POJOKSATU.id - Dua mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, menghadirkan inovasi energi alternatif berupa bio-briket dari limbah organik.
Bahan bakunya sederhana, namun melimpah di sekitar kampus, mulai dari daun kering hingga serabut kelapa.
Bio-briket ini dirancang sebagai sumber energi yang efisien, rendah asap, serta sepenuhnya dapat terurai secara alami.
Menariknya, inovasi tersebut tidak hanya menekan limbah, tetapi juga menawarkan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Kunci utama bio-briket ini terletak pada formulasi bahannya. Arsyad menjelaskan, daun kering memiliki karakter mudah menyala, sementara serabut kelapa kaya lignin sehingga mampu mempertahankan panas lebih lama.
“Kami menggabungkan dua bahan dengan karakter berbeda agar briket lebih efisien,” kata Arsyad.
Baca Juga: Segini Rincian Komponen THR PPPK Pusat dan Daerah 2026 yang Berbeda dan Resmi Ditetapkan
Sebagai perekat, tim menggunakan pati tapioka alami sehingga produk tetap 100 persen ramah lingkungan.
Daun kering dikumpulkan dari kawasan Kampus ITB Jatinangor, sedangkan serabut kelapa berasal dari limbah rumah tangga sekitar.
Proses pembuatannya pun relatif sederhana. Limbah organik dikeringkan terlebih dahulu, lalu dikarbonisasi menggunakan kaleng tertutup.
Baca Juga: Bansos Tahap Pertama bagi Korban Bencana Sumatera Disalurkan Rp 600 Miliar Akhir Bulan Ini
Setelah menjadi arang, bahan dihaluskan, dicampur dengan perekat tapioka, dicetak manual, dan dikeringkan kembali selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari.
Dari segi performa, bio-briket ini memiliki sejumlah keunggulan.
Briket mudah menyala berkat kandungan volatil daun kering, durasi bakarnya lebih lama karena struktur arang serabut kelapa, serta menghasilkan asap dan bau yang jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran limbah secara langsung.
Baca Juga: Ingin Pernikahan Beda Agama Dicatat Negara, Seorang Pria Gugat UU Adminduk ke Mahkamah Konstitusi
Abu sisa pembakaran pun masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Inovasi ini dipamerkan dalam ajang “ALICE: Abyanara's Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”, pameran karya mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi angkatan 2024.
Ajang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan penerapan nyata ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.
Baca Juga: Harapan Baru! TPP ASN 2026 Masuk Tahap Finalisasi, Kapan Mulai Dibayarkan?
Dari sisi ekonomi, bio-briket ini dinilai cukup potensial. Jika diproduksi secara massal, biaya produksi diperkirakan hanya sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per briket, dengan harga jual Rp1.500 sampai Rp2.000.
“Masih menguntungkan sekaligus membantu pengelolaan limbah,” ungkap tim peneliti.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Konsistensi bahan baku dan proses pengeringan menjadi pekerjaan rumah di tahap awal pengembangan.
Baca Juga: Begini Cara Mudah Mengatur Jam Digital di Panel Meter Honda Scoopy
Ke depan, tim berencana melakukan pengujian nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium, menetapkan standar harga, serta menjalin kerja sama dengan bank sampah dan UMKM lokal. ***




