POJOKSATU.id - Mahasiswi Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Athaya Maheswari Jumhur, mengikuti program akademik internasional Utrecht Summer School bertajuk “The Making of Europe: From the Middle Ages to Modernity.”

Program tersebut diselenggarakan oleh Utrecht University di Utrecht, Belanda, dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara yang memiliki minat pada kajian sejarah, politik, dan budaya Eropa.

Dalam program ini, para peserta mempelajari berbagai perkembangan penting yang membentuk Eropa modern.

Baca Juga: Nuzulul Quran, Ketahui Tiga Tahap Penting Turunnya Alquran, Sejarah hingga Sampai ke Nabi Muhammad SAW

Materi yang dibahas mencakup Reformasi Gereja, ekspansi kolonial Eropa, Revolusi Ilmiah, hingga revolusi politik dan munculnya nasionalisme pada era modern.

Belajar Sejarah Langsung di Situs Bersejarah

Melalui rangkaian kuliah, seminar, diskusi akademik, serta studi lapangan, peserta diajak memahami sejarah tidak hanya melalui teks akademik, tetapi juga melalui pengalaman langsung di berbagai situs bersejarah.

Selama mengikuti program tersebut, Athaya mengikuti perkuliahan yang dipandu oleh para pengajar dari Utrecht University. 

Baca Juga: Viral Driver Online Tunjukkan BHR Rp1,6 Juta, Netizen Langsung Ramai!

Selain kegiatan akademik di kelas, peserta juga melakukan kunjungan ke sejumlah museum dan situs sejarah di kota Utrecht dan Amsterdam.

Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain kawasan bersejarah Utrecht, museum nasional Belanda, serta berbagai bangunan yang menjadi saksi perkembangan sejarah Eropa.

Menurut Athaya, pengalaman belajar langsung di tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi memberikan perspektif baru dalam memahami peristiwa masa lalu.

Baca Juga: Viral Polisi Cuci Plang 'Jalur Wisata Anyer Ditutup', Netizen Sempat Panik dan Bikin Salah Paham

“Belajar sejarah di tempat yang benar-benar menjadi bagian dari peristiwa sejarah membuat saya melihat bahwa sejarah tidak hanya ada di buku. Ia hadir dalam ruang kota, bangunan, dan artefak yang masih dapat kita lihat hingga sekarang,” ujarnya.

Rencana Platform Novel Fiksi Historis Gratis

Pengalaman tersebut mendorong Athaya untuk mengembangkan gagasan baru dalam menyebarkan kesadaran sejarah kepada masyarakat. 

Baca Juga: Dedikasi 30 Kader Posyandu dan Dukungan AHM Perkuat Transformasi Layanan Kesehatan Desa di Bekasi

Ia berencana merilis sebuah platform literasi digital yang berisi novel fiksi historis yang dapat diakses secara gratis oleh publik.

Platform tersebut dirancang sebagai ruang literasi yang menggabungkan unsur cerita fiksi dengan riset sejarah. 

Melalui pendekatan ini, Athaya berharap pembaca dapat memahami konteks sejarah melalui narasi yang lebih dekat dengan pengalaman membaca masyarakat umum.

Baca Juga: Beasiswa Hafidz Alquran 30 Juz UMP 2026 Dibuka, Kuliah Gratis dan Dapat Uang Saku

Novel-novel yang akan dimuat dalam platform tersebut akan ditulis langsung oleh Athaya dengan latar berbagai periode sejarah. Meskipun berbentuk fiksi, setiap cerita akan tetap mengacu pada fakta sejarah, konteks sosial, serta situasi politik yang relevan dengan periode yang diangkat.

Dengan demikian, cerita tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi yang mendorong pembaca untuk memahami sejarah secara lebih luas.

Inisiatif ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh United Nations, khususnya SDG 4: Quality Education yang menekankan pentingnya akses terhadap pendidikan berkualitas serta peningkatan literasi masyarakat.

Baca Juga: Nama Alumni LPDP Masih Jadi Sorotan Publik, Beberkan Pengabdian untuk Indonesia, Sebut Hal Ini Jadi Kritik buat Pemerintah

Melalui platform digital yang dapat diakses secara gratis, Athaya berharap masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan sejarah melalui media yang menarik dan mudah dijangkau.

Melalui rencana platform fiksi historis tersebut, Athaya ingin menghadirkan sejarah sebagai sesuatu yang hidup, relevan, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. 

Baca Juga: Banyak Guru Mendadak Terima Transfer Sertifikasi, Ternyata Ini Pencairan TPG Januari–Februari 2026 yang Baru Masuk Rekening

Dengan memadukan penelitian sejarah dan kekuatan narasi, ia berupaya menghadirkan cara baru dalam memahami masa lalu sekaligus menumbuhkan kesadaran sejarah di tengah masyarakat.

“Inspirasi terbesar dari program ini adalah menyadari bahwa sejarah selalu hidup dalam cerita manusia. 

Baca Juga: Ceramah di Lapas Viral, Syahrul Yasin Limpo Sebut Kontribusi Saya Rp2 Ribu Triliun, yang Dimasalahin Rp44 Miliar

Jika kita bisa membuat orang tertarik pada sejarah melalui cerita, maka kita sudah membuka pintu bagi pemahaman yang lebih luas tentang masa lalu,” pungkasnya. ***