POJOKSATU.id - Dalam menyusun sebuah jurnal, judul memang menjadi kesan pertama dalam sebuah artikel ilmiah,

Nyatanya, judul saja tidak cukup. Menurut Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), Prawitra Thalib, jika ingin menembus jurnal bereputasi internasional harus memiliki orisinalitas, kebaruan, bebas plagiarisme, serta disusun dengan struktur ilmiah yang tepat.

Prawitra menjelaskan empat indikator utama yang memengaruhi diterima atau ditolaknya artikel di jurnal internasional:

Originalitas – Artikel harus murni ide sendiri, bukan menempel pada ide orang lain.

Kemutakhiran – Isu lama yang hanya dipoles ulang tanpa kebaruan dinilai kurang layak.

Baca Juga: Ramai Isu Diskriminasi Seragam PPPK Paruh Waktu, Ketua Bapemperda Akhirnya Angkat Suara

Bebas Plagiarisme – Penulis harus berhati-hati dalam menggunakan karya orang lain maupun teknologi AI.

“AI cukup dipakai untuk pengelolaan jurnal, misalnya cek similarity menggunakan Turnitin. Tapi jangan digunakan untuk menulis artikel ilmiah,” jelas Prawitra dalam Coaching Clinic Bimbingan Penulisan Jurnal FH Universitas Pattimura dan FH Universitas Mulawarman.

Ketepatan Metode dan Substansi – Struktur IMRAD (Introduction, Methods, Results, Discussion) menjadi acuan utama dalam penulisan jurnal.

“Struktur ini yang paling banyak dipakai dalam menulis jurnal, jadi jangan sampai diabaikan,” imbuhnya.

Baca Juga: PPG Kemenag Batch IV 2025 Dianggap Misterius! Usia Bukan, Abjad Bukan, Lalu Berdasarkan Apa?

Prawitra menekankan bahwa judul tetap penting sebagai kesan pertama, namun penentuan judul harus melalui persiapan matang, mulai dari referensi terbaru hingga teori mutakhir.

Artikel yang hanya mengulang ide lama atau sudah usang tidak memiliki nilai tambah, bahkan jika narasinya berbeda.

Selain itu, bahaya plagiarisme, termasuk penggunaan AI yang salah, harus dihindari.

Ia mengingatkan, saat mengirimkan artikel ke jurnal internasional bereputasi seperti Scopus, penulis biasanya akan menghadapi empat kemungkinan: diterima tanpa revisi, diterima dengan revisi minor, diterima dengan revisi mayor, atau ditolak.

Baca Juga: Hajatan Gratis? Warga Jabar Heboh, KDM Kini Bayari Hajatan Untuk Warga Miskin

Justru revisi mayor menjadi indikator baik karena menunjukkan evaluasi mendalam oleh editor dan reviewer.

“Kalau artikel langsung diterima tanpa revisi, hampir pasti itu jurnal predator. Setiap jurnal bereputasi pasti melalui proses review, sekecil apa pun revisi pasti ada,” tambah Prawitra.

Korespondensi resmi biasanya melalui Online Journal System (OJS) atau email; penggunaan WhatsApp harus diwaspadai karena berisiko disalahgunakan.

Dosen FH Universitas Negeri Semarang (Unnes), Saru Arifin, menambahkan bahwa menulis jurnal ilmiah berkualitas tidak cukup hanya dari ide.

Ide harus diformulasikan, diuji literatur, dan disampaikan dengan ringkas, jelas, dan menarik.

Baca Juga: Banyak Guru Belum Terpanggil PPG Batch IV Kemenag 2025! Benarkah Pemanggilan Batch-IV Terasa ‘Random Seperti Arisan’?

“Judul harus bisa menyampaikan ide paper dengan cepat, ringkas, dan menarik. Abstrak adalah jendela artikel; dari situ editor dan reviewer bisa memahami temuan penting riset,” ujarnya.

Masalah umum artikel akademik dari penulis Indonesia sering muncul pada bagian pendahuluan, khususnya menunjukkan research gap.

Tahapan pra-penulisan dimulai dari menemukan ide, yang bisa berasal dari berita, diskusi media sosial, bacaan, atau obrolan di kampus.

Kuncinya, isu harus memiliki aspek hukum yang menarik dan cukup aktual atau kontroversial.

Saru menekankan pentingnya studi literatur sebelum menulis.

Baca Juga: Hari Pertama KPPTI 2025, Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Ilmiah Jadi Fokus Bersama, Tegaskan Kolaborasi Perguruan Tinggi

Dengan membaca penelitian terdahulu, penulis bisa mengidentifikasi kelemahan atau kekosongan penelitian sebelumnya, lalu mengisi melalui tulisan baru.

Selain itu, studi literatur membantu artikel berjejaring dengan karya ilmiah lain.

Kesalahan lain yang sering ditemui adalah ketidakfokusan artikel.

Judul, abstrak, dan isi harus sejalan; artikel ilmiah umumnya membahas satu masalah spesifik dalam ruang lingkup 7.500–10.000 kata. Ide tambahan lebih baik dijadikan artikel terpisah.

Menulis artikel ilmiah memerlukan keterampilan teknis dan kreativitas.

Baca Juga: Warga Pedes Temukan Kerangka Manusia, Polres Karawang Turun Tangan

Setelah menemukan ide, penulis harus merefleksikannya, menguji literatur, dan merumuskan cara penyampaian agar riset yang disajikan mampu menembus jurnal internasional bereputasi. ***