POJOKSATU.id — Di tengah tantangan dunia pendidikan yang makin kompleks, muncul sosok-sosok muda yang tak hanya cerdas, tapi juga penuh semangat, kreatif, dan inspiratif.
Mereka bukan sekadar pencari nilai di kampus, tapi penggerak perubahan yang membawa harapan.
Salah satunya adalah Nirsa Ismi Almanda, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya soal IPK tinggi, melainkan juga tentang keberanian, gagasan, dan kontribusi nyata
Baca Juga: Cek, Daftar Calon Guru Sekolah Rakyat Tahap II Peserta Seleksi Kompetensi Tambahan
Mahasiswa yang akrab disapa Mimi ini sukses menyabet Juara 1 Prestasi Unggulan Mahasiswa di ajang FIP-JIP 2025.
Sebuah kompetisi prestasi unggulan antar Fakultas Ilmu Pendidikan se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemendiktisaintek.
Kompetisi Fakultas Ilmu Pendidikan -Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP) merupakan forum ilmiah yang melibatkan pimpinan dan delegasi fakultas yang dilaksanakan secara periodik.
Forum FIP-JIP merupakan pertemuan ilmiah rutin dua tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas dan mempererat kerja sama, komunikasi, dan kemitraan antar Fakultas Ilmu Pendidikan di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Negeri maupun Jurusan Ilmu Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Indonesia.
Pada tahun 2025 ini, Forum FIP-JIP mengangkat tema besar Akselerasi Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045.
Tema ini jadi pengingat bahwa pendidikan adalah kunci utama masa depan, dan generasi pendidik hari ini punya tanggung jawab besar untuk mempercepat transformasinya.
Baca Juga: Mau Jadi Penulis Digital? Kamu Wajib Tahu Dulu Perbedaan Content Writer dan Copywriter
Untuk bisa meraih juara satu di FIP-JIP 2025, Mimi mengikuti kategori lomba Prestasi Unggulan Mahasiswa.
Di lomba ini, peserta diminta menyusun portofolio lengkap yang mencerminkan perjalanan akademik dan non-akademik selama menjadi mahasiswa.
“Tahap awalnya kami diminta membangun personal branding dulu mulai dari deskripsi diri, motivation letter, sampai KTIGK (Karya Tulis Ilmiah Gagasan Kreatif),” jelas Mimi.
Setelah itu, peserta mengumpulkan portofolio yang dibagi dalam beberapa kategori seperti kompetisi, penghargaan, pengakuan, dan beberapa kategori lain. Setiap kategori maksimal mengisi lima bukti pencapaian.
Menariknya, semua itu bukan sesuatu yang bisa disiapkan dalam semalam. Prosesnya panjang bahkan sejak semester awal.
“Waktu semester satu, aku sama sekali nggak kepikiran ikut lomba ini. Tapi ternyata, semua sertifikat dan pengalaman yang aku kumpulkan sejak awal kuliah justru jadi jalan menuju juara,” ungkapnya.
Baca Juga: GAWAT! Ribuan Buruh di Ambang PHK Massal, Sektor Padat Karya Kian Terpuruk
Meski menyandang gelar juara nasional FIP-JIP 2025, Ia menolak melabeli dirinya sebagai 'mahasiswa berprestasi'.
“Buatku, jadi mahasiswa berprestasi itu nggak cukup cuma punya piagam atau sertifikat. Kalau tanggung jawab diabaikan, lalu semua cuma soal pencitraan, ya itu bukan prestasi,” ujarnya.
Ia lebih nyaman disebut sebagai mahasiswa yang suka belajar. Bukan hanya belajar di kelas, tapi juga dari praktik di lapangan sesuai jurusannya, Pendidikan Masyarakat.
“Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Bahkan tahu satu hal baru pun sudah bentuk belajar,” kata Mimi.
Menjawab Tantangan Tanpa Mengabaikan Tanggung Jawab
Menyiapkan portofolio lomba selama bertahun-tahun tentu bukan hal mudah. Tapi bagi Mimi, tantangan terbesar justru bukan dari tumpukan pekerjaan.
Salah satu momen yang paling menguras energi adalah saat ia harus menyelesaikan tugas kelompok sambil menyiapkan portofolio lomba.
“Aku harus mikir gimana caranya semua tugas kelompok dapat diselesaikan lebih awal, supaya aku bisa lanjut mengerjakan portofolio lainnya. Tapi di saat yang sama, aku nggak mau meninggalkan tanggung jawab,” katanya.
Untungnya, Mimi dikelilingi oleh lingkungan yang suportif.
“Teman-temanku mau diajak jalan bareng, menyesuaikan ritme kerjaku. Mereka bilang, ‘Ayo Mi, Bismillah!’ dan itu ngangkat banget,” ucapnya dengan mata berbinar.
Buat Mimi, masa sulit bukan berarti harus menyerah. Tapi justru jadi momen untuk belajar mengatur waktu dan tetap peka terhadap orang lain.
Doa dan Dukungan Orang Terdekat
Bagi Mimi, setiap capaian yang diraihnya tak lepas dari peran banyak pihak mulai dari dosen pembimbing, teman-teman satu perjuangan, hingga keluarga yang selalu mendukung di belakang layar.
Baca Juga: AI Mulai Ambil Alih, Ini Pekerjaan yang Paling Cepat Digantikan Robot, Ada Profesi Kamu?
Ia sadar, keberhasilan bukan hanya tentang kerja keras pribadi, tapi juga tentang siapa saja yang ikut menyemangati, membantu, dan mendoakan di sepanjang perjalanan
“Prestasi ini bukan cuma milikku, tapi milik semua orang baik yang pernah berjalan bersamaku,” ungkapnya.
Sosok Inspiratif
Ketika ditanya siapa yang paling menginspirasi dalam hidupnya, Nirsa Ismi Almanda tak ragu menyebut dua nama yaitu Mama dan Papa, dua orang yang paling ia kenal kesehariannya.
Ibunya adalah sosok perempuan kuat, multitalenta, multitasking, dan tak gampang goyah oleh omongan orang.
Sementara Ayahnya, membawa warna yang berbeda. Dulu pernah berkecimpung di dunia modeling, tampil di FTV, hingga mewakili Kalimantan Selatan sebagai putra budaya.
Meski karakter mama dan papa sangat bertolak belakang, justru dari keduanya Mimi belajar hal besar tentang memisahkan urusan personal dan profesional, tentang syukur, dan tentang menghargai siapapun yang hadir dalam perjalanan hidup.
Cara Mengatur Waktu
Tak hanya cemerlang di akademik, Mimi juga dikenal sebagai public speaker aktif dan pelaku bisnis muda yang aktif di berbagai komunitas. Lantas, bagaimana cara Mimi membagi waktu?
“Paling krusial itu menunda. Kalau sudah menunda tugas, terus tiba-tiba ada tugas baru, ya kelabakan sendiri. Jadi aku belajar, jangan tunda, kerjain langsung kalau bisa,” ujarnya tegas.
Mimi memiliki prinsip untuk menyelesaikan tugas lebih awal sebelum tenggat waktu.
Baginya, tenggat yang diberikan dosen adalah batas yang harus dihormati, bukan untuk ditawar atau diabaikan.
Bukan hanya strategi kerja, Mimi juga sangat memperhatikan kesehatan fisik dan mental.
Selain itu, kunci yang ia pegang adalah kenali diri sendiri, pahami ritme tubuh, gaya kerja, dan jangan memaksakan diri.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan: Mulai dari Diri Sendiri
Bagi Mimi, mahasiswa memang memegang peran penting sebagai agen perubahan.
Baca Juga: Bukan di TMP Kalibata, Jenazah Marsma Fajar Adriyanto akan Dimakamkan di Probolinggo Jatim
Namun, ia menekankan bahwa perubahan sosial dan pendidikan tidak harus selalu berwujud besar dan idealistik.
Justru, menurutnya, perubahan yang paling berdampak dimulai dari diri sendiri.
“Aku setuju bahwa mahasiswa adalah agent of change. Tapi kita juga perlu realistis. Jangan sampai semangat kita untuk mengubah dunia malah melupakan pembenahan diri sendiri,” ujarnya.
Mimi percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam memberikan kontribusi.
Ada yang mengajar dan menjadi pendidik, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Baca Juga: Pemain Pertama PSMS yang Diperkenalkan Musim Ini, Kardinata Tarigan : Mimpi yang Jadi Kenyataan
Ada pula yang aktif dalam isu-isu sosial dan politik melalui demonstrasi atau advokasi di media sosial.
“Kita tidak perlu menyamakan bentuk perubahan yang kita lakukan. Yang terpenting, perubahan itu tulus dan dimulai dari dalam diri,” jelasnya.
Harapan untuk Diri Sendiri dan Sesama Mahasiswa
Saat ditanya harapannya ke depan, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Mimi menjawab dengan penuh kesadaran akan perjalanan dan perjuangan yang ia lalui.
“Aku berharap bisa terus sehat, semangat, dan menjaga niat tulus yang ada dalam hati. Karena apapun tantangan ke depan, semoga semangat untuk memberi manfaat terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan kepada sesama mahasiswa. Menurutnya, setiap orang memiliki perjuangan dan bentuk kontribusinya masing-masing.
Maka, tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain.
“Jangan pernah merasa bahwa kamu tidak berarti hanya karena belum mencapai sesuatu yang besar."
"Banyak dari teman-temanku yang justru sangat menginspirasi dari hal-hal yang tampak sederhana, berangkat kuliah naik KRL, pulang terburu-buru karena harus merawat orang tua yang sakit. Itu juga bentuk perjuangan,” katanya.
Bagi Mimi, menjadi mahasiswa adalah fase pencarian jati diri. Di fase itu, penting untuk mengenali tujuan hidup, tetap konsisten pada hal baik, dan senantiasa berdoa agar dimudahkan.
“Percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus, bisa memberi dampak besar."
"Jangan ragu untuk terus bergerak, jangan takut dianggap biasa-biasa saja. Karena perubahan besar pun berawal dari keberanian untuk berubah dari dalam diri sendiri,” tutupnya.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat, mudah dan tanpa iklan bisa download aplikasi Pojoksatu.id melalui tautan berikut ini:
Anda juga bisa bergabung dalam saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id melalui link di bawah ini:
Demikian artikel tentang profil Nirsa Ismi Almanda, mahasiswi UNJ yang menjuarai Forum FIP-JIP 2025.***




