POJOKSATU.id - Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam membantu peserta didik menumbuhkan keingintahuannya terhadap fenomenal alam semesta yang terjadi.

Capaian pembelajaran di kelas 7 Ilmu Pengetahuan Alam fase C menekankan kemampuan peserta didik dalam menggunakan berbagai alat bantu pengukuran dan pengamatan.

Mereka diharapkan mampu melakukan pengamatan secara cermat.

Peserta didik juga perlu memperhatikan detail penting dari objek yang sedang diteliti.

Mereka juga mampu mengajukan pertanyaan lanjutan secara mandiri guna memperjelas hasil pengamatan serta membuat prediksi terkait penyelidikan ilmiah.

Baca Juga: Gus Fawait Bikin Gebrakan! 22 Ribu Guru Ngaji dan Pendidik Agama Diguyur Insentif Tanpa Potongan

Selain itu, pelajar merencanakan dan menjalankan langkah-langkah operasional berdasarkan referensi yang tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Dalam proses penyelidikan, peserta didik memanfaatkan beragam variabel untuk membuktikan prediksi.

Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau model.

Mereka juga menjelaskan hasil pengamatan serta pola hubungan dalam data, baik secara digital maupun non digital.

Berikut merupakan matriks tujuan pembelajaran dan ringkasan materi mengenai Ekologi dan Keanekaragaman Indonesia yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPA kelas 7 Kurikulum Merdeka bab 6 semester 2.

# Bab VI: Ekologi dan Keanekaragaman Indonesia

Baca Juga: Viral Rutilahu Janda Lima Anak di Garut Sempat Panas, Kini Diselesaikan lewat Musyawarah Desa

# Tujuan Pembelajaran

1. Bagaimanakah Pengaruh Lingkungan Terhadap Suatu Organisme

Peserta didik mampu menganalisis pengaruh lingkungan terhadap makhluk hidup.

2. Bagaimana Interaksi antara Komponen Penyusun Suatu Ekosistem?

Peserta didik mampu menganalisis interaksi antar komponen penyusun suatu ekosistem.

3. Apa Perbedaan Keanekaragaman Hayati Indonesia dengan di Belahan Dunia Lainnya?

Peserta didik mampu menjelaskan keanekaragaman hayati Indonesia dengan di belahan dunia lainnya.

# Pengaruh Lingkungan terhadap Organisme

Baca Juga: Penegasan Doli! PPPK yang Ingin Naik Kelas Jadi PNS, Harus Melalui Tes, Revisi UU ASN Bukan Jalan Pintas, Ini Penjelasannya.

Lingkungan tempat organisme hidup sangat menentukan kemampuan organisme tersebut untuk bertahan.

Lingkungan terdiri atas komponen biotik seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, serta komponen abiotik seperti cahaya, suhu, tanah, air, dan udara.

Kedua komponen ini saling memengaruhi bentuk adaptasi yang dilakukan organisme.

Misalnya, tumbuhan yang hidup di daerah kering akan memiliki daun kecil atau tebal agar dapat mengurangi penguapan.

Sedangkan hewan yang hidup di lingkungan sangat panas memiliki tingkah laku berteduh dan aktif pada malam hari.

Organisme melakukan berbagai bentuk adaptasi agar dapat bertahan hidup.

Adaptasi morfologi tampak pada bentuk tubuh.

Baca Juga: Wow Viral! Puluhan PPPK Paruh Waktu Tiba-Tiba Mundur, Karena Tidak Kuat Beban Kerja Sama Seperti Full Time! Tapi Penghasilan Tidak Setara!

Adaptasi fisiologi terjadi pada fungsi tubuh seperti produksi enzim.

Sedangkan adaptasi tingkah laku terlihat pada kebiasaan khusus seperti migrasi atau cara mencari makan.

Semua bentuk adaptasi tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup.

# Interaksi Antar Komponen Ekosistem

Ekosistem adalah tempat di mana komponen biotik dan abiotik saling berinteraksi dan membentuk suatu sistem kehidupan yang seimbang.

Interaksi yang terjadi dapat berupa hubungan saling menguntungkan, saling merugikan, maupun hubungan netral.

Misalnya, hubungan antara bunga dan lebah merupakan contoh interaksi mutualisme karena keduanya saling mendapatkan manfaat.

Baca Juga: Wow Viral! Puluhan PPPK Paruh Waktu Tiba-Tiba Mundur, Karena Tidak Kuat Beban Kerja Sama Seperti Full Time! Tapi Penghasilan Tidak Setara!

Ada pula hubungan predasi antara pemangsa dan mangsa, yang berperan menjaga keseimbangan populasi.

Selain interaksi makhluk hidup, terdapat pula aliran energi yang berjalan dari matahari sebagai sumber energi utama.

Kemudian ditangkap oleh tumbuhan sebagai produsen melalui fotosintesis.

Energi tersebut mengalir ke hewan herbivor dan diteruskan ke hewan karnivora, lalu akhirnya diuraikan oleh mikroorganisme pengurai sehingga nutrisi dapat kembali ke tanah.

Pola aliran energi ini digambarkan melalui rantai makanan, jaring-jaring makanan, maupun piramida ekologi yang menunjukkan bagaimana energi berkurang pada setiap tingkat trofik.

# Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Perbedaannya dengan Dunia Lain

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia di daerah tropis, iklim yang hangat sepanjang tahun, curah hujan tinggi, serta luasnya wilayah kepulauan yang menciptakan banyak jenis habitat.

Baca Juga: Geger di Jambi! Pengendara Tak Mau Minggir Saat Kebakaran, Kapolsek Kecewa Berat

Variasi habitat ini memungkinkan terbentuknya keanekaragaman gen, spesies, dan ekosistem yang sangat kaya.

Dibandingkan negara lain, Indonesia memiliki tingkat endemisme yang sangat tinggi.

Banyak spesies hanya dapat ditemukan di Indonesia, seperti komodo, orang utan, anoa, hingga bunga Rafflesia arnoldii.

Selain itu, perairan Indonesia merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang dunia yang dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman terumbu karang terkaya di bumi.

Keanekaragaman hayati di wilayah tropis seperti Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara subtropis atau kutub yang memiliki musim ekstrem, suhu rendah, dan jenis ekosistem yang lebih terbatas.

# Pengaruh Manusia terhadap Ekosistem

Manusia memberikan pengaruh besar terhadap ekosistem, baik secara positif maupun negatif.

Aktivitas seperti pembukaan hutan, pembuangan limbah, polusi udara, dan penggunaan bahan kimia berlebihan menyebabkan kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Perburuan liar juga membuat banyak spesies terancam punah.

Namun, manusia juga dapat berperan positif melalui berbagai upaya pelestarian.

Reboisasi, pengelolaan sampah yang lebih baik, penggunaan energi terbarukan, serta penetapan kawasan konservasi adalah contoh nyata kontribusi manusia dalam menjaga alam.

Program edukasi lingkungan di sekolah turut membantu meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya melindungi bumi.

#Pentingnya Konservasi Keanekaragaman Hayati

Baca Juga: Jadwal Cair BPNT Tahap 4 Akhir Tahun 2025 di Jawa Barat, Simak Daerahmu Termasuk?

Konservasi diperlukan agar keanekaragaman hayati tetap terjaga dan tidak punah.

Keanekaragaman hayati sangat penting untuk stabilitas ekosistem, penyediaan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan manusia lainnya.

Jika tidak dijaga, hilangnya satu spesies saja dapat mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Di Indonesia, konservasi dilakukan melalui pembentukan taman nasional, suaka margasatwa, dan cagar alam.

Selain itu, berbagai lembaga melakukan upaya perlindungan satwa langka seperti badak Jawa, harimau Sumatra, dan gajah.

Pendidikan lingkungan dan peran masyarakat juga sangat penting untuk memastikan bahwa keanekaragaman hayati tetap lestari bagi generasi mendatang.


Materi ekologi dan keanekaragaman hayati mengajarkan bahwa makhluk hidup saling berhubungan dengan lingkungan.

Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa karena kondisi geografis dan iklimnya.

Namun aktivitas manusia dapat merusak ekosistem sehingga diperlukan upaya konservasi untuk menjaga keseimbangan alam.

Pelajarilah dengan baik ringkasan materi tersebut supaya lebih memahami materi mengenai Gaya dan Gerak.

Jangan ragu untuk bertanya pada guru jika ada hal yang belum dipahami.***