POJOKSATU.id - Di tengah arus globalisasi dan meningkatnya keberagaman budaya di ruang kelas, guru dituntut bergerak lebih adaptif.
Ya, guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus memiliki kompetensi global untuk membimbing generasi masa depan sebagai warga dunia.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya Program Pertukaran Guru Asia-Pasifik untuk Pendidikan Global.
Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya target 4.7 dan 4.c, yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan penguatan peran guru.
Apa Itu Program Pertukaran Guru Indonesia–Korea?
Program ini merupakan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Republik Korea yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Korea Selatan melalui APCEIU (Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding) di bawah UNESCO, bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Di Indonesia, program ini dikenal sebagai Indonesian–Korean Teacher Exchange (IKTE) dan telah berlangsung sejak tahun 2013.
Tujuannya sederhana tapi berdampak besar, yakni membuka ruang belajar lintas budaya bagi para guru.
Baca Juga: Ada Tenaga Baru di Kejari Purwakarta, Siap Tuntaskan Kasus Mangkrak Rezim Sebelumnya
Tujuan Utama Program
- Melalui pertukaran ini, guru diharapkan mampu:
- Mempelajari sistem pendidikan negara mitra
- Meningkatkan kompetensi global
- Mengasah komunikasi antarbudaya dalam proses mengajar
- Berbagi praktik pedagogis secara langsung
- Memperkuat jejaring pendidikan di kawasan Asia-Pasifik
Baca Juga: Insinerator Disegel Total, Ritase Sampah Bandung ke Sarimukti Berpotensi Dikurangi 20 Persen
Skema dan Durasi Program
Program ini dirancang timbal balik. Guru Korea akan mengajar di Indonesia selama sekitar 6 bulan, termasuk pelatihan adaptasi lokal.
Sementara guru Indonesia akan menjalani program di Korea Selatan selama 3 bulan, termasuk pelatihan awal dan penyesuaian budaya.
Untuk tahun 2026, program ini direncanakan berlangsung pada Agustus hingga November.
Selama periode tersebut, peserta akan ditempatkan di sekolah penempatan (host school) sesuai kebutuhan dan ketersediaan jenjang.
Baca Juga: Kemendikdasmen Perkuat Manajemen Talenta Murid lewat Permendikdasmen 2025
Pengalaman Mengajar di Lingkungan Internasional
Bagi guru Indonesia, program ini menjadi kesempatan emas untuk memahami langsung sistem pendidikan Korea Selatan.
Guru akan mengajar siswa dari latar budaya berbeda, membandingkan kurikulum, sekaligus melatih fleksibilitas dan kreativitas mengajar di kelas internasional.
Bahasa pengantar utama adalah Bahasa Inggris. Meski penguasaan Bahasa Korea tidak wajib, kemampuan dasar akan sangat membantu, terutama bagi guru SD yang siswanya belum sepenuhnya fasih berbahasa Inggris.
Misi Budaya dan Global Citizenship
Tak sekadar mengajar, peserta juga membawa misi budaya. Guru Indonesia didorong memperkenalkan batik, tarian tradisional, makanan khas, rumah adat, hingga permainan tradisional kepada siswa Korea.
Lewat interaksi ini, nilai toleransi, keberagaman, dan global citizenship ditanamkan secara nyata.
Bukan lewat teori, melainkan pengalaman langsung di ruang kelas.
Di balik semua itu, ada proses pembentukan pribadi yang lebih matang.
Guru pulang dengan perspektif baru, jejaring internasional, dan pengalaman hidup yang tak ternilai, yang kelak dibagikan kembali kepada siswa di tanah air. ***




