POJOKSATU.ID - Kasus viral seorang pensiunan guru yang harus bertahan hidup dengan memulung sampah kembali mengguncang nurani publik.

Sosok yang seharusnya menikmati masa tua dengan tenang setelah puluhan tahun mengabdi mencerdaskan bangsa, justru terlihat mengais barang bekas demi menyambung hidup.

Pertanyaannya, mengapa hal seperti ini masih bisa terjadi di Indonesia?

Video dan foto sang pensiunan guru beredar luas di media sosial.

Baca Juga: Daftar 84 Daerah yang Belum Cairkan THR TPG 100 Persen dan Gaji 13 Tahun 2025!

Warganet pun bereaksi keras.

Banyak yang mempertanyakan fungsi negara, sistem pensiun, hingga perhatian pemerintah terhadap para tenaga pendidik yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan generasi bangsa.

Pengabdian Panjang, Kesejahteraan Minim

Guru merupakan salah satu profesi dengan peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun realitas di lapangan menunjukkan tidak semua guru menikmati jaminan kesejahteraan yang layak di masa pensiun.

Baca Juga: Resmi dari Kemendikdasmen! Ini Info Terbaru Terkait dengan Pelaksanaan CPNS Guru

Terutama bagi guru honorer atau guru yang diangkat pada masa transisi sistem kepegawaian.

Banyak guru di masa lalu tidak terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) penuh, sehingga tidak mendapatkan hak pensiun sebagaimana mestinya.

Akibatnya, saat usia tidak lagi produktif, mereka harus mengandalkan pekerjaan informal demi bertahan hidup.

Sistem Pensiun yang Belum Inklusif

Kasus pensiunan guru hidup dari memulung ini membuka kembali persoalan klasik sistem jaminan sosial dan pensiun yang belum sepenuhnya inklusif.

Program pensiun di Indonesia masih sangat bergantung pada status kepegawaian.

Mereka yang berada di luar skema formal sering kali luput dari perlindungan negara.

Selain itu, minimnya literasi keuangan sejak dini juga menjadi faktor.

Baca Juga: Sjafrie Sjamsoeddin Masuk Bursa Pilpres 2029, Prabowo Perlu Waspada SBY Jilid II

Banyak tenaga pendidik generasi lama yang tidak memiliki tabungan pensiun, asuransi, atau investasi jangka panjang karena keterbatasan penghasilan saat masih aktif mengajar.

Faktor Ekonomi dan Biaya Hidup

Lonjakan biaya hidup, terutama di wilayah perkotaan, semakin memperparah kondisi para lansia tanpa penghasilan tetap.

Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, hingga tempat tinggal membuat uang pensiun jika ada tidak lagi mencukupi.

Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan memulung dianggap sebagai pilihan paling realistis karena tidak membutuhkan modal dan bisa dilakukan meski usia telah lanjut.

Baca Juga: Ngawur! Saat Puluhan Kasus Keracunan Dianggap Kabar Baik, Kepala BGN Sebut MBG Januari 2026 Membaik

Reaksi Publik dan Tanggung Jawab Negara

Viralnya kasus ini memicu gelombang solidaritas masyarakat.

Banyak pihak menggalang bantuan, donasi, hingga mendesak pemerintah daerah untuk turun tangan.

Namun bantuan sesaat tidak menyelesaikan akar masalah.

Negara dinilai perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesejahteraan guru, termasuk pendataan ulang guru pensiunan yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Program bantuan sosial dan jaminan hari tua seharusnya lebih adaptif dan tepat sasaran.

Cermin Buram Dunia Pendidikan

Kasus pensiunan guru menjadi pemulung bukan sekadar cerita viral, melainkan cermin buram dunia pendidikan Indonesia.

Jika mereka yang berjasa besar saja bisa terabaikan, bagaimana nasib generasi pendidik berikutnya?

Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem, bukan hanya mengundang empati sesaat.

Kesejahteraan guru bukan hadiah, melainkan hak yang wajib dijamin negara.***