POJOKSATU.id — Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah kegiatan pengukuran capaian akademik peserta didik pada mata pelajaran tertentu.
Tes Kemampuan Akademik ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan adanya pelaporan capaian akademik peserta didik dari penilaian yang terstandar.
Tes Kemampuan Akademik untuk jenjang SMA/MA/SMK/MAK/Sederajat difokuskan pada salah satu keterampilan berbahasa, yakni membaca.
Baca Juga: Contoh Soal dan Pembahasan Bahasa Indonesia SMA TKA 2025, untuk Bahan Belajar Kamu di Rumah!
Membaca dipilih sebagai fokus karena merupakan keterampilan utama yang menjadi fondasi untuk terus belajar dan bekerja pada era teknologi yang berubah dan berkembang dengan cepat.
Keterampilan membaca diujikan pada dua jenis teks, yakni teks informasi tunggal maupun jamak, serta teks fiksi.
Berikut salah satu contoh soal teks fiksi yang diambil langsung resmi dari Pusmendik.
Teks untuk Soal Nomor 5 s.d. 7
“E...gurumu itu orang desa ini juga. Pasti tahu bahwa saat ini musim maddongi (mengusir burung saat buah padi mulai menguning).
Besok kau menghadap, sampaikan bahwa kau membantu Ayah di sawah. Nah, pasti gurumu mengerti mengapa kamu tidak ke sekolah.”
Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Naik Lagi, Pertamina Pastikan Kenaikan Bersifat Tertarget dan Rasional
Aku terpana. Jawaban Ayah benar-benar membuatku hampir menangis histeris.
Bagaimana tidak. Lomba semakin dekat, sementara masih banyak materi yang belum aku paham.
Terbayang aku akan hancur dan tidak bisa bersaing dengan siswa sekolah lain. Ingin rasanya aku berteriak agar Ayahku tahu bagaimana kacaunya pikiranku.
Namun, aku sadar bahwa ini adalah perbuatan yang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan semakin membuat Ayahku geram.
Otakku terus berpikir untuk mencari solusi terbaik. Sambil berjalan mengikuti Ayah dari belakang, aku mulai menyusun strategi.
“Bagaimana kalau aku ke rumah iyye-ku (nenek), menyampaikan masalahku ini. Ya, hanya dia yang mampu menundukkan Ayah.”
Baca Juga: Ringkasan LENGKAP Materi Teks Cerita Pendek Bahasa Indonesia Kelas VIII Semester 2 Kurikulum Merdeka
Esok harinya, sepulang sekolah, kuayunkan sepedaku menuju rumah iyye-ku.
“Kenapa kamu lesu?” Iyye menanyakan keadaanku. Aku pun menceritakan semuanya kepada iyye.
“Ya sudah, tidak usah sedih. Nanti kusampaikan pada ayahmu. Kau ke dalam, makan dulu, baru pulang,” ujar iyye-ku.
(Piala di Atas Dangau, Muhammad Isrul, dengan penyesuaian)
5. Apa permasalahan yan dihadapi tokoh aku dalam kutipan tersebut?
Tentukan Benar atau Salah untuk setiap pernyataan berikut.
A. Kekecewaan dan kesedihan tokoh aku terhadap sikap Ayahnya yang tidak mengizinkannya masuk sekolah di musim maddongi, padahal dia harus mempersiapkan diri untuk bersaing dalam lomba dengan siswa sekolah lain.
B. Kemarahan hati tokoh aku terhadap Ayahnya yang melarang dia pergi sekolah karena sedang musim maddongi di sawah dan dia diberi tugas menghalau burung yang hinggap pada padi di sawah mereka.
Baca Juga: Viral! UAS Bela Abdul Wahid di Tengah Kasus OTT KPK, Antara Solidaritas Ulama dan Isu Politik
C. Perasaan tertekan tokoh aku terhadap peraturan keluarganya yang mengharuskan dia tidak masuk sekolah setiap musim maddongi, padahal dia ingin sekali belajar dan tidak mau ketinggalan pelajaran.
Jawaban: Benar, Salah, Salah
Pembahasan:
Permasalahan utama yan dihadapi tokoh aku adalah kekecewaan dan kesedihan terhadap sikap Ayahnya yang tidak mengizinkannya bersekolah selama musim maddogi (mengusir burung di sawah).
Maka, pernyataan A benar karena menggambarkan inti konflik batin tokoh aku antara tanggung jawab keluarga dan keinginannya untuk belajar.
Sedangkan pernyataan B dan B kurang tepat karena tidak ada keterangan bahwa tokoh aku marah kepada Ayahnya atau bahwa aturan itu merupakan peraturan keluarga yang berlaku setiap tahun.
6. Apa yang akan terjadi jika tokoh aku tidak datang ke rumah iyye?
Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.
Iyye akan datang menasehati Ayah karena melarang tokoh aku untuk belajar.
Tokoh aku akan kehilangan kesempatan belajar untuk mengikuti
Ayah akan tetap melarang tokoh aku untuk belajar dan mengikuti lomba.
Permasalahan tokoh aku dan ayah akan berlarut karena tidak terselesaikan.
Tokoh aku tidak akan bisa fokus untuk belajar dan mengikuti lomba yang diadakan sekolah.
Jawaban: Pernyataan kedua dan pernyataan keempat
Pembahasan: Jika tokoh aku tidak datang ke rumah Iyye, maka:
Tokoh aku kehilangan kesempatan belajar untuk mempersiapkan lomba, artinya pernyataan kedua benar.
Permasalahan antara tokoh aku dan ayahnya akan berlarut, karena tidak ada pihak yang bisa menengahi, yang berarti pernyataan keempat benar.
Nenek (Iyye) berperan penting sebagai tokoh penengah yang mampu menenangkan dna memengaruhi keputusan Ayah.
Sementara itu, pada pernyataan lain seperti "iyye akan datang menasihati Ayah" atau "Ayah tetap melarang belajar" tidak secara eksplisit disebutkan dalam teks, sehingga pernyataan tersebut tidak dapat dipastikan benar.
7. Keterkaitan nilai sosial dalam kutipan cerpen tersebut dengan kehidupan sehari-hari adalah …
A. Masih ditemukan orang tua yang tidak memedulikan pendidikan anaknya demi membantu pekerjaan mereka.
B. Terbenturnya cita-cita anak karena tradisi sebuah keluarga yang mengutamakan anak mampu bekerja mandiri.
C. Asumsi bahwa bekerja lebih bermanfaat daripada sekolah yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa untuk keluarga.
D. Kebiasaan anak-anak tidak sekolah di musim maddongi demi menjalankan tradisi di lingkungan keluarga mereka.
E. Orang tua mengarahkan anak-anak untuk rajin bekerja membantu mereka di sawah agar bisa melanjutkan kehidupannya kelak.
Jawaban: A
Baca Juga: Mengatasi Kecemasan pada Matematika: Langkah Awal Meningkatkan Kemampuan Numerasi
Pembahasan:
Nilai sosial yang tergambar dalam teks adalah benturan antara kebutuhan ekonomi keluarga dan pentingnya pendidikan anak.
Dalam kehidupan nyata, masih banyak kasus ketika orang tua mengajak anaknya bekerja membantu mereka di ladang, sawah, atau usaha keluarga, sehingga anak kehilangan waktu belajar.
Situasi seperti ini menggambarkan tantangan sosial di beberapa daerah, di mana pemahaman akan pentingnya pendidikan masih kalah dengan kebutuhan ekonomi jangka pendek.
Baca Juga: MKD Nyatakan Tak Bersalah, Publik Masih Debat, Sudahkah Uya Kuya Rehabilitasi Nama Baiknya?
Oleh karena itu, jawaban A paling tepat, sedangkan opsi lain terlalu menekankan pada tradisi atau asumsi tertentu yang tidak sepenuhnya muncul di dalam teks.
Itulah contoh soal dan pembahasan teks fiksi untuk Bahasa indonesia TKA jenjang SMA.***




