POJOKSATU.id - Rangkaian pelaksanaan PPG Prajabatan 2025 kembali menjadi perbincangan hangat setelah banyak peserta menyampaikan kekecewaan melalui media sosial.

Salah satu komentar yang paling menyita perhatian berasal dari akun Instagram ofnads yang menuliskan kritik tajam mengenai buruknya koordinasi, minimnya transparansi, dan kurangnya komunikasi dari penyelenggara.

Pernyataan “Bagaimana mau mendidik guru profesional kalau sistemnya tidak profesional?” menjadi simbol keresahan peserta.

Banyak peserta merasa dirugikan oleh ketidakteraturan proses seleksi yang berlangsung sejak tahap awal.

Baca Juga: Revisi UU ASN! Penyetaraan Hak PPPK dan Kepastian Karier Masih Tunggu Regulasi Final, Ini Penjelasannya

Kritik ini bukan sekadar keluhan emosional tetapi sinyal bahwa penyelenggaraan PPG memerlukan evaluasi serius.

Kuota Tes Substantif Minim dan Tidak Ada Kepastian Penambahan

Keluhan pertama yang muncul adalah kuota tes substantif yang dinilai sangat terbatas di sejumlah wilayah.

Baca Juga: PPG Prajabatan 2025 Disorot! Peserta Keluhkan Kuota Tes Jadwal Mepet hingga Pengumuman Molor

Peserta melaporkan bahwa lokasi tes penuh hanya dalam hitungan menit saat pendaftaran dibuka.

Banyak peserta meminta kepastian mengenai penambahan kuota tetapi tidak mendapat respons resmi.

Minimnya informasi menyebabkan peserta kesulitan menentukan peluang mereka mengikuti tes.

Situasi ini memunculkan anggapan bahwa perencanaan kuota belum dilakukan secara matang.

Kurangnya penjelasan resmi membuat peserta merasa tidak diperlakukan secara adil.

 

Pengumuman Jadwal Tes Terlalu Larut dan Mepet

Keluhan berikutnya berkaitan dengan pengumuman jadwal tes substantif yang dirilis terlalu larut malam.

Peserta yang harus melakukan perjalanan jauh merasa sangat dirugikan karena waktu persiapan yang sangat singkat.

Baca Juga: Bikin Bingung! Apa Perbedaan PPG Guru Tertentu Tahap 5 dan Periode 5 yang Tertulis pada SIMPKB? Begini Penjelasannya!

Banyak peserta harus mengatur transportasi dan akomodasi mendadak meski jadwal tes sudah di hari pertama.

Situasi ini menambah tekanan terutama bagi peserta dari luar kota dan luar pulau.

Waktu pengumuman yang mepet dianggap tidak manusiawi untuk tes penting seperti substantif.

Baca Juga: Heboh! Kelaparan Picu Kepanikan Massal, BNPB Akui Warga Sampai Rebut Paksa Logistik

Minimnya manajemen waktu menjadi sorotan utama dalam kritik peserta.

Hasil Tes Substantif Molor dari Jadwal Resmi

Hasil tes substantif yang seharusnya dirilis pada 29 November tidak muncul hingga memasuki 30 November.

Baca Juga: Heboh! Kelaparan Picu Kepanikan Massal, BNPB Akui Warga Sampai Rebut Paksa Logistik

Tidak ada klarifikasi dari pihak PPG melalui SIMPKB maupun kanal media sosial resmi.

Keterlambatan ini membuat peserta berada dalam ketidakpastian menjelang tahap wawancara.

Peserta menilai bahwa ketika tanggal resmi sudah ditetapkan pengumuman seharusnya tepat waktu.

Keterlambatan tanpa penjelasan dianggap sangat tidak profesional.

Kondisi ini dinilai dapat mengganggu rangkaian seleksi berikutnya.

Minimnya Respons dari Akun Instagram Resmi PPG

Peserta juga mengeluhkan tidak adanya respons dari akun Instagram resmi PPG.

Padahal akun tersebut seharusnya menjadi pusat informasi tercepat saat terjadi perubahan jadwal.

Komentar dan pertanyaan peserta dibiarkan tanpa jawaban dalam waktu lama.

Baca Juga: Heboh! Kelaparan Picu Kepanikan Massal, BNPB Akui Warga Sampai Rebut Paksa Logistik

Hal ini memunculkan asumsi bahwa penyelenggara kurang memperhatikan kebutuhan informasi peserta.

Minimnya komunikasi memperburuk kondisi ketidakpastian peserta.

Dalam era digital komunikasi responsif seharusnya menjadi standar layanan publik pendidikan.

Peserta Meragukan Profesionalitas Sistem Seleksi

Gelombang keluhan membuat banyak peserta mempertanyakan profesionalitas penyelenggaraan PPG Prajabatan 2025.

Baca Juga: Revisi UU ASN! Penyetaraan Hak PPPK dan Kepastian Karier Masih Tunggu Regulasi Final, Ini Penjelasannya

Mereka menilai bahwa proses seleksi seharusnya berjalan rapi terstruktur dan memiliki standar komunikasi jelas.

Ketika sistem tidak konsisten peserta merasa sulit percaya pada kualitas proses berikutnya.

Para peserta menyoroti ironi bahwa mereka diminta menjadi guru profesional namun sistemnya belum memberi contoh profesionalisme.

Kritik ini menunjukkan perlunya evaluasi sistemik oleh penyelenggara.

PPG sebagai program strategis nasional harus memenuhi standar akurasi dan transparansi.

 

Harapan Peserta Transparansi Ketepatan Jadwal dan Komunikasi Lebih Baik

Meski kecewa peserta tetap berharap ada perbaikan signifikan dalam seleksi tahap selanjutnya.

Mereka meminta jadwal disusun realistis dan diumumkan tepat waktu.

Peserta juga menginginkan klarifikasi resmi jika terjadi kendala teknis.

Akun resmi PPG diharapkan lebih aktif memberikan pembaruan informasi.

Dengan manajemen yang lebih baik peserta yakin proses seleksi dapat berjalan lebih adil dan manusiawi.

Perbaikan ini dinilai penting untuk mendukung kualitas calon guru profesional.***