POJOKSATU.id – Di ruang besar yang dibungkus pendingin udara Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat siang, 15 Agustus 2025, Ahmad Muzani berdiri tegak.
Ketua MPR RI itu berbicara di hadapan Presiden, para legislator, dan bangsa yang diam-diam sedang resah.
Di usia ke-80 tahun republik, ia mengulang sesuatu yang kedengarannya sederhana: Indonesia masih berada di jalur benar.
Jalur benar yang dimaksud Muzani bukan sekadar retorika. Ia menunjuk ke arah tiga program besar pemerintahan Prabowo Subianto.
Baca Juga: Cara Mudah Pindah BPJS Kesehatan PBI ke Mandiri September 2025
Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan Sekolah Rakyat.
Tiga kata kunci yang dalam imajinasinya mampu menjembatani cita-cita kemerdekaan dengan kebutuhan riil warga sehari-hari.
Perut yang kenyang, tubuh yang sehat, dan akses pendidikan bagi anak-anak miskin.
"Program Makan Bergizi Gratis adalah program istimewa. Ia bukan sekadar memberi makan, melainkan investasi besar bagi masa depan bangsa," ujar Muzani.
Baca Juga: Cara Praktis Bersihkan Kulkas dengan Bahan Dapur Sederhana, Modal di Bawah Rp10 Ribu!
Kata-kata itu, yang disampaikan di forum formal tahunan MPR-DPR-DPD, terdengar seperti doa yang dipaksa berbentuk pidato.
Indonesia, seperti diakui Muzani, lama diganggu dua "hantu", yakni gizi buruk dan stunting.
Dua kata yang sering muncul di laporan WHO atau BPS, tapi maknanya nyata di tubuh anak-anak yang tumbuh tak seimbang di kampung-kampung.
Dengan MBG, pemerintah berjanji setiap anak akan mendapatkan akses makanan bergizi, bukan hanya nasi dan garam.
Di luar gedung parlemen, efek program itu mulai tampak. Bukan hanya perut anak-anak yang lebih kenyang, tetapi pasar lokal ikut bergerak.
Petani sayur di Brebes, peternak ayam di Blitar, sampai nelayan kecil di Pangkep mulai merasakan ada pasar yang terjamin.
“Program ini telah menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus instrumen pemerataan ekonomi,” tegas Muzani.
Baca Juga: Cara Hapus Data Pribadi dari Aplikasi Pinjol, Ini Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan
Tak hanya MBG dan CKG, Muzani juga menyinggung Koperasi Merah Putih.
Baginya, koperasi ini adalah alat yang bisa menggerakkan roda ekonomi di pedesaan, semacam mesin lama yang coba dihidupkan lagi setelah sekian lama terbengkalai.
Lalu datanglah Sekolah Rakyat. Program ini dipersembahkan khusus untuk anak-anak yang tak mampu membayar biaya pendidikan formal.
Muzani menyebutnya jalan keluar bagi anak bangsa yang ingin menjemput masa depan lebih baik.
Baca Juga: Cara Mudah Login dan Cetak Kartu Sulingjar 2025 untuk Guru dan Kepala Sekolah
Ia tidak berbicara panjang lebar, tapi cukup untuk membuat publik menangkap sinyal bahwa pendidikan gratis masih dianggap sebagai salah satu hak dasar.
Dari sisi pemerintah, data terbaru diumumkan Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Dedek Prayudi, Selasa, 29 Juli 2025.
Hingga pekan lalu, ada 6.379.433 orang penerima manfaat MBG.
Mereka tersebar mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak sekolah sampai tingkat SMA.
Angka itu bukan sekadar statistik; ia menggambarkan skala operasi sebuah program sosial yang mencoba menyentuh jutaan perut sekaligus.
Dedek menjelaskan, distribusi bantuan makanan bergizi dilakukan melalui 2.109 Unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau dapur MBG, yang tersebar di banyak daerah.
Dari dapur-dapur itulah makanan bergizi didistribusikan ke sekolah, posyandu, dan rumah-rumah warga miskin.
Yang menarik, program MBG juga mulai masuk ke Sekolah Rakyat. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang tergabung di sana kini ikut menerima manfaat.
Hingga pekan lalu, 848 anak peserta Sekolah Rakyat sudah mendapat bagian.
Baca Juga: Momentum 20 Tahun Himpaudi, Perjuangan Guru PAUD Nonformal Belum Usai
Angka kecil memang, tapi Dedek memastikan jumlah itu akan terus bertambah seiring masifnya jangkauan MBG.
Dalam lanskap politik yang penuh perdebatan, ucapan Muzani seperti sebuah penegasan.
Ia ingin meyakinkan publik bahwa arah pemerintahan Prabowo tidak salah jalur.
Bahwa memberi makan, memberi kesehatan, dan membuka sekolah adalah kerja-kerja yang jauh lebih penting daripada sekadar pidato panjang tentang ideologi.
Mungkin benar, jalur itu belum sepenuhnya mulus. Tetapi seperti diucapkan Muzani, jalur itu sudah benar.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
Di republik yang sering tersesat arah, menemukan jalur benar adalah sebuah kabar baik.***


