POJOKSATU.id, KASUS keracunan makanan yang menimpa ribuan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah mengundang keprihatinan mendalam dari kalangan pendidik.
Dari Karanganyar, muncul sebuah inovasi sederhana namun bermanfaat. Adalah Taufik Mulyadi, guru ekonomi di SMA Negeri 2 Karanganyar, yang menciptakan aplikasi Android bernama Save Eat Smandakara.
Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi kelayakan makanan secara visual sebelum dibagikan kepada siswa.
“Berawal dari banyaknya kasus keracunan MBG yang sudah menimpa lebih dari 5.000 siswa di beberapa daerah, termasuk di Karanganyar, saya mencoba membuat aplikasi sederhana untuk membantu mendeteksi makanan yang tidak layak konsumsi secara visual,” jelas Taufik saat ditemui, Selasa, 14 Oktober 2025.
Cara Kerja Save Eat Smandakara
Aplikasi Save Eat Smandakara memanfaatkan teknologi pengamatan visual yang mudah digunakan oleh petugas MBG.
Petugas hanya perlu memotret makanan yang akan disajikan, lalu mengisi sejumlah indikator yang tersedia di aplikasi, seperti:
-Kondisi warna makanan
-Adanya lendir, jamur, atau bau tengik
-Keberadaan belatung
-Indikator aroma
Tidak hanya itu, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk produk dalam kemasan, misalnya susu.
Baca Juga: Ledakan Tabung Gas di Komplek Taman Palem Cengkareng, Dua Korban Luka Bakar Cukup Parah
Indikator khusus disediakan untuk mendeteksi apakah kemasan mengembung, bocor, berlendir, atau mengeluarkan gas saat dibuka.
Setelah indikator diisi, sistem akan menganalisis data dan menampilkan persentase kelayakan makanan.
“Jika 100 persen dinyatakan layak konsumsi, maka makanan bisa langsung didistribusikan ke siswa,” kata Taufik.
Namun, jika hasil menunjukkan nilai di bawah 70 persen, panitia akan melakukan diskusi untuk menentukan apakah makanan tersebut sebaiknya tidak dibagikan.
Uji Coba dan Harapan Pengembangan
Taufik telah melakukan uji coba langsung bersama tim MBG di SMA Negeri 2 Karanganyar.
Dalam demo yang digelar pada Selasa pagi, ia menunjukkan proses kerja aplikasi mulai dari pengambilan foto makanan hingga input data.
Hasil analisis menampilkan angka 100 persen, yang berarti makanan tersebut aman dan layak konsumsi.
“Yang penting bukan hanya hasilnya, tapi proses pengecekannya yang lebih aman, praktis, dan tidak menimbulkan rasa was-was,” ujarnya sambil memperlihatkan tampilan aplikasinya.
Meski masih sebatas deteksi visual dan belum sampai pada tahap uji laboratorium, Taufik yakin inovasi ini bisa menjadi alat bantu awal yang efektif, terutama di sekolah-sekolah yang belum memiliki fasilitas laboratorium pangan.
Menurutnya, berdasarkan literatur ilmiah, deteksi visual bisa menjadi tahap awal yang valid untuk menilai apakah makanan masih aman atau tidak laik dikonsumsi.
Ia berharap aplikasi Save Eat Smandakara tidak hanya bermanfaat di SMA Negeri 2 Karanganyar, tetapi juga dapat diadopsi oleh sekolah-sekolah lain yang menjadi penerima program MBG di seluruh Indonesia. ***




