POJOKSATU.id - Di balik gelar “guru profesional” yang terdengar mulia, ada ribuan calon pendidik yang kini berjuang dalam diam.
Tahun 2025 menjadi babak baru bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) di seluruh Indonesia.
Program ini kembali menyita perhatian karena tak hanya menguji kecerdasan akademik, tapi juga daya tahan mental dan fisik yang luar biasa.
Baca Juga: Tak Lagi Sekadar Kontrak, Harapan Baru di Balik Seragam PPPK 2025
PPG memang dirancang untuk mencetak guru berkualitas.
Namun, di lapangan, banyak peserta mengaku bahwa yang paling menantang bukanlah ujian teori atau praktik mengajar, melainkan tekanan mental yang datang tanpa henti.
Dari tumpukan tugas refleksi, microteaching setiap hari, hingga waktu belajar yang mengorbankan waktu tidur, semuanya seolah menguras habis tenaga dan emosi.
Baca Juga: Satu Kesalahan di Dapodik Bisa Bikin Tunjangan Hangus, Ini Cara Cek Data Ganda!
Tak sedikit peserta yang menyebut PPG sebagai “ujian hidup” sebelum benar-benar menjadi guru.
PPG yang Menguras Segalanya
Sebuah survei komunitas PPG Indonesia pada akhir 2024 mencatat bahwa 67 persen peserta mengaku mengalami stres berat selama mengikuti program.
Baca Juga: Ketidakpastian Transisi PPPK Paruh Waktu dan Desakan Penegasan Regulasi
Rata-rata peserta menghabiskan 6 hingga 8 jam setiap hari hanya untuk tugas microteaching, refleksi, dan evaluasi diri.
Beban berat ini tak hanya menguji otak, tapi juga mental dan stamina.
Apalagi banyak dari mereka adalah guru honorer yang tetap harus mengajar di sekolah sambil mengikuti PPG daring atau tatap muka.
Data Kemendikdasmen menyebutkan, sekitar 42 persen peserta PPG berasal dari guru honorer aktif yang masih mengajar di sekolah dasar dan menengah.
Bisa dibayangkan, pagi mengajar di sekolah, sore mengerjakan tugas PPG, malam menyiapkan perangkat ajar, dan dini hari baru sempat tidur.
Tak heran jika banyak peserta merasa kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan.
Curhatan Para Peserta
Dari berbagai grup komunitas PPG di media sosial, banyak peserta mencurahkan isi hati mereka.
Baca Juga: Siap Ujian? Ini Kumpulan Soal Matematika TKA Kelas 6 yang Wajib Kamu Coba!
Salah satu peserta menulis, “Tidur cuma tiga jam sehari, tugas belum selesai, microteaching besok pagi. Rasanya mau menyerah, tapi ingat anak didik, jadi lanjut.”
Curhatan semacam ini bukan hal langka.
Banyak calon guru mengaku kehilangan waktu bersama keluarga, kelelahan ekstrem, hingga merasa tertekan dengan sistem penilaian yang ketat.
Bahkan, beberapa peserta sempat mengalami gejala burnout karena terus-menerus dikejar tenggat waktu dan evaluasi tanpa jeda.
Namun di sisi lain, ada pula yang justru menemukan kekuatan baru dalam proses ini.
Mereka menyebut PPG sebagai tempat pembentukan karakter sejati guru.
Bukan sekadar penguji kemampuan mengajar, tapi penguji kesabaran dan konsistensi.
Daya Tahan Mental Jadi Penentu Lulus Tidaknya Peserta
PPG kini bukan hanya tentang pengetahuan pedagogik atau kemampuan akademik, tetapi juga tentang bagaimana peserta mengelola tekanan.
Dosen pembimbing dan asesor PPG sering menekankan pentingnya manajemen stres dan keseimbangan diri selama proses berlangsung.
Banyak peserta yang gagal bukan karena nilai akademik rendah, melainkan karena tidak mampu menyelesaikan seluruh rangkaian tugas akibat stres dan kelelahan.
Program yang padat, sistem ujian yang ketat, serta evaluasi berjenjang membuat banyak calon guru akhirnya menyerah di tengah jalan.
Namun di tengah segala tekanan itu, ada pula cerita inspiratif.
Beberapa peserta yang awalnya merasa tak sanggup akhirnya berhasil lulus dengan nilai memuaskan.
Mereka membuktikan bahwa ketekunan dan semangat juang tetap menjadi kunci utama.
Butuh Sistem yang Lebih Manusiawi
Dari banyaknya keluhan yang muncul, sejumlah pihak mulai mendorong adanya evaluasi terhadap sistem PPG.
Baca Juga: Jembatan Rapuh di Cipayung Diganti Darurat, Pembangunan Permanen Menyusul di 2026
Banyak yang menilai program ini terlalu menitikberatkan pada administrasi dan beban akademik, sementara aspek kesejahteraan mental peserta kerap terabaikan.
Sebagai perbandingan, pelatihan profesi guru di negara seperti Finlandia lebih fokus pada riset, praktik mengajar yang mendalam, dan keseimbangan antara teori serta pengalaman lapangan.
Sementara di Indonesia, tekanan administratif masih menjadi momok yang membuat calon guru justru kehilangan fokus utama: membangun karakter pendidik yang berdaya dan berjiwa pengajar sejati.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Menjadi guru bukan sekadar soal lulus PPG, tetapi tentang melewati proses panjang yang membentuk kepribadian.
Para peserta yang kini tengah berjuang di tahun 2025 adalah potret nyata dari semangat pendidikan Indonesia, lelah, tapi tak menyerah.
Baca Juga: Dua Kabar yang Bikin Guru Tersenyum, Peluang Belajar dan Hak Finansial yang Akhirnya Cair
Program PPG seharusnya menjadi ruang pembelajaran yang membangun, bukan arena tekanan yang membuat banyak calon guru tumbang.
Jika keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan mental bisa dijaga, bukan tidak mungkin PPG 2025 akan melahirkan guru-guru tangguh yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara emosional.
Sebab, pendidikan sejatinya tak hanya tentang mengajar dengan kepala, tapi juga dengan hati.***




