POJOKSATU.id - Sebuah unggahan di media sosial yang dibagikan akun bertema sertifikasi guru mendadak menyita perhatian banyak pendidik.
Isinya bukan soal tuntutan kenaikan gaji atau protes kebijakan tertentu, melainkan curahan hati tentang rasa lelah, kecewa, dan kehilangan makna setelah hadirnya program MBG.
Unggahan itu memperlihatkan kegelisahan seorang guru yang telah menempuh pendidikan panjang hingga belasan tahun, namun merasa pengorbanannya tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima.
Baca Juga: Viral Minuman Cafe Pakai Kantong Infus di Bali, Netizen Geger Sebut Takut Tidak untuk Makanan
Perasaan itu muncul ketika ia membandingkan realitas profesinya dengan pekerjaan lain yang kini hadir lewat program MBG.
Curhatan Guru yang Menyentuh Banyak Hati
Dalam unggahan tersebut, sang guru menuliskan bahwa ia menghabiskan waktu panjang untuk kuliah dan menjadi sarjana, lalu bekerja sebagai guru dengan penghasilan yang sangat terbatas.
Sementara di sisi lain, ada pekerjaan baru di program MBG yang dinilai secara ekonomi lebih cepat menghasilkan.
Namun jika dicermati lebih dalam, inti curhatan ini bukanlah kecemburuan semata.
Ada luka psikologis yang muncul karena profesi guru seolah semakin kehilangan posisi terhormatnya di mata kebijakan publik dan masyarakat.
Masalah Utama Bukan Perbandingan Gaji
Banyak diskusi di kolom komentar justru menyoroti satu hal penting: yang dirasakan guru saat ini bukan hanya soal angka rupiah.
Baca Juga: Resmi Berlaku 2026, ASN Pemprov Jabar Terapkan WFH Rutin Setiap Hari Kamis
Yang lebih berat adalah rasa bahwa perjuangan intelektual dan pengabdian jangka panjang tidak lagi terasa bermakna.
Ketika profesi yang tidak menuntut pendidikan panjang tampak lebih menjanjikan secara ekonomi, sebagian guru mulai mempertanyakan nilai dari semua proses yang telah mereka jalani.
Ini adalah krisis makna profesi, bukan sekadar persoalan upah.
Dampak Psikologis yang Jarang Dibahas
Perasaan “sia-sia” yang muncul dalam unggahan tersebut adalah sinyal serius.
Dalam dunia pendidikan, motivasi guru sangat berkaitan dengan kualitas pembelajaran.
Baca Juga: BKN Dorong Pemutakhiran Data ASN Berkelanjutan Demi Wujudkan ASN Unggul
Jika guru merasa tidak dihargai, kelelahan emosional dan kehilangan semangat mengajar bisa menjadi dampak lanjutan.
Ironisnya, isu ini sering luput dari perhatian karena diskursus publik lebih banyak fokus pada angka anggaran, bukan kondisi batin para pendidik yang menjalankan sistem di lapangan.
Perlu Cara Pandang Baru dalam Menghargai Guru
Hadirnya program MBG sejatinya bertujuan baik.
Namun kebijakan publik yang baik tetap perlu disertai komunikasi dan narasi yang adil agar tidak meminggirkan profesi lain, terutama guru.
Pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memastikan bahwa kehadiran program baru tidak secara tidak langsung menciptakan rasa ketidakadilan psikologis.
Penghargaan terhadap guru tidak selalu harus berupa gaji besar, tetapi juga kepastian karier, dukungan profesional, dan pengakuan sosial yang nyata.
Refleksi untuk Guru dan Pengambil Kebijakan
Curhatan ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bagi guru, ini pengingat bahwa nilai profesi tidak semata ditentukan oleh perbandingan ekonomi jangka pendek.
Bagi pengambil kebijakan, ini sinyal bahwa kebijakan pendidikan perlu lebih sensitif terhadap dampak emosional dan sosial.
Jika tidak, rasa syukur yang hilang seperti dituliskan dalam unggahan tersebut bisa menjadi fenomena yang semakin meluas di kalangan pendidik.***




