POJOKSATU.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi pangan nonberas. 

Salah satu upaya konkret tersebut diwujudkan lewat Pelatihan Alih Teknologi Mi Bebas Gluten Berbasis Sorgum yang digelar di Kawasan Sains Muhammadi Siswosudarmo, Subang, Senin (19/1).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) di bawah Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM). 

Baca Juga: Bank Mandiri Perkuat UMKM dan Ekonomi Desa Lewat Pembiayaan hingga Digitalisasi

Pelatihan melibatkan kolaborasi lintas pusat riset, yakni PR Teknologi Proses, PR Teknologi Manufaktur Peralatan, dan PR Kimia Molekuler. BRIN juga menggandeng mitra industri, PT Sedana Panen Sejahtera, serta startup binaan BRIN, PT Noang Prima Utama.

Kepala PRTP, Hens Saputra, menegaskan bahwa ketahanan dan kedaulatan pangan nasional tidak bisa hanya bergantung pada beras dan jagung. 

Menurutnya, Indonesia membutuhkan sumber pangan alternatif yang sesuai dengan kondisi alam dan kebutuhan masyarakat, salah satunya sorgum.

Baca Juga: Longsor Besar Cisaruan Bandung Barat Sabtu Dinihari, 89 Warga Diduga Tertimbun Bersama 20 Rumah

“Sorgum memang belum terlalu dikenal masyarakat luas, namun sangat cocok dibudidayakan di Indonesia dan kaya serat. Tanaman ini juga relatif tahan terhadap cuaca ekstrem,” ucap Hens.

Ia menyoroti tingginya konsumsi terigu di Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor. 

Di sisi lain, gandum tidak dapat tumbuh optimal di dalam negeri, sementara permintaan terhadap produk roti dan mi terus meningkat. 

Baca Juga: FANTASTIS! Anggaran Rp90 Miliar Disiapkan untuk Gaji PPPK Paruh Waktu Maluku

Kondisi ini membuka peluang besar pengembangan mi nonterigu berbasis sorgum sebagai pangan alternatif yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Hens juga mengapresiasi PT Sedana Panen Sejahtera atas komitmennya mengembangkan teknologi ekstrusi mi sorgum. 

Kerja sama dengan BRIN telah terjalin sejak 2023 dan berlanjut pada 2025 melalui pengembangan formulasi spageti berbasis sorgum. 

Baca Juga: Banyak Guru Alami Dua Hijau Satu Abu-Abu! Ini Dampaknya ke TPG Januari dan Peluang Rapel Bulan Berikutnya

Selain itu, PT Noang Prima Utama turut diapresiasi sebagai penerima lisensi proses produksi mi sorgum sejak 2021.

Ke depan, BRIN berharap pengembangan produk berbasis sorgum tidak berhenti pada mi semata. 

Hens menyebut sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara terintegrasi, mulai dari pangan, pakan ternak, hingga energi terbarukan seperti etanol dan biomassa.

Baca Juga: Masa Depan Guru ASN di Persimpangan, Menakar Skema PPPK Paruh Waktu Dalam Pendidikan

“Keberadaan industri mi sorgum diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri kecil dan menengah, membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, serta menarik keterlibatan mitra, termasuk dari luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan PT Sedana Panen Sejahtera, Lisan Suryana Putra, mengungkapkan bahwa dukungan BRIN sangat membantu perusahaan dalam menjawab tantangan pengolahan sorgum. 

Ia menyebut produk spageti sorgum yang dikembangkan telah dipasarkan dan mendapat respons positif dari konsumen.

Baca Juga: Gratis Saat Lebaran! Jasa Marga Pastikan Tol Japek II Selatan Dibuka Fungsional 2026 agar Arus Mudik Lancar!

“Produk spageti sorgum telah kami coba pasarkan dan mendapat respons positif karena rasanya mirip spageti gandum,” kata Lisan.

Saat ini, PT Sedana telah mengembangkan berbagai produk olahan sorgum, seperti gula, kecap, dan tepung. 

Tidak hanya di sektor pangan, perusahaan juga mengembangkan peternakan sapi dan kambing, menjalin kerja sama dengan Pertamina, hingga mengolah sorgum sebagai bahan baku produk perawatan kulit berupa face mist.

Baca Juga: Bukan Menolak MBG, PPPK Paruh Waktu dan Honorer Hanya Minta Presiden Bersikap Adil Terkait Pengangkatan ASN

Menurut Lisan, penerapan teknologi ekstrusi mampu menghasilkan mi sorgum bebas gluten yang mengenyangkan, kaya serat, dan baik bagi kesehatan. 

Ia berharap inovasi ini dapat memperluas pemanfaatan sorgum sebagai komoditas unggulan nasional, baik untuk pangan maupun nonpangan. ***