POJOKSATU.id — Hari pertama sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) seringkali bikin campur aduk perasaan dari kedua orang tuanya.
Di satu sisi, kita merasa bangga melihat si kecil berseragam rapi dan membawa tas sendiri.
Tapi di sisi lain, ada anak yang tampak kebingungan, menangis, bahkan mogok sekolah.
Hadehh, kok bisa ya?
Dibalik Drama itu semua, momen transisi dari PAUD—khususnya Kelompok Bermain (KB)—ke TK memang bukan sekadar "naik kelas" aja loh Bun.
Ini adalah fase penting dalam hidup anak yang penuh tantangan.
Dari yang tadinya bebas main pasir dan lompat-lompatan, kini mereka harus belajar mengikuti instruksi, duduk tenang, dan mulai mengenal huruf dan angka.
Baca Juga: Kuasa Hukum Diva Febriani Anggota Paskibra Natal Beberkan Lima Fakta Yunus Pembunuhan Berencana
Perubahannya lumayan banget, lho!
Kok Bisa ya Anak Kaget Saat Masuk TK?
Di KB, dunia anak lebih cair—banyak waktu bermain, eksplorasi, dan kenalan dengan teman.
Tapi di TK, meski masih menyenangkan, sudah mulai ada struktur: ada jadwal, ada kegiatan belajar, dan ada batasan waktu bermain.
Tak heran kalau sebagian anak merasa terkejut.
“Anak saya sempat mogok sekolah saat pertama masuk TK.
Katanya, terlalu banyak aturan dan tidak boleh main pasir lama-lama,” ujar Cawiwi, ibu dari Nufail (5 tahun), sambil terkekeh.
Cerita itu menggambarkan satu hal: transisi bukan cuma soal fisik pindah kelas saja, tapi soal kesiapan mental dan emosional anak.
Guru TK: Sosok yang Lebih dari Sekadar Pengajar
Guru TK punya peran spesial.
Baca Juga: Jangan Anggap Remeh Guru PAUD! Ini Bukti Mereka Punya Peran Penting Banget untuk Masa Depan Anak
Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga pengasuh emosional yang menjadi jembatan dari rumah atau KB ke suasana sekolah.
Anak-anak yang belum siap bisa saja rewel, menangis, atau malah diam saja di sudut kelas.
“Kami tidak langsung belajar angka saat murid baru datang.
Kami mulai dengan drama kecil, kenalan santai, dan kegiatan bermain ringan,” jelas Bu Rita, guru TK dari Madiun.
Pendekatan ini penting banget karena anak-anak butuh adanya rasa nyaman, aman terlebih dahulu sebelum mereka bisa belajar dengan nyaman.
Strategi Smooth Transition: Bukan Cuma Tugas Guru, Tapi Juga Orang Tua
Baca Juga: SEGERA DAFTAR! Beasiswa Amgala Vision Siap Dukung Mahasiswa Baru PTN di Program STEM
Agar transisi berjalan mulus, orang tua dan guru harus saling bahu-membahu.
Dimulai dari hal kecil seperti beberapa cara yang bisa dilakukan:
Rutinitas rumah mulai disesuaikan, seperti waktu tidur dan sarapan.
Ajak anak ngobrol soal TK jauh-jauh hari, bisa dengan cerita atau tunjukkan foto sekolah.
Kunjungan awal ke sekolah, biar anak nggak asing.
Tanggapin emosi anak dengan tenang.
Nangis? Itu wajar kok!
Kerja sama dengan guru.
Ceritakan kebiasaan anak, makanan kesukaan, atau hal-hal yang bisa menenangkan mereka.
Kebijakan Pemerintah
Baca Juga: Usfina Aliffia, Remaja Panti Asuhan yang Tulis Novel 300 Halaman Hanya dengan Ponsel
Pemerintah udah kasih landasan hukum lewat Permendikbudristek No. 13 Tahun 2025 yang menyatakan TK bagian dari jalur wajib belajar 13 tahun.
Artinya, masuk TK bukan lagi opsional, tapi fondasi penting menuju pendidikan dasar.
“PAUD bukan tempat menunggu SD.
Ini pondasi karakter dan kesiapan belajar anak,” kata Nadiem Makarim.
Setuju banget, kan?
Setiap Anak Punya Waktunya Sendiri
Setiap anak itu unik.
Ada yang semangat banget masuk sekolah, ada juga yang butuh adaptasi pelan-pelan.
Kita sebagai orang dewasa perlu sabar, kasih ruang, dan jangan banding-bandingkan.
Baca Juga: 12 Olimpiade dan Kompetisi Sains Populer di Indonesia Tahun 2025, Gratis hingga Hadiah Jutaan Rupiah
“Anak bukan miniatur orang dewasa.
Dunia mereka masih bermain, tapi bermain yang bermakna,” tutur Netti Herawati, Ketua Umum HIMPAUDI.
Jadi, Apa yang Harus Kita Ingat?
Transisi dari PAUD ke TK bukan cuma soal pergantian baju seragam.
Ini soal kesiapan batin, emosi, dan hubungan yang kuat antara anak, guru, dan orang tua.
Yuk, jadi orang dewasa yang lembut menuntun, bukan memaksa.
-
Karena di balik setiap anak yang berhasil melewati masa transisi ini, ada pahlawan diam-diam—orang tua dan guru—yang sabar menemani mereka, setapak demi setapak.***




