POJOKSATU.id - Anggota DPR RI Komisi VIII, Dini Rahmania atau akrab disapa Dini mendatangkan kisah inspiratif di dunia pendidikan.

Sebelumnya, Ning Dini diberikan penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2025 dari Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN).

Penghargaan diberikan sebab Ning Dini sudah berani memperjuangkan keadilan bagi guru madrasah.

Simak kisah inspiratif selengkapnya dari Ning Dini, di bawah ini.

Semangat Ning Dini perjuangkan nasib guru madrasah. Dia berkomitmen untuk memajukan pendidikan Islam, Ning Dini memfokuskan perjuangan untuk satu hal.

Baca Juga: Gegara Kasus Pencemaran Nama Baik, Hendra Lie Dihukum 10 Bulan Penjara

Yakni memastikan bahwa guru madrasah, guru TPK, dan tenaga pengajar di madrasah diniyah serta pesantren mendapat hak yang sama dengan guru di sekolah umum.

Ning Dini ingin guru madrasah memiliki kesejahteraan yang setara dengan para guru di sekolah umum.

“Karena mereka (guru madrasah) sama-sama berjuang mencerdaskan bangsa,” ungkap Ning Dini.

Sebagai perwakilan rakyat, Ning Dini juga selalu menampung aspirasi rakyat.

Rakyat banyak mendesak soal nasib guru madrasah yang jauh dari guru sekolah negeri.

Baca Juga: Polwan Polres Karawang Berbagi Berkah dan Bersihkan Masjid di Hari Jumat

Bahkan ada, guru madrasah yang hanya menerima insentif sekitar Rp250 ribu per bulan.

Kondisi itulah yang membuat Ning Dini bergerak dan menyuarakan soal kesejahteraan guru madrasah.

Bukan hanya soal gaji, Ning Dini menyuarakan terkait lamanya proses pengangkatan guru madrasah menjadi ASN atau P3K.

Ning Dini mau kebijakan tersebut segera dibenahi supaya tidak menimbulkan ketimpangan baru di sektor pendidikan.

Pandangan soal Pendidikan

Anggota DPR RI Periode 2024–2029 dari Dapil Jawa Timur II, memperjelas pentingnya madrasah dan lembaga pendidikan Islam.

Menurutnya pendidikan islam lah yang mampu membuat generasi bangsa menjadi lebih baik. Terutama dalam hal pembentukan karakter.

Dengan begitu, para pendidik di sekolah Islam atau madrasah perlu diberi penghargaan finansial.

Perjuangan Ning Dini ternyata bukan hanya opini semata, karena datanya memang sudah sesuai riset.

Berdasarkan data Pusat Riset Pendidikan dan Kebudayaan BRIN (2024), rata-rata pendapatan para guru madrasah swasta memang masih di bawah 40% dari standar gaji guru sekolah negeri.***