POJOKSATU.id – Minat baca menjadi sorotan utama dalam analisis literasi nasional.
Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa di kalangan pelajar dan masyarakat luas, budaya literasi belum terbentuk secara konsisten.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan dan kedalaman pemahaman generasi muda di Indonesia.
Skor Literasi Rendah, Gambaran dari Survei Internasional dan Nasional
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mengindikasikan bahwa skor literasi membaca siswa Indonesia hanya 359 poin lebih rendah dari perolehan 371 poin pada 2018.
Hal ini menandakan penurunan kemampuan literasi membaca secara signifikan.
Baca Juga: Fitur LMS PPG Daljab Kemenag Diubah Peserta Kini Harus Update KTP dan Tidak Bisa Loncat Materi
Penilaian ini tak hanya soal kemampuan teknis membaca, tetapi juga kemampuan memahami teks, mengevaluasi informasi, dan berpikir kritis terhadap bacaan
Sementara itu, meski ada klaim bahwa minat baca masyarakat meningkat, laporan dari sejumlah media dan survei menyebutkan bahwa secara umum minat baca di Indonesia tetap rendah.
Tercatat survei pada 2025 menyebut bahwa hanya sekitar 20,7 persen masyarakat rutin membaca setiap hari.
Situasi ini memunculkan persoalan: ketika literasi fungsional dan budaya baca belum terbentuk, pendidikan dan pengembangan diri siswa bisa terganggu.
Faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca di Kalangan Pelajar
Kurangnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi salah satu penyebab utama.
Di banyak sekolah atau lingkungan rumah, koleksi buku dan materi bacaan sering terbatas.
Kondisi ini mempersempit kesempatan siswa untuk mengeksplorasi bacaan di luar pelajaran formal.
Perubahan gaya hidup di era digital juga memberi dampak.
Banyak siswa yang lebih tertarik pada perangkat digital dan media sosial dibanding membaca buku.
Hal ini menyebabkan kebiasaan membaca fisik menurun, dan tanpa kawalan, minat baca makin sulit tumbuh.
Lingkungan keluarga dan sekolah turut memegang peranan penting.
Jika di rumah atau komunitas sekitar tidak ada kebiasaan atau dukungan untuk membaca, maka kemungkinan besar siswa tidak akan membiasakan diri membaca di luar kebutuhan sekolah.
Baca Juga: Mau Jualan Makanan di GoFood? Begini Cara Buka Toko UMKM Kamu dari Nol
Selain itu, metode pengajaran di sekolah yang kurang menstimulasi rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif siswa dalam membaca bisa membuat minat baca tidak berkembang.
Literasi tidak dipandang sebagai bagian dari budaya belajar jangka panjang.
Dampak Negatif dari Minimnya Budaya Literasi
Situasi ini membawa sejumlah konsekuensi yang serius. Siswa dengan minat baca rendah akan mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran secara mendalam.
Hal ini berpotensi mempengaruhi kualitas belajar dan hasil akademik.
Kemampuan berpikir kritis, evaluatif, dan analitis yang penting di era modern menjadi terbatas bila siswa hanya mengandalkan hafalan dan pembelajaran dangkal.
Baca Juga: Rilis Resmi! 39 Wilayah Masuk Rekap Peserta PPG Guru Tertentu Tahap 5 Tahun 2025
Selain itu, rendahnya literasi menghambat kemampuan siswa mengakses informasi berkualitas, mengembangkan wawasan luas, serta mengasah kreativitas dan inovasi.
Dalam jangka panjang, jika budaya literasi tidak diperkuat, generasi muda akan kesulitan bersaing di dunia global yang menuntut keterampilan literasi, pemikiran kritis, dan adaptasi terhadap informasi kompleks.
Inisiatif dan Solusi, Membangun Budaya Literasi yang Berkelanjutan
Menurut kajian ilmiah, upaya meningkatkan minat baca perlu memperhatikan beberapa aspek: akses bacaan, motivasi, lingkungan keluarga dan sekolah, serta adaptasi era digital.
Penyediaan bahan bacaan yang menarik dan relevan di sekolah serta komunitas menjadi kunci.
Koleksi buku cerita, fiksi, nonfiksi, majalah, hingga akses ke bacaan digital dapat membantu memancing minat baca, terutama bagi generasi muda yang hidup di era digital.
Sekolah perlu membangun program literasi, seperti kegiatan rutin membaca, diskusi buku, klub baca, atau perpustakaan hidup agar membaca bukan hanya tugas, tetapi bagian dari budaya belajar.
Keluarga dan komunitas juga berperan besar. Membiasakan anak membaca sejak dini, mendiskusikan isi bacaan, atau menyediakan waktu dan ruang membaca bersama bisa menumbuhkan minat baca yang sehat.
Pemanfaatan teknologi secara bijak juga bisa membantu.
Platform digital, e-book, atau perpustakaan daring memungkinkan akses bacaan lebih luas, khususnya bagi siswa di daerah terpencil atau dengan akses fisik terbatas.
Harapan untuk Generasi Pelajar, Budaya Literasi Sehari-hari
Untuk mewujudkan literasi bermakna, perlu adanya sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat.
Baca Juga: Rahasia Bikin Portofolio Kerja untuk Profesi Non-Kreatif, Simpel tapi Berkesan
Budaya membaca harus dibangun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika dibebani tugas sekolah.
Siswa yang terbiasa membaca akan memiliki bekal pengetahuan lebih luas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan literasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Menciptakan lingkungan yang mendukung literasi, baik fisik maupun digital adalah langkah strategis untuk menjadikan generasi muda Indonesia lebih siap, kritis, dan berdaya saing.
Dengan literasi yang kuat, harapan besar bisa digantungkan pada potensi besar pelajar Indonesia menjadi sumber daya manusia berkualitas di masa depan.***




