POJOKSATU.id — Sampah, yang selama ini hanya dianggap kotoran tak berguna, kini menjadi pintu masuk perubahan karakter di Sekolah Rakyat.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) hadir langsung ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, menyampaikan pesan penting: memilah sampah adalah bentuk kepedulian terhadap bumi, dan itu harus dimulai sejak bangku sekolah.
Kegiatan edukasi ini dipandu oleh Fitriyanti, perwakilan dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR, yang menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan pola hidup bersih dan membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
“Kami ingin meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya pola hidup bersih dan menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah serta tahu cara mengelolanya,” ungkapnya (7/8/2025).
Para siswa diajak mengenali tiga jenis sampah: organik, nonorganik, dan residu.
Mereka diperkenalkan pada warna-warna tong sampah: hijau untuk sampah organik seperti sisa makanan dan daun, kuning untuk nonorganik seperti botol plastik dan kertas, dan merah untuk sampah residu yang tidak dapat didaur ulang.
Kegiatan ini tidak hanya menyampaikan teori. Anak-anak diajak langsung memilah sampah di lingkungan sekolah. Antusiasme mereka terasa nyata.
Baca Juga: 3 Program Kesejahteraan dan Tambahan Tunjangan Sertifikasi 2 Bulan untuk Guru
“Sekarang saya tahu mana itu sampah organik dan nonorganik. Ternyata, nggak boleh dicampur. Selama ini saya buang semuanya jadi satu,” ujar salah satu siswa dengan polos dan jujur.
SRMP 17 Tabanan adalah salah satu dari 65 titik Sekolah Rakyat yang direnovasi oleh Kementerian PUPR di 24 provinsi.
Gedungnya kini tak hanya kokoh dan modern, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran karakter, kebersihan, dan tanggung jawab sosial.
“Kami tidak hanya membangun fisik sekolah. Tapi juga ingin agar gedung ini menjadi tempat tumbuhnya kesadaran sosial dan lingkungan bagi siswa-siswa kita,” ucap perwakilan Kementerian PUPR lainnya dalam kegiatan tersebut.
Baca Juga: Aipda Robig Penembak Siswa SMA di Semarang Tak Terima Divonis 15 Tahun Penjara, Bakal Ajukan Banding
Dengan menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pembelajaran keseharian, Sekolah Rakyat di Tabanan ini memberi teladan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga pembentukan pribadi yang sadar lingkungan.
10 Fakta Kegiatan Edukasi Pilah Sampah
1. Lokasi kegiatan: Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali.
2. Inisiator program: Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR.
3. Pemateri utama: Fitriyanti, perwakilan Ditjen Cipta Karya.
Baca Juga: Cek Tekanan Ban, Rahasia Aman dan Nyaman Berkendara Motor Setiap Hari
4. Jenis sampah yang diajarkan: Organik, Nonorganik, Residu.
5. Warna tong sampah: Hijau (organik), Kuning (nonorganik), Merah (residu).
6. Metode penyampaian: Edukasi langsung, praktek memilah sampah di lingkungan sekolah.
7. Jumlah SR direnovasi nasional: 65 sekolah di 24 provinsi.
8. Fokus kegiatan: Pendidikan karakter, lingkungan, dan kebersihan.
Baca Juga: Beredar HOAX Irjen Karyoto Ngamuk ke Kapolri Buntut Dimutasi Jadi Kabaharkam, Bukan Kabareskrim
9. Sasaran utama: Siswa Sekolah Rakyat yang tinggal di asrama dan berasal dari keluarga kurang mampu.
10. Dampak langsung: Pemahaman siswa meningkat, kebiasaan buang sampah mulai berubah.
Kegiatan ini bukan sekadar pelajaran tambahan. Ini adalah fondasi. Fondasi untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga peduli pada sekitar.
Baca Juga: Kepala SDN Kertajaya II Karawang Dituding Gelapkan Tabungan Siswa Rp500 Juta, Warga Siap Demo
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Di SRMP 17 Tabanan, tong sampah jadi media perubahan, dan memilah sampah jadi langkah awal menuju masa depan yang lebih bersih.***



