POJOKSATU.id – Sehari-hari, Dr. Buntora Pasaribu dikenal sebagai dosen HQT Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran (Unpad).

Namun pada Selasa, 16 Desember 2025, namanya mencuat di tingkat nasional setelah dinobatkan sebagai periset muda terbaik Indonesia oleh Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Young Researcher Award (YRA) 2025.

Baca Juga: 3 Hal Pokok yang Harus Diperhatikan PPPK Paruh Waktu, Jangan Sampai Salah Paham

Mengutip laman resmi Unpad, Minggu (21/12/2025), penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala BRIN, Prof. Arif Satria.

Ajang YRA 2025 sendiri diikuti ratusan pendaftar dari dalam dan luar negeri, sebelum akhirnya mengerucut menjadi 23 finalis terbaik dari sektor-sektor krusial seperti pertanian, kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan.

Konsisten Kembangkan Riset Kesehatan Laut Indonesia
Pengakuan yang diraih Dr. Buntora tidak datang secara instan. Selama ini, ia konsisten mengembangkan riset kesehatan laut Indonesia melalui pendekatan molekular dan multidisipliner.

Baca Juga: Mahasiswa UNIKOM Sabet Emas WorldSkills Asia 2025 di Taiwan, Indonesia Ungguli Jepang dan Korea Selatan

Pendekatan ini mengaitkan berbagai isu strategis, mulai dari energi, sumber daya air, polusi, hingga sekuester karbon laut.

“Pendekatan lintas-organisme dan multidisipliner ini membuka perspektif baru dalam memahami respons dan adaptasi ekosistem laut dangkal. Sekaligus memperkuat posisi riset kelautan Indonesia di tingkat nasional dan internasional,” ujar Buntora, dikutip dari situs Unpad.

Dalam prosesnya, Dr. Buntora harus melewati tiga tahap seleksi ketat sebelum akhirnya dinyatakan sebagai pemenang.

Baca Juga: HARI INI, Hasil TKA SMA 2025 Diumumkan, Ini Mekanisme, Fungsi dan Dampak Kebijakan di Perguruan Tinggi

Bagi PPI, kontribusi ilmiahnya mencerminkan wajah baru riset Indonesia yang kritis, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan.

Fokus pada Biosistem Laut Dangkal
Secara spesifik, fokus riset Dr. Buntora berada pada biosistem laut dangkal di Departemen Ilmu Kelautan.

Bidang ini dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan ketahanan lingkungan pesisir dan keberlanjutan sumber daya laut.

Pengalaman internasional turut membentuk arah risetnya. Dr. Buntora pernah bekerja sebagai postdoctoral associate di Amerika Serikat, melanjutkan riset pemenang Wolf Prize yang kerap disebut sebagai Nobel Prize di bidang Pertanian.

Baca Juga: Dari DPRD ke Kursi Wagub, Begini Rekam Jejak Wagub Babel Hellyana yang Kini Dipersoalkan Ijazah Palsu

Misi riset tersebut adalah memetakan kode genetik tanaman air untuk pengembangan energi terbarukan.

Keberhasilan risetnya kini telah dipublikasikan di sejumlah jurnal ilmiah bergengsi dunia.

Meski demikian, Dr. Buntora menilai capaian riset kelas dunia tidak hanya ditentukan oleh individu.

Menurutnya, untuk bisa sampai pada level Nobel, riset harus ditopang oleh infrastruktur, tim, dan sistem yang kuat. Tanpa itu, periset akan kesulitan menciptakan terobosan baru. ***