POJOKSATU.id – Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, kembali menunjukkan perhatiannya pada pendidikan alternatif berbasis kerakyatan.
Kali ini, ia hadir membuka kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Ponorogo, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang tak hanya mengajarkan teori, tapi juga praktik ekonomi kerakyatan lewat peternakan ayam petelur.
Bertempat di Dusun Sukun, Desa Ngumpul, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, kegiatan ini tidak seperti MPLS pada umumnya.
Tidak ada perpeloncoan atau atribut aneh, yang ada justru suasana akrab dan penuh semangat belajar, di mana siswa diajak langsung memahami konsep pendidikan berbasis kehidupan nyata.
“Anak-anak di sini tidak hanya diajari ilmu akademik, tapi juga belajar beternak ayam, memanen telur, dan mengelola usaha,” ujar Gus Ipul dalam sambutannya.
Ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai model pendidikan masa depan, yang menyentuh kebutuhan masyarakat akar rumput.
Sekolah Rakyat Ponorogo merupakan bagian dari jaringan Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh tokoh pendidikan nasional, Anies Baswedan, dan saat ini mendapatkan dukungan kuat dari berbagai tokoh lokal, termasuk Gus Ipul. Di Ponorogo, sekolah ini menjadi pionir dalam mengintegrasikan pendidikan dan ekonomi keluarga.
Dengan sistem berbasis asrama dan pengasuhan 24 jam, para siswa tidak hanya mendapatkan pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia dan Matematika, tapi juga dibekali keterampilan hidup langsung: dari beternak ayam petelur, manajemen keuangan sederhana, hingga pemasaran hasil ternak.
“Di sini kami ingin anak-anak bukan hanya pintar teori, tapi juga mampu hidup mandiri, punya keterampilan, dan bisa berkontribusi untuk keluarganya,” ujar salah satu pengelola sekolah dalam sesi perkenalan.
Apa yang dilakukan Sekolah Rakyat di Ponorogo bukanlah pendekatan biasa. Dalam konteks ketimpangan pendidikan dan ekonomi yang masih tinggi di pedesaan, sekolah ini menawarkan model alternatif yang relevan dan membumi. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi juga sarana transformasi sosial dan ekonomi.
Para siswa berasal dari keluarga kurang mampu, sebagian besar dari latar belakang petani atau buruh tani. Namun dengan sistem asrama yang diasuh langsung oleh mentor, mereka mendapatkan pendidikan gratis, makanan bergizi, serta bimbingan keagamaan dan keterampilan kerja.
“Saya senang bisa sekolah di sini. Saya belajar sholat, belajar beternak, dan punya banyak teman,” ucap salah satu siswa dengan polos namun penuh keyakinan.
- Gus Ipul: Pendidikan Tak Harus di Sekolah Formal
Gus Ipul menegaskan bahwa pendidikan bisa dilakukan di mana saja selama ada niat, sistem yang baik, dan pembimbing yang peduli. Ia bahkan menyebut Sekolah Rakyat sebagai contoh konkret dari amanat konstitusi bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”
Baca Juga: Sosok 2 Oknum ASN Pemkot Aceh yang Terjaring Aksi Terorisme, Berdinas di Kemenag
Ia pun berharap model ini bisa direplikasi di daerah lain. “Jangan sampai anak-anak di desa tidak punya akses ke pendidikan dan penghidupan yang layak. Sekolah seperti ini menjawab persoalan itu,” tegasnya.
Peternakan ayam petelur menjadi sarana belajar sekaligus tulang punggung ekonomi sekolah. Para siswa dilibatkan langsung dalam pemeliharaan ayam, pengambilan telur, hingga pengemasan dan penjualan. Hasilnya tidak hanya mendukung operasional sekolah, tapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa sejak dini.
“Dengan begini, anak-anak belajar bahwa bekerja itu mulia dan produktif. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab,” tambah Gus Ipul.
Sekolah Rakyat Ponorogo bukan sekadar sekolah. Ia adalah rumah, ruang belajar, sekaligus lahan tumbuh bagi generasi muda yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan arus utama. Dengan dukungan tokoh-tokoh seperti Gus Ipul dan kolaborasi berbagai pihak, harapan untuk pendidikan yang membebaskan dan memberdayakan tampaknya bukan lagi mimpi.***



