POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Indonesia. Siswa SMP Sekolah Alam Insan Mulia sukses menorehkan pencapaian tingkat internasional dengan meraih medali emas dalam ajang Youth International Science Fair 2026.
Kompetisi sains bergengsi ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association bekerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga dan dilaksanakan secara daring.
Inovasi “BLOOM” yang Penuh Empati
Medali emas diraih lewat karya inovatif berjudul “BLOOM, Development of a QR-Audio Integrated Braille Pop-Up Book for Alphabet Learning and Sensory Stimulation in Children with Special Needs.”
Baca Juga: Aplikasi Nyari Gawe Mengandung AI, Ini Fitur Lengkap Mudah Cari Kerja bagi Siswa SMA-SMK di Jabar
Tim hebat ini terdiri dari:
-
Tirtania Raya Sarasvati
-
Hana Humaira Syifa Azzahra
-
Danisya Khairani Ashwananda
Kolaborasi mereka tidak hanya menghasilkan karya inovatif, tapi juga membawa nilai empati yang kuat terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
BLOOM hadir sebagai solusi pembelajaran inklusif, khususnya untuk anak tunanetra. Produk ini berupa buku pop-up dengan huruf Braille yang bisa diraba, sekaligus dilengkapi teknologi QR Audio untuk menghadirkan suara pembelajaran secara interaktif.
Baca Juga: ASN Kota Bogor WFH Setiap Jumat, Wajib Selfie 3 Kali Sehari atau Siap Kena Sanksi, Ini Penjelasannya
Belajar dengan Pendekatan Multisensori
Keunggulan utama dari inovasi ini ada pada pendekatan multisensori. Artinya, proses belajar tidak hanya mengandalkan satu indera saja.
Dengan BLOOM:
-
Anak dapat meraba huruf melalui Braille
-
Mendengar pelafalan melalui QR Audio
-
Mendapat stimulasi sensorik lewat desain pop-up
Pendekatan ini dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal, terutama bagi anak difabel yang membutuhkan metode pembelajaran yang adaptif.
Baca Juga: Satgas Citarum Harum Sektor 10 Bongkar Dugaan Pembuangan Limbah Ilegal di Klari
Proses Panjang di Balik Prestasi
Di balik pencapaian ini, ada proses panjang yang tidak mudah. Tim siswa harus mempelajari sistem Braille secara mendalam, memahami kebutuhan belajar anak tunanetra, hingga merancang produk yang aman dan nyaman digunakan.
Seluruh proses dilakukan dengan ketelitian tinggi:
-
Mendesain struktur pop-up yang fungsional
-
Memilih material yang aman disentuh
-
Mengintegrasikan teknologi QR berbasis audio
Baca Juga: Dadang Supriatna Teken MoU Sampah Jadi Listrik, TPA Sarimukti Ditargetkan Zero Waste dalam 3 Tahun
Semua ini dibimbing langsung oleh Nadia Ramadhani Nugroho Putri selaku guru research SAIM Secondary.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa SMP SAIM mampu berkontribusi dalam pengembangan solusi nyata di bidang sosial melalui pendekatan ilmiah,” ujarnya.
Harapan untuk Pendidikan Inklusif
Inovasi BLOOM diharapkan tidak berhenti di ajang kompetisi saja. Ke depan, karya ini berpotensi dikembangkan lebih luas untuk mendukung pendidikan inklusif di Indonesia.
Dari tangan siswa SMP, lahir sebuah karya yang bukan hanya cerdas secara konsep, tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. ***



