POJOKSATU.id - Riset terapan kembali mengantarkan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih pengakuan nasional.
Dr. Sri Rahayoe, dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM, sukses menyabet Bronze Winner Anugerah Diktisaintek 2025.
Penghargaan tersebut diraih pada kategori Paten Sederhana yang Telah Digunakan Masyarakat dalam ajang Anugerah Riset dan Pengembangan Hilirisasi Award.
Baca Juga: Jejak Panjang Rieke 'Oneng', Dari Aktivis hingga Penasehat Bupati Bekasi yang Kini Disorot KPK
Capaian ini menegaskan komitmen UGM dalam mendorong riset yang tak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Penghargaan ini berangkat dari riset Sri Rahayoe di bidang teknologi pengolahan pangan, khususnya pengembangan alat dan mesin produksi gula semut dari nira palma untuk skala industri kecil dan menengah.
Yayuk, sapaan akrabnya, menilai proses produksi gula semut selama ini masih banyak bergantung pada cara manual dengan pengendalian proses yang minim.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA di BUMN, PT Pelni Cari Rating Deck dan Rating Mesin, Selambatnya 12 Februari 2026
“Riset yang mengantarkan saya meraih Anugerah Diktisaintek 2025 ini berfokus pada teknologi pengolahan pangan, khususnya alat dan mesin produksi gula semut dari nira palma untuk skala industri kecil dan menengah,” ungkapnya.
Proses pengolahan gula semut sendiri melibatkan tahapan panjang, mulai dari pemasakan nira, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan.
Tahap evaporasi dan kristalisasi menjadi bagian paling krusial karena sangat dipengaruhi kualitas bahan baku dan kestabilan suhu.
Baca Juga: Kenapa Gaji ASN Januari 2026 Belum Cair? Ini Penyebab Paling Umum dan Kapan Biasanya Masuk Rekening
Ketidakterkendalian proses kerap berujung pada mutu produk yang tidak seragam.
“Permasalahan pengolahan gula semut secara konvensional adalah kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi yang sulit dijaga karena proses masih manual dan tidak terukur,” jelas Yayuk.
Berangkat dari persoalan tersebut, ia bersama tim peneliti mengembangkan inovasi berupa prototipe mesin evaporator dan mesin kristalisator putar.
Kedua alat ini dirancang untuk membantu pengendalian suhu, waktu proses, sekaligus memudahkan pengoperasian bagi pelaku usaha.
Inovasi tersebut kemudian didaftarkan sebagai paten sederhana.
“Inovasi yang dikembangkan adalah prototipe mesin evaporator dengan pengaduk mekanis dan kontrol suhu serta prototipe mesin kristalisator putar untuk pengolahan gula semut,” katanya.
Pengembangan inovasi dilakukan secara sistematis dengan melibatkan pengguna sejak tahap awal.
Proses dimulai dari identifikasi kebutuhan di lapangan, perancangan konseptual, pembuatan prototipe, hingga uji kinerja di laboratorium dan lokasi mitra.
Penyempurnaan desain dilakukan berdasarkan hasil uji, termasuk aspek kestabilan suhu, waktu proses, dan keselamatan kerja.
Dalam proses hilirisasi, tantangan tetap muncul. Variasi kualitas nira sebagai bahan baku memengaruhi konsistensi hasil produksi.
Baca Juga: Siapa yang Dapat Rapel Gaji Pensiunan ASN, TNI, Polri 2026 Lebih Dulu? Ini Skema Smart Distribution
Selain itu, adopsi teknologi oleh UMKM menuntut alat yang mudah dioperasikan dan selaras dengan kebiasaan kerja.
“Tantangan paling krusial adalah memastikan teknologi yang dikembangkan mudah dioperasikan, mudah dirawat, dan dapat digunakan secara berkelanjutan,” tuturnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar inovasi benar-benar terpakai.
Produsen gula semut dilibatkan sejak awal melalui diskusi kebutuhan dan observasi proses produksi.
Pendekatan ini membuat alat yang dikembangkan lebih sesuai dengan kondisi kerja harian pengguna.
Baca Juga: Mengapa Gaji ASN Januari 2026 Belum Cair? Ini Penjelasan Pemerintah dan Jadwal Pencairan
“Alat yang akhirnya dipakai masyarakat merupakan hasil co-creation antara riset berbasis data dan pengalaman praktis pengguna,” ujarnya.
Bagi Sri Rahayoe, penghargaan ini menjadi refleksi arah riset yang selama ini dikembangkan.
Riset terapan dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus daya saing pelaku usaha.
Baca Juga: Begini Cara Taspen Hitung Rapel Gaji Pensiunan 2026 Lewat Smart Distribution
Di tingkat fakultas, capaian ini memperkuat posisi riset terapan sebagai jembatan antara kampus dan masyarakat.
“Penghargaan ini mengingatkan bahwa riset yang memberi dampak nyata memiliki nilai yang sangat penting,” katanya.
Ke depan, pengembangan riset diarahkan pada integrasi lini produksi agar proses semakin efisien dan mudah diadopsi.
Penguatan sistem monitoring dan kontrol proses juga terus didorong untuk menjaga konsistensi mutu. Kerja sama dengan industri manufaktur dan produsen gula semut pun akan diperluas. ***




