POJOKSATU.id – Senin, 14 Juli 2025, belasan bus berhenti di gerbang sebuah bangunan bercat putih di pinggiran Balikpapan.
Dari dalamnya turun anak-anak dengan wajah canggung sekaligus bersemangat.
Mereka mengenakan seragam baru, menenteng tas ransel yang masih kaku.
Hari itu, 63 Sekolah Rakyat resmi dibuka di bawah Kementerian Sosial.
Baca Juga: Cara Hapus Data Pribadi dari Aplikasi Pinjol, Ini Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan
Bagi sebagian besar anak itu, masuk asrama adalah pengalaman pertama.
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi keluarga miskin, terutama mereka yang tercatat dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tidak ada biaya yang dibebankan. Semua sudah ditanggung negara. Mulai dari seragam, makan tiga kali sehari, laptop, bahkan pemeriksaan kesehatan.
"Di akhir Juli nanti, 37 titik lainnya akan mulai beroperasi, sehingga genap 100 sekolah," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Baca Juga: Cara Mudah Login dan Cetak Kartu Sulingjar 2025 untuk Guru dan Kepala Sekolah
Menurut Gus Ipul, sapaan akrabnya, alasan mengapa 37 titik itu belum dibuka sederhana, yakni karena renovasi sarana dan prasarana belum rampung.
Namun tenaga pendidik dan siswa sebenarnya sudah siap.
Sekolah Rakyat ini bukan sekadar sekolah. Ia dirancang sebagai boarding school dengan standar yang, kata Gus Ipul, tidak kalah dari sekolah unggulan swasta.
Para siswa tinggal di asrama yang bersih, berkelas, dan layak huni.
Setiap hari mereka akan mendapat makanan dengan menu bergizi yang didampingi oleh Badan Gizi Nasional. Bahkan camilan disediakan dua kali sehari.
Selain kebutuhan dasar, ada pula fasilitas penunjang seperti seragam lengkap mulai dari jas almamater, seragam dinas lapangan, batik identitas, baju olahraga, seragam Pramuka, sampai jas laboratorium.
Pemeriksaan kesehatan meliputi gigi, mata, jantung, darah, tinggi, dan berat badan. Anak-anak ini juga akan menjalani talent mapping, untuk memetakan minat serta bakat yang mereka miliki.
Baca Juga: Bunda Wajib Tahu, Ini Dia 10 Tips Mudah Stimulasi Bicara Anak yang Bisa Diterapkan di Rumah
Sistem pembelajaran dibuat bertingkat. Pada siang hari, siswa mengikuti pendidikan formal dengan kurikulum yang menggabungkan pelajaran akademik, literasi digital, serta bahasa dan matematika.
Pada malam hari, giliran pendidikan karakter: penguatan nilai-nilai agama, kepemimpinan, hingga keterampilan hidup.
Sekolah Rakyat juga membuka ruang bagi kegiatan ekstrakurikuler, supaya anak-anak bisa mengasah hobi dan minat masing-masing.
Gus Ipul sempat menyebut bahwa prototipe sekolah ini sudah disetujui Presiden.
Baca Juga: Anak Sering Emosi? Awas Harus Waspada ADHD, Begini Cara Efektif Menanganinya di Rumah
Targetnya, satu sekolah bisa menampung lebih dari seribu siswa, dari jenjang SD hingga SMA.
Ruang kelas, kantin, tempat ibadah, lapangan olahraga, hingga smartboard digital tersedia di setiap titik.
Laptop diberikan kepada siswa, sementara guru dibekali dengan metode pembelajaran berbasis teknologi.
Atmosfer yang ingin dibangun bukan sekadar ruang belajar, melainkan rumah baru: tempat anak-anak dari keluarga miskin bisa merasa dihargai.
Pendidikan di sini bukan hanya jalan keluar dari kemiskinan, tapi juga upaya negara untuk memulihkan martabat warganya.
"Intinya, Insya Allah fasilitas Sekolah Rakyat tidak kalah dengan sekolah unggulan," ujar Gus Ipul.
Pernyataan itu mengandung optimisme yang jarang terdengar: bahwa negara, lewat kebijakan ini, bisa menghadirkan pendidikan yang betul-betul setara bagi semua orang.
Pada akhirnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan tapi janji yang diwujudkan.
Yakni sekolah gratis dnegan fasilitas lengkap, untuk mereka yang selama ini hanya bisa bermimpi duduk di bangku pendidikan yang layak.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
Dari 63 titik Sekolah Rakyat yang sudah berdiri, semoga cahaya itu bisa menyebar ke seluruh pelosok negeri.***



