POJOKSATU.id - Universitas Negeri Malang (UM) terus menunjukkan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menghadirkan solusi kesehatan berkelanjutan.
Kali ini, tim mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK) UM kembali menorehkan prestasi melalui inovasi riset di bidang kesehatan. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) berhasil mengembangkan gel biomaterial berbasis kalsium karbonat dan fosfor dari limbah cangkang udang Litopenaeus vannamei.
Inovasi tersebut dirancang sebagai alternatif pengganti pen tulang konvensional yang selama ini banyak digunakan dalam penanganan patah tulang.
Baca Juga: Artikel Terindeks Scopus, Mahasiswa FEBI UIN Palangka Raya Tuntaskan Studi Tanpa Skripsi
Tak hanya menghasilkan inovasi riset, penelitian tersebut juga mengantarkan tim mahasiswa UM meraih medali perunggu kategori presentasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-38 (PIMNAS 38).
Tim ini diketuai oleh Zherly Freya Thalia dari Program Studi S1 Keperawatan. Ia bekerja bersama anggota tim dari berbagai bidang keilmuan, mulai dari Kedokteran, Keperawatan, Biologi hingga Kimia.
Menjawab Tantangan Penanganan Patah Tulang
Penelitian tersebut berangkat dari persoalan tingginya kasus patah tulang di Indonesia serta keterbatasan penggunaan implan logam yang masih umum digunakan dalam dunia medis.
Baca Juga: UMS Makin Bersinar di Peringkat Dunia, Kampus Swasta dan Kampus Islam Terbaik di Indonesia
“Selama ini pen tulang berbahan stainless steel atau titanium memang efektif untuk menjaga stabilitas tulang. Namun, penggunaannya tetap memiliki risiko, seperti infeksi, reaksi penolakan tubuh, hingga perlunya operasi lanjutan untuk pengangkatan implan.
Selain itu, sebagian besar bahan masih bergantung pada impor sehingga berdampak pada tingginya biaya pengobatan,” ujar Zherly Freya Thalia.
Melalui riset ini, tim memanfaatkan limbah cangkang udang yang kaya akan kalsium karbonat dan fosfor, dua mineral utama penyusun tulang.
Material tersebut kemudian diekstraksi dan disintesis dengan penambahan alginat untuk membentuk gel biomaterial yang berpotensi digunakan sebagai scaffold atau rangka penopang pertumbuhan tulang.
Melalui Berbagai Tahap Pengujian Ilmiah
Proses penelitian dilakukan melalui sejumlah tahapan pengujian ilmiah untuk memastikan kualitas material yang dihasilkan.
Pada tahap uji karakteristik, tim menggunakan Scanning Electron Microscope Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX) untuk melihat morfologi serta komposisi unsur material.
Selain itu, Fourier Transform Infrared (FTIR) digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi kimia pada gel biomaterial.
Selanjutnya, uji mekanik dilakukan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) guna mengetahui kekuatan serta ketahanan material terhadap tekanan.
Sementara itu, uji kompatibilitas dilakukan dengan mengamati respons leukosit, trombosit, serta uji hemolisis untuk memastikan material aman dan tidak menimbulkan reaksi merugikan pada komponen darah.
Baca Juga: Mengenal Tunik Bini Sah, Tren Busana Muslimah yang Viral Jelang Lebaran 2026
Penelitian ini menargetkan gel biomaterial yang memenuhi karakteristik fisik dan mekanik sebagai scaffold tulang serta mampu mendukung viabilitas sel di atas 80 persen.
Selain berpotensi menjadi alternatif pen tulang yang lebih biokompatibel, inovasi ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah industri perikanan menjadi produk kesehatan bernilai tambah. ***




