POJOKSATU.id – Di sebuah ruang kelas yang menempel di kampus Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung, ratusan murid baru sedang belajar mengenal dunia baru mereka.

Sekolah Rakyat Menengah Atas 11 berdiri dengan seratus murid angkatan pertama

Di sinilah sebuah eksperimen pendidikan dijalankan: tiga kurikulum yang diramu untuk mereka yang datang dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Direktur Poltekesos, Suharma, menyebutnya sebagai kurikulum orientasi, kurikulum formal, dan kurikulum asrama.

Baca Juga: Cara Mudah Pindah BPJS Kesehatan PBI ke Mandiri September 2025

Ia menerangkan bahwa orientasi tidak sekadar “masa pengenalan lingkungan sekolah” ala lembaga pendidikan konvensional.

Dua bulan pertama, dipakai untuk mempersiapkan murid beradaptasi dengan kehidupan asrama.

"Mereka harus saling mengenal, belajar membangun kebersamaan, karena kehidupan sehari-hari tidak bisa dipisahkan dari ruang tidur, meja makan, dan ruang belajar," ujarnya, Senin 14 Juli 2025.

Di luar itu, ada kurikulum formal dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, persis seperti sekolah umum.

Baca Juga: Cara Praktis Bersihkan Kulkas dengan Bahan Dapur Sederhana, Modal di Bawah Rp10 Ribu!

Bedanya, seluruh murid diberi laptop untuk menopang pembelajaran mandiri.

Modul digital disediakan dalam aplikasi Sekolahku, sebuah akses masuk ke dunia pembelajaran berbasis sistem manajemen.

Siswa tidak lagi hanya mengandalkan papan tulis dan buku paket.

"Setiap murid didampingi wali asuh, bukan sekadar guru yang mengajar lalu pulang," kata Suharma.

Lapisan terakhir adalah kurikulum asrama. Ia menyangkut pembentukan karakter yang lebih dalam daripada hafalan mata pelajaran.

Bakat dan minat murid dipetakan sejak awal lewat tes yang digarap Universitas Ary Ginanjar.

Dari sana, guru diharapkan bisa memoles kecenderungan tiap anak.

Ada yang diarahkan ke seni, ada yang ke kepemimpinan, ada pula yang dilatih untuk mengembangkan keterampilan wirausaha.

Baca Juga: Cara Hapus Data Pribadi dari Aplikasi Pinjol, Ini Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan

Namun, eksperimen ini tidak hanya berbicara soal kurikulum. Ada pula pernak-pernik fasilitas yang menyertainya.

Dari delapan stel seragam untuk tiap murid hingga smartboard yang masih dalam perjalanan dari Jakarta.

Laptop pun, kata Suharma, baru akan tiba dua-tiga minggu mendatang. Sambil menunggu, murid tetap memakai seragam SMP lama mereka.

Targetnya, semua lengkap sebelum Presiden Prabowo meresmikan Sekolah Rakyat pada awal Agustus.

Baca Juga: Cara Mudah Login dan Cetak Kartu Sulingjar 2025 untuk Guru dan Kepala Sekolah

"Supaya orang tua dan siswa tenang, bisa belajar sungguh-sungguh dengan sarana yang sudah dijanjikan negara," katanya.

Bagi sebagian murid, janji itu lebih dari cukup.

Firdaus M. Azhar, lulusan SMPN 27 Bandung, memilih meninggalkan SMA negeri tempat ia sebenarnya sudah diterima melalui sistem SPMB.

Anak bungsu dari keluarga buruh bangunan dan tukang jahit itu mengaku tertarik karena semua kebutuhan ditanggung gratis.

"Makan, pakaian, semua ada," ujarnya.

Kisah serupa terdengar dari orang tua murid. Uus Kuswendi, warga Gegerkalong yang sehari-hari bekerja serabutan, terharu saat melepas anaknya.

Tiga bulan pertama, kata aturan, anak-anak memang harus beradaptasi dulu tanpa kunjungan keluarga. Baru setelah itu pintu asrama dibuka bagi orang tua.

Ada pula Yeni Setia Asmanah yang menahan air mata ketika menyerahkan putrinya ke asrama.

"Harapannya bisa belajar baik dan mandiri," ucapnya.

Baca Juga: Momentum 20 Tahun Himpaudi, Perjuangan Guru PAUD Nonformal Belum Usai

Cerita di Bandung hanya satu potret. Di Medan, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2, Maragoti, menyebut sekolah ini hadir untuk memuliakan anak-anak miskin.

Ia menegaskan bahwa yang ditawarkan bukan sekadar pendidikan gratis, melainkan kualitas yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan.

Kementerian Sosial merumuskan kerangka yang mereka sebut kurikulum persiapan, kurikulum formal, dan kurikulum asrama.

Persiapan menekankan asesmen kesiapan fisik, mental, dan akademik. Formal tetap mengacu pada standar nasional dengan pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, hingga ekstrakurikuler.

Baca Juga: Bunda Wajib Tahu, Ini Dia 10 Tips Mudah Stimulasi Bicara Anak yang Bisa Diterapkan di Rumah

Asrama, di sisi lain, fokus pada penanaman karakter, kepemimpinan, spiritualitas, cinta tanah air, serta bahasa dan komunikasi.

Jika berhasil, kombinasi ini akan melahirkan lulusan dengan lima ciri.

Akhlak dan keagamaan yang kuat, karakter kepemimpinan, penguasaan bahasa serta literasi digital, jiwa wirausaha, dan ketuntasan akademik.

Tiga jalan pendidikan ini, orientasi–formal–asrama, mungkin tampak berat bagi anak-anak baru itu.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android dan Versi iOS

Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov

Di balik air mata perpisahan, ada sebuah harapa, bahwa sekolah bukan sekadar tempat mencari nilai, melainkan tempat mengubah arah hidup.***