POJOKSATU.id - Teknologi kini menghadirkan babak baru bagi penyandang disabilitas, terutama tunanetra yang sehari-harinya mengandalkan sentuhan dan pendengaran untuk beraktivitas.

Salah satunya dirasakan Latief (29), pekerja tunanetra yang merasakan perubahan besar sejak menerima kacamata pintar berbasis Artificial Intelligence (AI) buatan Jerman, hadiah dari Presiden Prabowo Subianto.

Latief mengaku hidupnya jauh lebih praktis. Meski sudah terbiasa membaca huruf braille, perangkat AI ini membuat banyak aktivitas terasa lebih cepat.

Baca Juga: Wagub Jabar Murka! Erwan Setiawan Desak Polisi Tangkap YouTuber Penghina Sunda yang Sudah Bikin Geger

Tanpa harus meraba, kacamata tersebut mampu memindai teks di sekitarnya—mulai dari menu makanan, dokumen penting, sampai nilai mata uang.

Teknologi yang Memudahkan Aktivitas Harian
Menurut Latief, fitur deteksi objek dan identifikasi wajah menjadi salah satu keunggulan terbesar.

“Alat ini bisa mendeteksi orang beserta jumlahnya. Misalnya ada dua atau tiga orang di depan kita, langsung terbaca.

Baca Juga: OJK Cirebon Dorong BPR Perkuat Tata Kelola dan Tekan NPL: Kinerja Ciayumajakuning Melesat, Lampaui Nasional

Kalau orang itu sudah direkam identitasnya, alat ini otomatis menyebutkan namanya,” ujar Latief saat ditemui di Yayasan Mitra Netra, Cilandak, Jakarta Selatan.

Kacamata pintar yang diberi nama “Mata Kita” itu kini menjadi andalan Latief baik saat bekerja maupun beraktivitas di rumah.

Ia bisa membaca judul buku, memindai KTP atau ijazah, hingga mengenali produk di minimarket.

Baca Juga: Program Studi Ilmu Gizi Lagi Naik Daun, Ini Keahlian dan Tempat Kuliah yang Bisa Jadi Pilihan

“Bisa membaca dokumen seperti ijazah, KTP, kartu keluarga, menu restoran, sampai produk-produk di minimarket,” katanya.

“Kacamata ini juga bisa mendeteksi pecahan uang, dari dua ribu sampai lima puluh ribu,” sambungnya.

Bantuan dari Yayasan GSN
Perangkat itu disalurkan oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) ke sejumlah komunitas disabilitas seperti Himpunan Disabilitas Muhammadiyah dan Yayasan Mitra Netra.

Baca Juga: Siapa Sabar Karyaman? Pemain Non-Pelatnas yang Bikin Malaysia Ketar-Ketir di Final SEA Games 2025

Selain memberikan perangkat secara gratis, penerima juga dibekali pelatihan agar mampu memaksimalkan fungsinya.

Ketua Yayasan GSN, Teguh Arief, menyebut kacamata pintar ini menjadi “navigasi baru” bagi penyandang tunanetra.

Perangkat ini dirancang untuk membantu kebutuhan membaca, mengenali lingkungan sekitar, serta memahami siapa lawan bicara mereka.

Bahkan, jenis kelamin seseorang bisa terdeteksi otomatis melalui sistem AI di dalamnya.

Baca Juga: Viral Natalius Pigai Sebut Indonesia Bisa Ubah Tatanan Dunia dan Rebut Posisi Presiden Ham PBB, Netizen Sebut: Serius Nih?

Masih Tahap Uji Coba tapi Sudah Sangat Membantu
Meski banyak fitur unggulan, Teguh menegaskan bahwa kacamata ini masih dalam tahap uji coba.

Untuk sekarang, penggunaannya difokuskan pada aktivitas belajar dan bekerja. Ke depan, pengembangan diarahkan untuk kebutuhan mobilitas ruang publik.

“Ke depan sedang diprogram juga fitur deteksi rintangan. Misalnya saat berjalan, bila ada pintu atau penghalang, kacamata akan memberi peringatan sehingga tidak menabrak,” jelasnya.

Baca Juga: Seharian Penuh Kemeriahan! Shopee Rayakan 10 Tahun Lewat Puncak 12.12 Birthday Sale dengan Segudang Penawaran Spesial

Fitur ini diharapkan dapat membantu tunanetra lebih percaya diri saat bergerak di trotoar atau tempat umum yang masih kurang ramah disabilitas.

Terharu dan Apresiasi untuk Presiden Prabowo
Latief tak menutupi rasa terharunya. Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar alat bantu, tetapi jembatan menuju kemandirian.

Baca Juga: Polres Karawang Kawal Ketat Aksi Ormas di PT TJ Forge Indonesia

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Prabowo Subianto karena bantuan ini sangat membantu kami mengatasi tantangan dalam mengakses teks,” ucapnya. ***