POJOKSATU.ID – Institut Teknologi Bandung (ITB) hari ini menggelar Sidang Terbuka Peringatan 105 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) di Aula Barat ITB Kampus Ganesha.
Perguruan tinggi teknik tertua di Indonesia ini, yang bermula dari Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 3 Juli 1920, menekankan pentingnya relevansi dan inovasi dalam menghadapi perubahan zaman yang pesat.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan sejarah sebagai pijakan melompat lebih jauh.
Baca Juga: Lolos PPPK Tahap 1 dan 2? Honorer Lulusan Kategori Ini Bisa Raup Gaji Rp5,7 Juta!
"Ilmu dan teknologi berkembang bukan dalam hitungan dekade, bahkan bukan dalam hitungan tahun, tetapi dalam hitungan hari dan jam. Dunia masa depan membutuhkan insan akademik yang utuh," ujarnya.
Ia menekankan kebutuhan akan insan akademik yang tidak hanya piawai secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan nilai-nilai luhur.
Rektor Tatacipta juga menyatakan bahwa dalam seratus tahun mendatang, perguruan tinggi dapat menjadi simpul jejaring inovasi global yang kolaboratif lintas disiplin, lintas budaya, dan lintas negara.
Baca Juga: APBD Perubahan Kota Bandung 2025 Naik Rp95,72 Miliar, Fokus Penyelarasan Visi Misi Kepala Daerah
Untuk itu, ia menyerukan agar ITB memiliki keberanian dan imajinasi untuk mendesain ulang perguruan tinggi agar tetap bermakna bagi umat manusia.
Dalam kesempatan ini, Rektor ITB turut mengumumkan rencana pembangunan Museum ITB, sebagai ruang untuk mengabadikan perjalanan sejarah kampus dan menginspirasi generasi penerus.
Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB, Budi Gunadi Sadikin, yang diwakili oleh Sekretaris Eksekutif MWA Prof. Dr. Irawati, M.S., mengingatkan bahwa meskipun ITB telah melahirkan banyak tokoh bangsa, tantangan ke depan menuntut ITB untuk tetap menjadi pusat solusi, inspirasi, dan pengabdian bagi masyarakat.
Ia menekankan tiga hal yang harus terus dijaga: relevansi pendidikan teknik dengan kebutuhan masa depan, kolaborasi dan inovasi ke industri dan kebijakan publik, serta pembangunan karakter teknokrat yang sekaligus negarawan.
Senada, Ketua Senat Akademik ITB Prof. Edy Tri Baskoro menyoroti peran strategis perguruan tinggi teknik di tengah kompleksitas tantangan global, termasuk konflik geopolitik.
Menurutnya, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis agar Indonesia tangguh menghadapi ketidakpastian global.
Ia juga menekankan pentingnya budaya ilmiah yang unggul dan strategi menarik minat generasi muda di bidang teknologi.
Acara peringatan ini juga diisi orasi ilmiah dari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia 2009-2014, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA., dengan judul “Strategi Perguruan Tinggi Menuju Kemandirian dan Inovasi yang Berdampak”.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
ITB juga memberikan 34 penghargaan kepada individu dan institusi yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan penguatan kapasitas pendidikan tinggi teknik di Indonesia, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mereka. ***



