POJOKSATU.id — Perdebatan soal material atap rumah kembali mencuat ke permukaan setelah Presiden Prabowo Subianto menyerukan gerakan Gentengisasi.

Yakni program nasional untuk mulai meninggalkan atap seng dan beralih ke genteng tanah liat.

Pernyataan Prabowo itu disampaikan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, ketika ia menegaskan bahwa Indonesia “tak mungkin indah jika atap rumahnya masih didominasi seng.”

Baca Juga: Bulog Ekspansi Global 2026, Bukan Cuma Urus Beras, Sektor Haji, Umrah, hingga Perdagangan Internasional Disasar

Seruan tersebut langsung mengundang perhatian publik, terutama setelah berbagai data konstruksi mengungkap perbedaan signifikan antara atap seng dan genteng.

Berdasarkan laporan Detik Properti, seng memang unggul dalam hal kepraktisan lebih ringan, murah, dan cepat dipasang.

Inilah alasan banyak kawasan padat penduduk masih mengandalkan material ini. Pemasangan seng juga dinilai efisien dalam proyek jangka pendek.

Baca Juga: Banyak Guru Panik SKTP Februari 2026 Belum Muncul, Ini Mekanisme SKTP Bulanan dan Cara Membaca Status Valid di Info GTK

Namun kelebihan tersebut datang dengan sejumlah kekurangan yang tidak dapat diabaikan.

Seng menghantarkan panas tinggi dan membuat suhu dalam rumah meningkat, terutama pada musim kemarau.

Selain itu, suara hujan di atap seng jauh lebih bising, mengurangi kenyamanan penghuni.

Baca Juga: Bulog Ekspansi Global 2026, Bukan Cuma Urus Beras, Sektor Haji, Umrah, hingga Perdagangan Internasional Disasar

Seng juga mudah berkarat di iklim tropis Indonesia sehingga memerlukan perawatan lebih banyak.

Sebaliknya, genteng tanah liat yang menjadi fokus program Gentengisasi memiliki daya redam panas yang jauh lebih baik, membuat suhu rumah lebih stabil dan sejuk.

Genteng juga lebih kedap suara dan memberikan tampilan visual yang lebih estetis.

Media kredibel mencatat bahwa genteng mampu bertahan puluhan tahun jika dirawat dengan benar.

Meski pemasangannya membutuhkan rangka yang lebih kuat serta biaya awal lebih besar.

Dorongan Prabowo untuk memperbaiki kualitas hunian sejalan dengan kekhawatiran sejumlah pejabat terkait kondisi perumahan rakyat selama ini.

Baca Juga: Bulog Ekspansi Global 2026, Bukan Cuma Urus Beras, Sektor Haji, Umrah, hingga Perdagangan Internasional Disasar

Isu ini kemudian selaras dengan gagasan Gentengisasi yang menyoroti kenyamanan dan keindahan lingkungan permukiman.

Dengan fakta material yang kini semakin banyak dipublikasikan media, program Gentengisasi menimbulkan pertanyaan besar

Apakah Indonesia benar-benar siap menstandardisasi genteng sebagai atap nasional?

Baca Juga: Bulog Ekspansi Global 2026, Bukan Cuma Urus Beras, Sektor Haji, Umrah, hingga Perdagangan Internasional Disasar

Pemerintah berjanji melakukan kajian bertahap, sembari mengajak industri dan koperasi lokal untuk terlibat dalam produksi genteng tanah liat.***