POJOKSATU.id - Komitmen pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan terjangkau bagi seluruh anak Indonesia terus diperkuat. 

Setelah merealisasikan pengoperasian Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, pemerintah kini tengah menggodok pendirian Sekolah Terintegrasi sebagai penguatan ekosistem pendidikan nasional.

Konsep Sekolah Terintegrasi dimatangkan dalam Rapat Tingkat Menteri yang digelar pada Kamis, 29 Januari 2026, dan dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.

Baca Juga: Tol Ciawi–Sukabumi Seksi 3 Sudah 71,95 Persen, Bisa Dipakai Saat Mudik Lebaran?

Dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, Pratikno menyebut Sekolah Terintegrasi dirancang sebagai solusi strategis atas dua persoalan mendasar pendidikan nasional, yakni ketimpangan mutu antarwilayah dan rendahnya capaian kualitas sekolah di banyak daerah.

“Sekolah Terintegrasi dirancang sebagai instrumen pemerataan akses pendidikan berkualitas. Ini bukan sekadar pembangunan fisik sekolah, tetapi transformasi tata kelola pendidikan agar setiap anak, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu,” ujar Pratikno.

Sekolah Gratis di Setiap Kecamatan

Menurut Pratikno, Sekolah Terintegrasi direncanakan hadir di setiap kecamatan, bersifat inklusif, serta bebas dari pungutan biaya. 

Baca Juga: PBI BPJS Dinonaktifkan, Disuruh Jadi Mandiri Padahal Tak Mampu? Ini Solusi Resminya

Konsep ini disiapkan untuk menjangkau anak-anak usia sekolah secara lebih luas dan merata.

Sekolah Terintegrasi akan menyediakan jenjang pendidikan lengkap dalam satu sistem, meliputi:

  • Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

  • Sekolah Dasar (SD)

  • Sekolah Menengah Pertama (SMP)

  • Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan (SMA/SMK)

Seluruh jenjang tersebut dikelola dalam satu tata kelola pendidikan yang berkelanjutan. 

Baca Juga: BRIN dan UGM Bahas Perlindungan Kekayaan Intelektual Biodiversitas Indonesia

Dengan sistem ini, peserta didik diharapkan mendapatkan layanan pendidikan yang utuh, terarah, dan konsisten sejak usia dini hingga pendidikan menengah.

Sekolah Terintegrasi juga akan didukung sarana dan prasarana modern, serta kurikulum holistik yang mengombinasikan kurikulum nasional dengan pengayaan global.

Sasaran Inklusif dan Dorong Mobilitas Sosial

Pratikno menjelaskan, sasaran utama Sekolah Terintegrasi bersifat inklusif dengan fokus pada peserta didik dari keluarga desil menengah. 

Namun demikian, peluang tetap terbuka bagi anak-anak dari kelompok rentan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh program pendidikan lainnya.

Baca Juga: Berapa Jumlah Rumah Sakit di Indonesia 2026? Data Terbaru Ungkap Sebarannya

Sekolah Terintegrasi diharapkan mampu menjembatani kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah, sekaligus mendorong mobilitas sosial melalui pendidikan.

“Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan. 

Pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa, dan Sekolah Terintegrasi menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan berkeadilan,” tegas Pratikno.

Tiga Target Besar Sekolah Terintegrasi

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti menambahkan, Sekolah Terintegrasi memiliki tiga target utama, yakni:

  • Transformasi infrastruktur pendidikan

  • Transformasi sumber daya manusia

  • Transformasi pembelajaran berkelanjutan

Baca Juga: SMKN 3 Bandung Kembangkan Konsep DELTA 3, Siapkan Siswa Jadi Digipreneur Berdaya Saing Global

Transformasi pembelajaran ini dirancang untuk mendukung proses transisi anak yang lebih baik, dengan kurikulum kombinasi nasional dan internasional, tanpa mengabaikan kearifan lokal.

“Sekolah Terintegrasi diharapkan dapat menjadi motor penggerak di level kecamatan,” kata Abdul Muti.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, Sekolah Terintegrasi juga akan dirancang terhubung dengan fasilitas vokasi dan pelatihan sesuai karakter wilayah.

“Jika berada di wilayah pesisir, maka akan terintegrasi dengan vokasi perikanan. Di wilayah daratan, akan terintegrasi dengan vokasi pertanian, peternakan, maupun perkebunan. 

Dengan cara ini, lulusannya dapat terserap dan sesuai dengan kebutuhan riil dunia kerja,” jelas Prasetyo.

Baca Juga: Tak Mampu Qadha Tapi Masih Punya Hutang Puasa Jelang Ramadhan 2026? Ini Solusinya Sesuai Syariat

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Sudah Berjalan

Sebelum Sekolah Terintegrasi digagas, pemerintah telah lebih dulu merealisasikan pendirian Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2, atau kelompok miskin dan miskin ekstrem.

Prasetyo Hadi menyebutkan, hingga saat ini terdapat:

  • 166 Sekolah Rakyat

  • Tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota

  • Menampung 15.954 siswa

  • Didukung 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan

“Sekolah rakyat untuk desil 1 dan desil 2 kita adakan, kita bangun,” ujarnya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, Jawa Timur, pada 13 Januari 2026.

Baca Juga: Bukan Korporasi Besar! UMKM Ternyata Menyumbang Lebih dari 60 Persen PDB Indonesia

Selain itu, pemerintah juga menggagas program Sekolah Garuda yang terdiri dari dua skema utama, yaitu:

  • Sekolah Garuda Baru, yang dibangun dari nol di wilayah dengan akses pendidikan terbatas

  • Sekolah Garuda Transformasi, dengan pengembangan SMA atau MA yang sudah ada untuk memperkuat potensi unggul siswanya agar mampu menembus kampus terbaik dunia

Hingga 2029, pemerintah menargetkan pembangunan 20 Sekolah Garuda Baru. Pada 2025, empat sekolah mulai dibangun dan ditargetkan beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027.

Selain itu, ditargetkan terbentuk 80 Sekolah Garuda Transformasi hingga 2029.

Baca Juga: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Lebih Berbahaya dari Gerhana Total, Ini Alasan Ilmiahnya

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan, Sekolah Garuda akan hadir di setiap kabupaten.

Sekolah Garuda disebutkan berdiri di atas tiga pilar utama, yakni penyeimbang akses bagi seluruh anak bangsa agar dapat berprestasi, inkubator pemimpin untuk menyiapkan generasi emas Indonesia 2045.

"Terutama di bidang sains dan teknologi, serta pendidikan berkualitas yang menyatu dengan pengabdian masyarakat,” ujarnya. ***