POJOKSATU.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil memperoleh pendanaan riset inovasi kelapa sawit senilai lebih dari Rp10 miliar.
Dana tersebut diraih dalam ajang Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit.
Total pendanaan tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan lima teknologi strategis yang dinilai siap mendorong transformasi industri kelapa sawit nasional menuju arah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Hari ke-11 Pencarian Longsor KBB, Tim SAR Temukan Dua Kantong Jenazah
Seluruh inovasi ini dirancang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aplikatif untuk kebutuhan industri dan perkebunan rakyat.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC.
Teknologi ini digarap oleh tim peneliti yang dipimpin Dr Lila Yuwana dari Departemen Fisika ITS.
Gerobak ini dirancang khusus untuk membantu proses pengangkutan tandan buah segar (TBS) di medan ekstrem perkebunan sawit rakyat.
Dengan sistem roda rantai dan sumber tenaga listrik yang ramah lingkungan, gerobak crawler ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas petani sekaligus menekan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas perkebunan.
Desainnya memungkinkan alat bekerja di lahan berlumpur dan tidak rata, yang selama ini menjadi tantangan utama di perkebunan rakyat.
Menurut Lila, inovasi ini dikembangkan untuk mengurangi beban kerja fisik petani yang selama ini sangat berat, sekaligus menjawab tuntutan keberlanjutan lingkungan.
“Harapannya, produktivitas perkebunan sawit bisa lebih meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan nantinya,” papar Lila.
Inovasi strategis berikutnya datang dari Moch Solichin PhD dari Departemen Teknik Mesin ITS.
Ia mengembangkan penerapan Digital Twin multifungsi yang memungkinkan pemantauan tingkat kematangan buah sawit serta kinerja mesin secara real-time.
Baca Juga: Intensif Kader Posyandu Program Makan Bergizi Gratis 2026, Segini Perkiraan Nominalnya
Teknologi Digital Twin ini memungkinkan pelaku industri melakukan deteksi dini terhadap kondisi operasional di lapangan.
Dengan data aktual yang diperoleh secara terus-menerus, proses produksi dapat dikelola dengan lebih efisien dan andal, baik dalam penentuan waktu panen maupun perawatan mesin.
“Dengan Digital Twin, pelaku industri dapat mengambil keputusan berbasis data aktual, baik untuk menentukan waktu panen maupun perawatan mesin, sehingga efisiensi dan keandalan produksi dapat ditingkatkan,” jelas Solichin.
Sementara itu, inovasi di bidang pemetaan dan prediksi produksi dikembangkan oleh Hepi Hapsari PhD dari Departemen Teknik Geomatika bersama Dr Kelly Rossa dari Departemen Teknik Informatika ITS.
Keduanya mengembangkan sistem estimasi produksi kelapa sawit berbasis teknologi udara dan data sensor.
Sistem ini memanfaatkan drone multispektral, sensor Volatile Organic Compound (VOC), serta citra satelit untuk memetakan kesehatan tanaman dan memperkirakan potensi panen secara akurat.
Teknologi ini memungkinkan pemantauan kebun dari udara sehingga perencanaan panen dapat dilakukan lebih presisi dan efisien, sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.
“Teknologi ini memungkinkan prediksi produksi yang lebih presisi dari udara, sehingga dapat membantu perencanaan panen dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ungkap Hepi.
Baca Juga: Bidan Desa Datangi Rumah Warga Bawa Surat Kepala Desa, Fokus Program Stunting dan Pendataan
Dari sisi keselamatan kerja, ITS menghadirkan inovasi ARECAVERSE, sebuah platform safety metaverse yang dipimpin oleh Dr Adithya Sudiarno dari Departemen Teknik Sistem dan Industri.
ARECAVERSE dirancang sebagai sarana pelatihan keselamatan kerja berbasis virtual untuk sektor perkebunan sawit.
Melalui simulasi virtual yang realistis, pekerja dapat dilatih menghadapi berbagai risiko kerja tanpa harus terpapar bahaya secara langsung.
Inovasi ini diharapkan mampu menekan angka kecelakaan kerja di perkebunan sawit, sekaligus mendukung pemenuhan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
“Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan,” tuturnya.
Adapun pada ranah tata kelola dan lingkungan, Endah Rokhmati PhD dari Departemen Matematika ITS mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Sawit berbasis data.
Baca Juga: Siap-Siap Lansia dan Penyandang Disabilitas Kebagian MBG! Gus Ipul Sudah Siapkan Rencananya
Sistem ini dirancang untuk mendukung perhitungan kredit karbon serta premi asuransi di sektor perkebunan sawit.
Melalui sistem ini, pengelolaan data sawit diharapkan menjadi lebih transparan dan akuntabel.
Selain itu, sistem tersebut juga membuka peluang insentif ekonomi baru melalui skema kredit karbon, sekaligus meningkatkan daya saing industri sawit Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Bidan Desa Datangi Rumah Warga Bawa Surat Tugas Puskesmas, Ini Tujuan Pemeriksaannya
“Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sawit, sekaligus membuka peluang insentif ekonomi melalui kredit karbon,” jelas Endah.
Direktur Utama BPDP Sawit, Eddy Abdurrachman, mengapresiasi capaian ITS yang dinilai berhasil membawa riset hingga tahap penerapan industri.
Baca Juga: Bidan Desa Datangi Rumah Warga Bawa Surat Tugas Puskesmas, Ini Tujuan Pemeriksaannya
Ia mengungkapkan bahwa tiga peneliti ITS berhasil masuk dalam daftar 20 riset tahap pilot atau komersial, yang menandakan kesiapan inovasi ITS untuk diimplementasikan di sektor industri sawit nasional.
Ketiga inovasi ITS yang dinyatakan siap komersial tersebut meliputi Gerobak Elektrik yang dikembangkan oleh Dr Lila Yuwana, Egrek Digital karya Dr Erwin Widodo, serta Drone Penyerbukan yang dikembangkan oleh Prof Nur Cahyadi.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany PhD, menyampaikan bahwa keberhasilan memperoleh pendanaan ini tidak lepas dari strategi pendampingan intensif serta fokus ITS pada hilirisasi riset sejak tahap awal.
Baca Juga: Kabar Baik! Bansos Cair 18 Februari 2026 Jelang Puasa, Warga Bisa Munggahan Lebih Tenang
Ia menegaskan bahwa riset di ITS diarahkan untuk memberikan dampak nyata.
“Kami memastikan sejak awal bahwa riset tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap dikomersialisasikan dan memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” tegasnya.
Melalui berbagai inovasi tersebut, ITS menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan riset berdampak yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga: Duel Atap Seng vs Genteng Mengemuka, Ini Alasan Prabowo Dorong Gerakan Gentengisasi Nasional
Kontribusi tersebut mencakup SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim. ***




