POJOKSATU.id, MENGASUH anak yang sering marah atau kesulitan mengendalikan emosi memang bisa bikin orang tua kewalahan.

Tapi, tahukah Bunda? Bisa jadi kondisi itu bukan sekadar “nakal” atau “sulit diatur”, melainkan tanda Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).

Gangguan perkembangan ini bukan hanya memengaruhi kemampuan fokus, tetapi juga kontrol impuls dan kestabilan emosi anak.

Kalau tidak dikenali sejak dini, ADHD dapat menimbulkan berbagai tantangan, mulai dari kecemasan, konflik dalam pertemanan, hingga penurunan prestasi di sekolah.

Baca Juga: Rahasia Bikin Rak Piring Kinclong, Cuma Pakai Dua Bahan Dapur

Oleh karena itu, penting banget bagi orang tua untuk waspada sejak awal dan tahu cara menanganinya.

Apa Itu ADHD dan Kenapa Bisa Bikin Anak Mudah Emosi?

Menurut Mayo Clinic Health System, ADHD merupakan kondisi neuroperilaku kronis yang bisa berlangsung hingga dewasa.

Anak dengan ADHD sering kesulitan mempertahankan perhatian, sangat aktif, dan cenderung impulsif.

Nah, sifat impulsif inilah yang membuat anak mudah marah, sulit sabar, bahkan tampak “meledak-ledak” ketika menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Menyongsong Sekolah Rakyat: Tahap 1C Dikebut Rampung September 2025

Tipe-Tipe ADHD yang Perlu Dikenali

Sebelum melangkah ke cara penanganan, yuk kenali dulu jenis ADHD pada anak:

-ADHD Tipe Inatentif (ADD): Anak sulit fokus, sering melamun, tapi tidak terlalu hiperaktif.

-ADHD Tipe Hiperaktif/Impulsif: Anak sangat aktif, banyak bergerak, sulit diam, dan sering bertindak tanpa berpikir.

-ADHD Kombinasi: Paling umum, di mana gejala sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif muncul sekaligus.

Dengan memahami tipenya, orang tua bisa lebih tepat dalam memberikan dukungan.

Baca Juga: Beda Sri Mulyani dan Purbaya Yudhi Sadewa Versi Ekonom Senior Yanuar, Monetaris vs Keynesian

Cara Efektif Menangani Anak ADHD yang Sering Emosi

Nah, sekarang saatnya bahas strategi praktis yang bisa Bunda dan Ayah terapkan di rumah:

1. Berikan Pujian Lebih Sering

Anak ADHD biasanya lebih sering dikritik daripada dipuji.

Supaya harga dirinya terjaga, biasakan memberi apresiasi ketika ia berhasil mengikuti aturan. Ingat, satu kritik perlu diimbangi dengan lima kali pujian!

2. Gunakan Instruksi Singkat dan Jelas

Jangan berikan perintah panjang yang membingungkan. Gunakan kalimat singkat, kontak mata, atau sentuhan lembut agar anak fokus.

3. Bangun Gaya Hidup Sehat

Tidur cukup, makan bergizi, rutin minum air, dan aktif bergerak dapat membantu mengurangi gejala ADHD.

Anak yang sehat fisiknya biasanya lebih stabil emosinya.

Baca Juga: 5 Kriteria Penting! Jangan Kaget Jika Nama Anda Tidak Dipanggil untuk PPG Tahap 3, Ini Alasannya!

4. Ciptakan Rutinitas Harian

Buat jadwal harian bersama anak—mulai dari bangun tidur, sekolah, waktu bermain, hingga tidur malam.

Gunakan alarm atau timer untuk membantu anak tetap fokus.

5. Dukung Hubungan Sosial Anak

Luangkan waktu khusus 3–5 kali seminggu untuk bermain bersama tanpa gadget.

Ajak anak membangun satu pertemanan dekat melalui playdate atau aktivitas sosial.

Perlu Dukungan Menyeluruh

ADHD memang tidak bisa “sembuh total”, tapi bisa dikelola dengan baik.

Baca Juga: Kemenko PMRI Buka Rekrutmen Tenaga Non ASN, Cari Fotografer dan Staf Komunikasi!

Dukungan medis, terapi perilaku, gaya hidup sehat, dan pendampingan keluarga menjadi kunci utama.

Dengan pendekatan ini, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mampu mengendalikan emosinya, dan tetap berkembang optimal.

Nah, jadi kalau anak sering emosi, jangan buru-buru melabeli ia “nakal”, ya.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Bisa jadi itu tanda ADHD yang butuh penanganan tepat. Semakin cepat dikenali, semakin baik pula dampak jangka panjangnya. ***