POJOKSATU.id — Menjelang dibukanya pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 pada 11 Maret mendatang, banyak siswa kelas 12 SMA/SMK sederajat masih kebingungan dalam menentukan jurusan kuliah.
Bagi calon mahasiswa yang belum memiliki akun Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), segera lakukan registrasi agar dapat mengikuti tahapan seleksi dengan lancar.
Selain SNBT 2025, tersedia pula jalur masuk lain seperti jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sigit Priyanta, membagikan beberapa tips bagi calon mahasiswa dalam memilih program studi yang tepat agar peluang diterima semakin besar.
Menurutnya, calon mahasiswa harus memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan passion agar perjalanan akademik dan karier mereka lebih terarah.
“Sangat penting bagi calon mahasiswa untuk memilih program studi sesuai minat dan passion sesuai kemampuan yang dimiliki calon mahasiswa,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (28/2/2025).
Daya Tampung Prodi
Lebih lanjut, Sigit menyampaikan bahwa selain mempertimbangkan minat dan bakat, calon mahasiswa juga perlu memperhatikan rasio persaingan di setiap program studi, prospek kerja di masa depan, serta peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di UGM, fasilitas akademik dan non-akademik telah disediakan untuk mendukung mahasiswa dalam mengembangkan potensi mereka.
Selain itu, kerja sama dengan sektor industri dan pemerintah turut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program magang dan proyek akademik bersama perusahaan mitra.
“Setiap program studi memiliki fleksibilitas dan potensi pengembangan yang berbeda. Penting bagi calon mahasiswa dalam mempertimbangkan prodi tidak hanya dari sisi akademik, namun juga peluang karakter dan pengembangan diri,” tambahnya.
Saat ini, seleksi masuk perguruan tinggi tidak lagi mengharuskan pemisahan berdasarkan jurusan di SMA, sehingga peluang bagi setiap siswa untuk memilih program studi lebih terbuka.
UGM sendiri memiliki 18 fakultas, satu sekolah vokasi, serta 93 program studi yang terbagi dalam kategori saintek, soshum, medika, dan agro.
Daya tampung setiap program studi juga bervariasi tergantung jalur seleksi yang ditempuh.
Jalur SNBP
Pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), kuota yang tersedia sebesar 30 persen dari total daya tampung.
Jalur SNBT juga menyediakan 30 persen kuota, sedangkan seleksi mandiri memiliki porsi terbesar, yakni 40 persen dari total kapasitas program studi.
“Masing-masing total daya tampung berkisar 40-200 mahasiswa sarjana setiap program studi,” jelas Sigit.
Secara nasional, jalur SNBP telah menerima pendaftaran dari 44.260 siswa eligible yang telah melakukan finalisasi.
Berdasarkan data panitia SNPMB, jumlah peserta yang mendaftar seleksi ini terus meningkat setiap tahunnya.
Oleh karena itu, siswa yang belum lolos di jalur SNBP disarankan untuk segera mempersiapkan diri menghadapi SNBT atau seleksi mandiri di masing-masing perguruan tinggi.
Informasi lebih lanjut mengenai jalur masuk UGM akan terus diperbarui melalui situs resmi dan media sosial universitas tersebut.
“Harapannya, dari banyak jalur ini dapat mendorong pemerataan pendidikan tinggi di seluruh lapisan masyarakat dan menciptakan lingkungan kampus inklusif,” ungkap Sigit.
Lima Jalur Mandiri UGM 2025
Selain SNPMB, UGM menawarkan lima jalur seleksi mandiri, yakni:
1. Seleksi Undergraduate International Program (IUP)
Program Sarjana Internasional (IUP) adalah program pendidikan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar dengan perspektif global.
Program ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan menawarkan kurikulum yang sesuai dengan standar internasional.
Mahasiswa IUP juga memiliki kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar atau double degree dengan universitas mitra di luar negeri.
2. Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB)
PBUB adalah jalur seleksi yang ditujukan bagi siswa yang memiliki prestasi di bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sesuai dengan program studi yang dipilih.
Prestasi yang diakui meliputi kejuaraan tingkat provinsi, nasional, maupun internasional, yang dibuktikan dengan sertifikat atau piagam kejuaraan.
Misalnya, siswa yang pernah menjuarai bidang seni seperti fotografi, marching band, MTQ, Pesparawi, orkestra, paduan suara, seni tari, dan karawitan dapat mendaftar melalui jalur ini.
3. PBUB Tidak Mampu (PBUBTM)
Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUBTM) adalah jalur seleksi yang diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi namun memiliki prestasi akademik yang baik.
Jalur ini memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UGM dengan dukungan berbagai skema pembiayaan pendidikan.
4. PBUB Wilayah Afirmasi dan Daerah Tertinggal
Jalur ini ditujukan bagi calon mahasiswa berprestasi yang berasal dari daerah afirmasi dan daerah tertinggal, terdepan, atau terluar (3T) yang menjadi wilayah kegiatan Tridharma UGM.
Tujuannya adalah untuk mendorong pemerataan pendidikan tinggi di seluruh lapisan masyarakat dan menciptakan lingkungan kampus yang inklusif.
5. Ujian Masuk Computer-Based Test (CBT)
Ujian Masuk Computer-Based Test (CBT) adalah salah satu jalur seleksi mandiri yang diselenggarakan oleh UGM.
Calon mahasiswa mengikuti ujian berbasis komputer yang dirancang untuk mengukur kemampuan akademik sesuai dengan program studi yang dipilih.
Jalur ini memberikan kesempatan bagi siswa yang belum berhasil melalui jalur seleksi nasional untuk tetap dapat berkompetisi masuk UGM.
Calon mahasiswa dapat memilih jalur seleksi yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.
Sebagai universitas nasional, UGM berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan inklusif bagi seluruh calon mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial.
Untuk mendukung hal tersebut, UGM menyediakan berbagai skema pembiayaan pendidikan melalui kerja sama dengan pihak swasta maupun melalui jejaring Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama).
“UGM menginginkan agar kampus menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa secara menyeluruh. Tidak hanya sebatas memberikan materi kuliah, tapi juga menjadi wadah kreativitas dan inovasi mahasiswa,” pungkasnya.***




