POJOKSATU.id - Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) peminatan Kesehatan Lingkungan, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Teuku Umar (UTU), menunjukkan aksi nyata mereka dalam praktik pengelolaan lingkungan.
Pada Jumat (21/11/2025), mereka terjun langsung mengolah limbah organik menjadi kompos sebagai bagian dari Mata Kuliah Persampahan.
Nah, kegiatan ini bukan sekadar praktik rutin, tapi langkah strategis membekali mahasiswa kemampuan menghidupkan kembali limbah yang selama ini dianggap tak berguna.
Baca Juga: Nilai TKA Matematika 2025 JEBLOK, Metode Ajar dan Buku Disorot, BEBAN GURU Terlupakan?
Kegiatan praktikum tersebut berfokus pada pemanfaatan sampah organik dari pasar—mulai kulit pisang hingga sisa sayur dan buah-buahan busuk.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa diajak memahami bahwa limbah organik memiliki potensi besar untuk diubah menjadi bahan bernilai tambah, seperti kompos untuk lahan pertanian, taman, hingga ruang hijau kampus.
Pendekatan ini juga melengkapi pemahaman mereka yang sebelumnya banyak berkutat pada pengolahan sampah anorganik.
Baca Juga: Sampai Titik Terakhirmu Sapa Warga Medan, Beri Pesan Kuat Tentang Perjuangan
Dipandu langsung oleh Dosen Pengampu, Dr. Kiswanto, M.Si, mahasiswa mendapatkan arahan komprehensif tentang tahapan pengomposan.
Dengan dukungan asisten dosen Aulya Fazira dan Lali Rahmawati, proses alih pengetahuan berlangsung runtut, sabar, dan aplikatif—membuat suasana praktikum terasa hidup dan bermakna.
Belajar dari Praktik Lapangan
Proses pengolahan dimulai dari pengumpulan sisa sayur dan buah, yang kemudian dicacah kecil-kecil. Pencacahan ini penting banget, ya, karena bisa mempercepat proses penguraian.
Baca Juga: Banyak yang Menunggu, Begini Fakta Terbaru Soal PPPK Paruh Waktu Tahun 2026
Setelah itu, mahasiswa menyiapkan wadah tertutup besar sebagai tempat pengomposan. Lapisan dasar diisi tanah yang dibasahi air secukupnya agar mikroorganisme bisa bekerja optimal.
Sampah organik yang sudah dicacah lalu dimasukkan ke dalam wadah. Pada tahap ini ditambahkan aktivator berupa campuran EM4 dan gula merah atau molase, yang dicampur rata supaya proses fermentasi berjalan mulus.
Setelahnya, lapisan atas ditutup kembali dengan tanah tipis untuk menjaga kelembapan dan mengurangi potensi bau.
Wadah kemudian ditutup rapat dan diletakkan di tempat teduh. Setiap minggu, tumpukan kompos harus diaduk agar tetap mendapat pasokan oksigen.
Baca Juga: Gaji Setara UMK: PPPK Paruh Waktu Tangerang Terima Lebih dari Rp5 Juta per Bulan
Proses ini mencegah timbulnya gas berlebih dan menjaga dekomposisi tetap stabil. Dalam 2 hingga 4 minggu, kompos sudah siap digunakan.
Mahasiswa belajar mengenali kualitas kompos yang baik—berwarna coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, serta memiliki tekstur remah dan gembur.
Semua ini menjadi indikator bahwa mikroorganisme bekerja dengan benar selama proses penguraian.
Dampak Nyata bagi Kampus dan Komunitas
Praktikum ini bukan hanya soal mengolah sampah, tapi juga bagian dari kontribusi UTU dalam Program Kampus Berdampak.
Baca Juga: CPNS 2026 Belum Pasti Dibuka, BKN Ingatkan Instansi Ajukan Formasi Secara Realistis
Dengan membekali mahasiswa keterampilan pengelolaan limbah organik, kampus turut berperan dalam mengurangi beban TPA, mempromosikan hidup ramah lingkungan, dan menyediakan solusi pupuk organik yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Yang lebih penting, mahasiswa mendapat pengalaman langsung bagaimana teori Persampahan bisa menjelma menjadi aksi nyata yang bermanfaat.
Dari sinilah karakter ekologis dan kesadaran keberlanjutan perlahan tumbuh—membuat mereka bukan hanya lulusan yang kompeten, tapi juga agen perubahan di tengah masyarakat. ***




