POJOKSATU.ID - Biaya hidup mahasiswa rantau menjadi isu yang terus mengemuka, terutama di kota-kota pendidikan besar di Indonesia.

Setiap bulan, mahasiswa yang menempuh studi jauh dari kampung halaman harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari tempat tinggal hingga kebutuhan akademik.

Berdasarkan penelusuran di sejumlah kota besar, rata-rata biaya hidup mahasiswa rantau per bulan berada di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp4 juta.

Angka tersebut bervariasi tergantung kota tujuan, gaya hidup, serta fasilitas yang digunakan mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Baca Juga: Niat Cari Pengalaman Malah Dipungut Biaya, DPR Bongkar Masalah di Program Magang Nasional

Komponen terbesar pengeluaran biasanya berasal dari biaya tempat tinggal.

Untuk kos sederhana, mahasiswa rata-rata mengeluarkan Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.

Di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, harga kos dengan fasilitas dasar cenderung berada di batas atas kisaran tersebut.

Selain kos, kebutuhan makan juga menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar.

Baca Juga: SIKS-NG Bansos per 15 Januari hingga Sekarang Masih Final Closing, Data Pusat Ternyata Catat Periode Tahun Lalu

Dengan asumsi makan dua hingga tiga kali sehari, mahasiswa rata-rata menghabiskan Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta per bulan.

Biaya ini bisa meningkat jika harga kebutuhan pokok naik atau mahasiswa tidak memiliki akses memasak sendiri.

Pengeluaran lain yang tak kalah penting adalah transportasi, kebutuhan internet, dan keperluan akademik. Untuk transportasi dan pulsa atau paket data, mahasiswa umumnya mengeluarkan Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

Sementara untuk buku, fotokopi, alat tulis, dan kebutuhan perkuliahan lainnya, biaya tambahan sekitar Rp200 ribu hingga Rp400 ribu juga harus disiapkan.

Jika ditotal, biaya hidup mahasiswa rantau bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mahasiswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.

Tidak sedikit mahasiswa yang harus mencari pekerjaan paruh waktu demi menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga: Keluarga Pramugari Olen Ucapkan Terima Kasih ke SAR, Harap Korban Pesawat ATR Lain Segera Ditemukan

Situasi tersebut memunculkan wacana perlunya beasiswa penunjang biaya hidup, khususnya mulai tahun 2026.

Selama ini, sebagian besar program beasiswa masih berfokus pada bantuan uang kuliah tunggal (UKT) atau biaya pendidikan.

Padahal, biaya hidup menjadi beban terbesar yang dirasakan mahasiswa rantau.

Pengamat pendidikan menilai beasiswa penunjang sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan studi mahasiswa.

Baca Juga: Ratusan Warga Rohingya Demo di Pekanbaru, Tuntut Bantuan Dinaikkan hingga Pendidikan Gratis 2026 yang Diberikan Sebesar 2,3 Juta per Bulan

Tanpa dukungan biaya hidup, risiko mahasiswa putus kuliah dinilai cukup tinggi, terutama di tengah tekanan ekonomi dan inflasi.

“Beasiswa biaya hidup akan sangat membantu mahasiswa agar bisa fokus belajar tanpa harus memikirkan kebutuhan dasar setiap hari,” ujar salah satu pengamat pendidikan tinggi.

Wacana beasiswa penunjang 2026 diharapkan dapat mencakup bantuan rutin bulanan yang disesuaikan dengan indeks biaya hidup di masing-masing daerah.

Skema ini dinilai lebih adil karena mempertimbangkan perbedaan biaya antarwilayah.

Mahasiswa berharap kebijakan tersebut dapat segera direalisasikan.

Dengan adanya beasiswa penunjang, mahasiswa rantau tidak hanya terbantu secara finansial, tetapi juga mendapatkan kepastian untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

Isu biaya hidup mahasiswa rantau kini menjadi perhatian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Dukungan kebijakan yang tepat dinilai akan berkontribusi besar dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan berdaya saing di masa depan.***