POJOKSATU.ID - Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci dalam upaya mendukung pendidikan inklusif.
Menurut Dr. Martadi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pendekatan triple helix yang melibatkan akademisi, dunia industri, dan pemerintah sangat penting untuk mewujudkan hal ini.
Dalam konteks penguatan materi tentang keberagaman murid dan pembelajaran diferensiasi, setiap pihak memiliki peran yang jelas.
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) bertanggung jawab dalam menyiapkan guru yang kompeten dan berjiwa inklusif.
Di sisi lain, KPGIA menyediakan dukungan inovasi, jaringan, dan sumber daya yang diperlukan.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) bertindak sebagai pemegang kebijakan nasional yang menyelaraskan langkah ketiga pihak tersebut.
Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan guru agar mereka mampu menghadapi tantangan pembelajaran yang semakin personal dan berbasis teknologi.
Sinergi antara Direktorat Jenderal GTKPG, KPGIA, dan LPTK diwujudkan melalui berbagai program, seperti webinar, konferensi, kuliah bersama, riset kolaboratif, mobilitas mahasiswa, dan studi banding.
Baca Juga: Gagal Masuk Info GTK untuk Cek Bantuan Insentif? Guru Bisa Coba Cara Lain Ini1
Melalui kolaborasi ini, para guru di masa depan tidak hanya akan menjadi pengajar, tetapi juga fasilitator, motivator, dan konselor yang mampu membangun lingkungan belajar inklusif.
Martadi menekankan bahwa pendekatan triple helix ini mendorong transformasi pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.
Serta menjadikan guru sebagai aktor utama dalam menciptakan sistem pendidikan yang merangkul keberagaman dan potensi setiap anak.
Sebagai bagian dari program ini, para mahasiswa PPG di seluruh LPTK akan mendalami strategi untuk mengintegrasikan nilai-nilai inklusif ke dalam kurikulum dan merumuskan rekomendasi kebijakan.
Bertujuan untuk mendukung implementasi pendidikan inklusif secara nasional.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif di Indonesia.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:




