POJOKSATU.id – Enam peneliti IPB University berhasil masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University.

Salah satunya adalah Prof Farah Fahma, dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian.

Bagi Prof Farah, capaian ini bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan bentuk apresiasi terhadap kerja keras kolektif.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas penghargaan ini. Bagi saya, capaian ini bukan semata-mata prestasi pribadi, melainkan bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan kolaborasi banyak pihak,” ujarnya.

Baca Juga: Beasiswa CrossCulture Programme (CCP) 2026, Kesempatan Emas bagi Profesional Muda Indonesia untuk Magang 2–3 Bulan di Jerman

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada tim riset, mahasiswa, rekan sejawat, serta IPB University yang telah menciptakan lingkungan riset yang mendukung.

Penghargaan ini menjadi pengingat untuk terus berkontribusi sebagai dosen dan peneliti.

“Pengakuan ini menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus berkontribusi dan menjaga amanah agar keberadaan kita benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Fokus Riset Berbasis Sumber Daya Alam Indonesia

Prof Farah menekankan bahwa perjalanan risetnya merupakan proses panjang penuh pembelajaran.

Baca Juga: Ini 4 Indikator Utama untuk Tembus Jurnal Internasional Bereputasi, Kalau Tanpa Revisi, Bisa Jadi Jurnal Predator

Sejak awal, ia dan tim fokus pada pengembangan material dan teknologi berbasis sumber daya alam Indonesia yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi.

“Bidang yang kami tekuni banyak berkaitan dengan biomaterial, biopolimer, serta penerapan teknologi nano untuk mendukung sektor pertanian dan lingkungan,” jelasnya.

Selain publikasi ilmiah, Prof Farah menekankan pentingnya jejaring dan kolaborasi lintas disiplin.

“Kami percaya, riset yang baik adalah riset yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan memberi dampak luas. Jadi, pengakuan ini merupakan hasil kerja sama, komitmen, dan semangat inovasi,” ujarnya.

Baca Juga: Painting Class Mulai Masuk Sekolah-Sekolah Purwakarta, SD Plus Al Barokah Jadi Perintis

Menjaga Kualitas Riset dan Membentuk Peneliti Muda

Terkait indikator penilaian Stanford University, seperti jumlah sitasi, H-index, dan dampak publikasi global, Prof Farah menilai bahwa menjaga kualitas riset berawal dari niat dan ketekunan.

“Kami selalu berusaha agar penelitian memiliki landasan ilmiah yang kuat serta relevan dengan isu global seperti keberlanjutan dan inovasi teknologi hijau,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa agar tumbuh menjadi peneliti muda tangguh.

“Kolaborasi menjadi hal penting, baik dengan peneliti dalam negeri maupun luar negeri. Konsistensi dan integritas ilmiah juga menjadi kunci,” ungkapnya.

Baca Juga: Ramai Isu Diskriminasi Seragam PPPK Paruh Waktu, Ketua Bapemperda Akhirnya Angkat Suara

Bagi IPB University, capaian ini menunjukkan kultur riset yang kuat dan kompetitif.

“Ini bukti bahwa peneliti kita mampu bersaing di tingkat internasional.

Penghargaan ini memotivasi kami untuk memperkuat sinergi antardisiplin agar hasil penelitian semakin relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” tutur Prof Farah.

Ia pun berpesan kepada peneliti muda agar tidak hanya berfokus pada publikasi.

“Penelitian bukan hanya tentang sitasi, tetapi tentang manfaatnya bagi masyarakat. Nikmati setiap prosesnya, termasuk kegagalan, karena dari situlah kita tumbuh sebagai ilmuwan,” tandasnya.

Baca Juga: Zootopia 2, Siap Hadirkan Sekuel Seru, Bawa Misi Misterius Judy dan Nick ke Marsh Market

Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa riset bukan sekadar angka atau sitasi, tetapi perjalanan kolaboratif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan. ***