan.
Rincian Pendanaan Tiap Program
Pada Program Penelitian, sebanyak 13.028 proposal dinyatakan lolos dari 83.284 usulan dengan total pendanaan Rp1,04 triliun.
Program Pengabdian kepada Masyarakat menetapkan 3.328 tim penerima dari 15.728 usulan, dengan total dana Rp167 miliar, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah 3T dan kelompok rentan.
Baca Juga: Kesepakatan Rahasia RI-AS? Izin Pesawat Tempur Bisa Seret Indonesia ke Konflik
Program Hilirisasi Riset Prioritas mendanai 925 proposal dari 2.488 usulan dengan total Rp318 miliar untuk mendorong pemanfaatan hasil riset ke sektor industri.
Program Pengujian Model dan Prototipe mendukung 354 proposal dengan pendanaan Rp46 miliar, terutama untuk tahap validasi dan penyempurnaan teknologi.
Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak menetapkan 102 konsorsium penerima dengan total dana Rp62,4 miliar, sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Sebanyak 17 Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi juga menerima pendanaan sebesar Rp7,85 miliar untuk penguatan kelembagaan riset.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, sebanyak 202 kegiatan didanai dari 608 usulan dengan nilai Rp21,9 miliar, melibatkan lebih dari 10 ribu mahasiswa dalam upaya pemulihan pascabencana.
Di sektor budaya, Program Inovasi Seni Nusantara mendukung 244 karya dengan total dana Rp17,5 miliar.
Sedangkan Program PHC-Nusantara mendanai 15 riset kolaborasi Indonesia–Prancis dari 72 proposal yang masuk, dengan total Rp2,2 miliar.
Baca Juga: Makin Panas, Militer AS akan Blokade Selat Hormuz dan Semua Pelabuhan Iran Mulai Jam 9 Nanti Malam
Arah Baru Riset Indonesia
Penyesuaian jadwal pengumuman dilakukan untuk memastikan kesiapan implementasi kebijakan baru, termasuk alokasi honorarium peneliti hingga 25 persen yang mulai berlaku pada tahun anggaran 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga tata kelola pendanaan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan.
Dengan skala pendanaan yang besar dan fokus pada dampak nyata, riset di Indonesia kini memasuki babak baru.
Tidak lagi sekadar mengejar publikasi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. ***




