POJOKSATU.id - Technical Meeting Madrasah Robotic Competition (MRC) 2025 berlangsung penuh semangat di Bogor, Jumat 31 Oktober 2025, mengawali kompetisi teknologi santri madrasah.
Fikria Malihah, Kepala Subbag Tata Usaha Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, menyambut para finalis terbaik dari seluruh penjuru Indonesia.
"Kami bangga dengan semangat dan karya kalian yang membawa nama madrasah hingga ke tingkat nasional. Teruslah berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa," ujar Fikria.
Kehadiran peserta dari daerah jauh sepeti Sulawesi dan Kalimantan, menurut Fikria, membuktikan daya saing madrasah di era digital dan pentingnya kolaborasi.
Koordinator Dewan Juri MRC 2025, Prof. Arko, menegaskan kompetisi ini adalah ajang pembentukan karakter dan implementasi nilai-nilai keislaman.
Prof. Arko menyoroti tiga pilar krusial bagi peserta, yakni sportivitas, integritas, dan penugasan kompetensi teknis.
Baca Juga: Terlibat Kasus Pencemaran Nama Baik, Hakim PN Jakut Vonis Bos PT MEIS 10 Bulan Penjara
"Robotika bukan hanya soal mesin, tetapi soal kemauan, kejujuran, dan tanggung jawab. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil," ungkapnya.
Ia turut memaparkan metode Design Thinking agar peserta berempati pada masalah sosial dan menciptakan solusi teknologi yang aplikatif.
"Santri madrasah harus menjadi pionir inovasi yang berakar dari nilai-nilai keimanan dan memberi manfaat bagi lingkungan," tambah Prof Arko.
Sesi teknis menekankan aturan ketat, di mana pendamping dan suporter dilarang memberi arahan untuk menjaga fair play dan kemandirian peserta.
"MRC bukan sekadar lomba teknologi, tetapi ruang pembuktian bahwa santri mampu berkiprah di dunia digital tanpa meninggalkan akhlak dan adabnya," ujarnya.
Peserta diingatkan kembali akan visi luhur MRC, yakni "Madrasah Maju, Bermutu, dan Mendunia" sebagai pusat keunggulan sains global.
Kegiatan ditutup dengan pembagian sesi pembekalan teknis per juri, mencakup aspek presentasi, pengujian robot, dan kriteria penilaian.***




