POJOKSATU.id - Kekecewaan kembali membesar di kalangan guru madrasah setelah proses pemanggilan PPG Daljab Batch-IV 2025 dinilai tidak mengikuti pola apa pun yang dapat diprediksi.
Di komunitas Facebook dan grup WhatsApp, puluhan guru mencoba mencocokkan data mereka, mulai dari usia, TMT, linearitas, hingga urutan abjad, namun hasil tetap tidak menunjukkan kesimpulan apa pun.
Setiap temuan justru memunculkan lebih banyak kejanggalan karena guru yang seharusnya masuk prioritas malah tidak muncul dalam daftar panggilan.
Baca Juga: TPG TW 4 Melaju Kencang, TPG TW 3 Masih Tertahan! Ada Apa di Balik Perbedaan Ini?
Situasi ini membuat banyak guru bertanya-tanya apakah seleksi menggunakan faktor tertentu yang belum diungkapkan Kemenag.
Dari sinilah muncul anggapan bahwa pemanggilan Batch-IV 2025 masih menyimpan banyak misteri yang belum terjawab.
Usia Bukan Patokan, Guru Muda Terpanggil, Guru Senior Justru Tertinggal
Sejumlah guru senior mengaku kebingungan karena mendapati rekan mereka yang berusia lebih muda justru dipanggil lebih dulu.
Mereka merasa masa pengabdian yang panjang seharusnya memberi peluang lebih besar dalam seleksi.
Namun hasil Batch-IV justru menunjukkan fenomena sebaliknya: guru yang baru mengajar dua atau tiga tahun sudah masuk daftar peserta.
Perbedaan ini memicu diskusi besar mengenai apakah faktor usia benar-benar diperhitungkan dalam skema prioritas.
Guru pun mulai meragukan anggapan bahwa senior selalu mendapat tempat terdepan dalam pemanggilan.
Dicocokkan dengan Abjad Pun Tidak Berpola, Nama Awal Z dan A Sama-Sama Terpanggil
Di beberapa grup komunitas, guru dengan inisiatif tinggi mulai menyusun tabel pemanggilan berdasarkan abjad untuk mencari pola.
Namun hasilnya justru semakin membingungkan karena tidak ada urutan yang konsisten.
Nama berawalan A, D, M, hingga Z semuanya muncul secara acak tanpa hubungan yang terlihat.
Fakta ini membuat guru semakin sulit menebak faktor apa yang digunakan sistem sebagai prioritas panggilan.
Mereka semakin yakin bahwa abjad bukanlah pemicu utama seleksi Batch-IV.
TMT Tak Selalu Menentukan, Ada yang TMT 2012 Belum Terpanggil, TMT 2022 Justru Sudah Masuk Daftar
Banyak laporan menunjukkan bahwa TMT bukan indikator yang bisa dijadikan pegangan untuk memahami pola pemanggilan.
Guru dengan TMT 2012, 2013, hingga 2015 bahkan ada yang tetap tidak terpanggil meski sudah memenuhi seluruh persyaratan administrasi.
Sebaliknya, guru yang baru mengajar sejak 2021 atau 2022 justru dinyatakan masuk peserta Batch-IV.
Kondisi ini membuat banyak guru senior merasa tidak dihargai, karena masa pengabdian mereka seolah tidak memiliki bobot dalam penentuan prioritas.
Fenomena ini memperkuat anggapan bahwa sistem pemanggilan berjalan tanpa hierarki TMT.
Linearitas Sudah Dicek, Beban Kerja Sudah Sesuai, Tetapi Hasilnya Tetap Membingungkan
Tidak sedikit guru yang mengaku sudah melakukan pengecekan data di SIMPATIKA secara detail untuk memastikan tidak ada kesalahan.
Mereka memastikan ijazah linier, beban jam kerja sesuai, dan dokumen riwayat mengajar sudah diperbarui.
Namun upaya itu tetap tidak menjamin mereka masuk daftar panggilan Batch-IV.
Guru pun merasa bingung karena tidak ada kesalahan yang bisa dikoreksi, tetapi hasil tetap menunjukkan “Belum Terpanggil.”
Tanpa umpan balik yang jelas dari pusat, guru merasa proses PPG berjalan tanpa panduan yang transparan.
Guru Menuntut Penjelasan Buka-Tutup Sistem Pemanggilan Secara Jujur dan Terukur
Dengan banyaknya kejanggalan, guru mulai menuntut agar Kemenag memberikan penjelasan terkait mekanisme seleksi yang sesungguhnya.
Mereka berharap ada indikator yang dipublikasikan, seperti kuota per mapel, bobot TMT, status kekurangan guru daerah, atau prioritas tertentu yang selama ini dirahasiakan.
Guru juga menginginkan agar sistem memberikan notifikasi penyebab ketidaklulusan, sehingga mereka tidak perlu menebak-nebak faktor yang membuat mereka tersisih.
Transparansi dianggap menjadi satu-satunya jalan untuk memulihkan kepercayaan guru terhadap proses PPG.
Baca Juga: TPG TW 4 Melaju Kencang, TPG TW 3 Masih Tertahan! Ada Apa di Balik Perbedaan Ini?
Tanpa itu, wajar jika banyak guru menganggap pemanggilan Batch-IV ini misterius dan penuh tanda tanya.
Pemanggilan PPG Batch-IV Kemenag 2025 dianggap misterius karena tidak mengikuti pola yang dapat dipahami guru.
Usia bukan penentu, abjad tidak relevan, dan TMT pun tidak selalu menjadi prioritas.
Kebingungan ini muncul karena guru tidak diberi indikator yang jelas mengenai sistem seleksi.
Mereka membutuhkan penjelasan resmi agar tidak terus merasa berada dalam “undian PPG” yang sulit diprediksi.
Sampai Kemenag memberi transparansi penuh, wajar jika pemanggilan Batch-IV tetap dianggap penuh misteri.***




