POJOKSATU.id - Pemerintah terus mematangkan Sekolah Rakyat sebagai program strategis nasional yang berkelanjutan.
Memasuki tahun 2026, penguatan dilakukan tidak hanya pada sisi infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia atau SDM.
Konsekuensinya, kebutuhan guru dalam jumlah besar menjadi keniscayaan.
Baca Juga: Fakta Gaji PPPK Paruh Waktu Tak Sampai Rp1 Juta, Ternyata Ini Alasannya
Dalam kondisi ini, lulusan Pendidikan Profesi Guru atau PPG menjadi kelompok yang paling diuntungkan dan berpeluang besar terlibat sebagai tenaga pengajar utama.
Sekolah Rakyat dirancang sebagai model pendidikan berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program ini menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama pemutusan rantai kemiskinan, dengan pendekatan pembelajaran akademik yang terintegrasi dengan pembinaan karakter, kedisiplinan, dan keterampilan hidup.
Penguatan Infrastruktur Sekolah Rakyat Dimulai Sejak 2025
Pemerintah telah memulai penyelenggaraan Sekolah Rakyat sejak tahun 2025.
Baca Juga: Jejak Perlawanan Tom Lembong Dari Vonis Penjara, Abolisi, hingga Tiga Hakimnya Terbukti Langgar Etik
Pada tahap awal, program ini dilaksanakan di 200 lokasi yang tersebar di berbagai daerah.
Lokasi tersebut terbagi ke dalam dua tahap, yaitu Tahap I sebanyak 100 lokasi dan Tahap II sebanyak 100 lokasi.
Untuk mempercepat pelaksanaan, pemerintah memanfaatkan sentra rehabilitasi sosial, balai diklat Kementerian Sosial, serta bangunan milik pemerintah daerah.
Pendekatan ini memungkinkan Sekolah Rakyat berjalan cepat tanpa harus menunggu pembangunan gedung baru sepenuhnya.
Dari sisi anggaran, Sekolah Rakyat Tahap I tahun 2025 dialokasikan sebesar Rp1.764,0 miliar.
Anggaran tersebut terdiri atas belanja operasional Kementerian Sosial sebesar Rp1.194,0 miliar dan belanja fisik Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp570,0 miliar.
Anggaran digunakan untuk penyesuaian infrastruktur, operasional pendidikan, serta pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik di lingkungan sekolah berasrama.
Infrastruktur Diperluas, SDM Jadi Penentu Utama
Memasuki tahun 2026, Sekolah Rakyat masuk fase penguatan dan perluasan.
Dalam Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp24.900,0 miliar untuk melanjutkan dan memperluas penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Anggaran besar tersebut mencakup penguatan dan pembangunan infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas layanan sekolah berasrama, pemenuhan kebutuhan operasional pendidikan, serta pengadaan dan pembiayaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
Dengan bertambahnya jumlah lokasi dan kapasitas Sekolah Rakyat, infrastruktur yang memadai harus diimbangi dengan ketersediaan guru yang cukup dan berkualitas.
Baca Juga: Ratusan ASN Bakal Pensiun 2026, Pemkab Kulon Progo Terancam Kekurangan Pegawai
Tanpa SDM yang memadai, penguatan fisik tidak akan berdampak optimal.
Sekolah Rakyat 2026 Diproyeksikan Butuh Banyak Guru
Penguatan Sekolah Rakyat di ratusan lokasi otomatis berdampak pada meningkatnya kebutuhan guru.
Setiap Sekolah Rakyat membutuhkan tenaga pendidik yang mampu mengajar mata pelajaran sesuai kurikulum, membina karakter dan kedisiplinan siswa, mendampingi peserta didik di lingkungan asrama, serta berinteraksi intensif dengan siswa dari latar belakang rentan.
Model sekolah berasrama membuat rasio kebutuhan guru lebih besar dibanding sekolah reguler.
Guru tidak hanya bertugas di jam belajar formal, tetapi juga berperan dalam pembinaan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Lulusan PPG Paling Diuntungkan
Dalam kondisi kebutuhan guru yang meningkat tajam, lulusan PPG calon guru berada pada posisi paling diuntungkan.
Pendidikan Profesi Guru dirancang untuk membentuk pendidik dengan empat kompetensi utama, yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
Karakteristik lulusan PPG sangat sesuai dengan kebutuhan Sekolah Rakyat.
Mereka terlatih menghadapi beragam karakter peserta didik, memiliki pemahaman etika dan tanggung jawab profesi, mampu mengajar dengan pendekatan empatik, serta siap bekerja dalam sistem pendidikan yang menuntut komitmen tinggi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tahap Lanjutan 2026 Resmi Dianggarkan, Lulusan PPG Calon Guru Perlu Siapkan Strategi
Karena itu, lulusan PPG dinilai paling siap mengisi kebutuhan SDM guru Sekolah Rakyat 2026.
Kebutuhan SDM Tidak Bersifat Sementara
Kebutuhan guru Sekolah Rakyat bukan kebutuhan jangka pendek.
Dengan anggaran besar dan arah kebijakan yang jelas, Sekolah Rakyat diproyeksikan menjadi program jangka panjang.
Artinya, kebutuhan SDM akan bersifat berkelanjutan, bukan sekadar penugasan sesaat.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tahap Lanjutan 2026 Resmi Dianggarkan, Lulusan PPG Calon Guru Perlu Siapkan Strategi
Bagi lulusan PPG, kondisi ini memberikan kepastian bahwa peluang mengajar di Sekolah Rakyat bukan peluang sementara, melainkan bagian dari sistem pendidikan nasional yang terus berkembang.
Peran Guru Sekolah Rakyat Lebih Luas
Guru Sekolah Rakyat memiliki peran yang lebih luas dibanding guru di sekolah reguler.
Baca Juga: Heboh Nilai TKA Matematika Hanya 30/100, DPR Curiga Ada Krisis Kualitas Guru di Indonesia
Selain mengajar, guru juga membimbing perkembangan karakter siswa, menjadi figur teladan di lingkungan asrama, mendukung pemulihan psikososial peserta didik, serta menanamkan nilai kemandirian dan tanggung jawab.
Peran kompleks ini membutuhkan guru dengan kesiapan mental dan komitmen tinggi.
Lulusan PPG, dengan bekal pendidikan profesi, dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Lulusan PPG Perlu Bersiap Secara Strategis
Meskipun diuntungkan, lulusan PPG tetap perlu melakukan persiapan strategis.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain pemetaan domisili dan kesiapan penugasan lintas daerah, penguatan kompetensi nonakademik seperti empati dan komunikasi, kesiapan bekerja di lingkungan sekolah berasrama, serta pemahaman konsep dan tujuan Sekolah Rakyat.
Persiapan ini penting agar lulusan PPG tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga secara mental dan profesional.
Kolaborasi Infrastruktur dan SDM Jadi Kunci
Keberhasilan Sekolah Rakyat 2026 sangat bergantung pada keseimbangan antara infrastruktur dan SDM.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran besar untuk bangunan dan fasilitas, namun guru tetap menjadi faktor penentu kualitas pendidikan.
Tanpa guru yang kompeten dan berdedikasi, Sekolah Rakyat tidak akan mampu mencapai tujuan besarnya, yakni meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari keluarga paling rentan.
Momentum Besar bagi Calon Guru
Sekolah Rakyat 2026 menjadi momentum besar bagi lulusan PPG calon guru.
Kebutuhan guru yang meningkat, dukungan anggaran besar, serta arah kebijakan yang berkelanjutan membuat posisi lulusan PPG semakin strategis.
Bagi calon guru yang siap mengabdi dan berkontribusi, Sekolah Rakyat bukan sekadar peluang kerja, tetapi ruang nyata untuk terlibat dalam transformasi pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.***




