POJOKSATU.id – Lonjakan peserta Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI/sederajat bukan sekadar soal angka.

Hingga 4 Februari 2026, tercatat 8.847.501 murid telah terdaftar, hanya dua pekan sejak pendaftaran dibuka.

Jumlah ini menjadi rekor baru dan sekaligus memberi pemerintah cermin besar tentang kondisi riil pendidikan dasar di Indonesia.

Baca Juga: Eks Hakim MK Ungkap Fakta Mengejutkan: Putusan Usia Capres Jadi Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa mekanisme pendaftaran TKA tahun ini mengalami perubahan signifikan.

Seluruh murid didaftarkan lebih dulu oleh sekolah, kemudian diberikan pilihan untuk mengikuti tes atau tidak.

“Dengan sistem ini, semua murid tercatat dalam basis data nasional. Akurasinya lebih terjaga, sekaligus memberi ruang kebebasan bagi siswa dan orang tua,” ujar Toni.

Baca Juga: Gaji Perdana PPPK Paruh Waktu Ngajuk Resmi Cair! Segini Nominalnya

Pendaftaran TKA masih dibuka hingga 28 Februari 2026, sehingga jumlah peserta diperkirakan terus bertambah.

Bukan Penentu Lulus, Tapi Peta Kemampuan
Toni menegaskan, TKA tidak menentukan kelulusan siswa. Tes ini berfungsi sebagai alat evaluasi capaian akademik dan pemetaan kemampuan belajar murid secara nasional.

Data tersebut akan menjadi salah satu rujukan penting dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.

Baca Juga: Geger! Nama Sri Mulyani Ikut Nongol di Epstein Files, Ternyata Begini Asal-usulnya

“Yang ingin kita lihat adalah potret kemampuan siswa, bukan memberi label lulus atau tidak lulus,” kata Toni.

Belajar dari Data SMA dan SMK
Pemetaan kemampuan melalui TKA bukan hal baru. Pada pelaksanaan TKA jenjang SMA/SMK tahun sebelumnya, pemerintah menemukan kontras yang cukup tajam.

Dari sekitar 3,4 juta peserta, kemampuan literasi dan karakter sosial siswa dinilai cukup kuat.

Namun, hasil berbeda terlihat pada numerasi dan bidang STEM. Rata-rata nilai Matematika nasional hanya 36,10, angka yang masih jauh dari target penguasaan kompetensi.

Baca Juga: Tak Mau PBI Dicabut dan Bisa Tetap Berobat dengan BPJS? Ini Cara Resmi Agar Tetap Aktif Menurut SK Mensos 3/HUK/2026

Sebaliknya, mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, PPKn, Antropologi, dan Geografi menunjukkan capaian yang lebih baik.

Data inilah yang kini ingin diperoleh lebih awal dari jenjang SD, agar intervensi pembelajaran bisa dilakukan sejak dini.

Sinyal Kuat Perhatian Publik
Tingginya partisipasi TKA SD juga dibaca sebagai sinyal meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas pendidikan.

Baca Juga: SPKLU Meledak! Stasiun Cas Mobil Listrik Tumbuh 44 Persen, Tambah 1.422 Unit hingga 2026

Sekolah, orang tua, dan siswa dinilai semakin sadar pentingnya asesmen sebagai dasar perbaikan pembelajaran, bukan sekadar ujian formal.

Pemerintah berharap, melalui data TKA yang masif dan terukur, kebijakan pendidikan ke depan bisa lebih tepat sasaran.

Fokusnya tidak hanya pada capaian angka, tetapi pada upaya menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global. ***