POJOKSATU.id - Bertepatan dengan peringatan lahirnya Deklarasi Djuanda, Chancellor UNIDA Prof. Dr. H. Martin Roestamy mendorong pentingnya pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan ketahanan ekonomi maritim sebagai strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Martin menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber daya kelautan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Hal ini disampaikan ketika Martin Roestamy saat menjadi pembicara dalam konferensi internasional bertajuk the 8th Djuanda International Conference on Applied Science and the 8th Djuanda International Conference on Social Science (DICAS & DICSS) 2024 yang digelar oleh UNIDA pada Jum’at (13/12/2024), lalu.
Bertempat di Aula Gedung C Kampus UNIDA, konferensi internasional ini diikuti oleh lebih dari 800 peserta secara luring maupun daring.
Martin Roestamy memaparkan, warisan Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 tidak hanya bermakna politis, tetapi juga memiliki dimensi ekologis dan ekonomis yang sangat relevan dengan tantangan zaman.
Konsep kedaulatan wilayah laut yang dicetuskan oleh Ir H Djuanda Kartawidjaja saat itu kini perlu diperluas menjadi konsep keberlanjutan ekosistem maritim berkelanjutan sebagai upaya strategis dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global yang semakin kompleks.
Tidak dapat disangkal bahwa Deklarasi Djuanda merupakan perjalanan panjang perjuangan rakyat Indonesia sebelum diakui oleh dunia.
Perjuangan itu akhirnya diakui dan ditetapkan dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) pada tahun 1982.
Martin kemudian mengemukakan, ada banyak potensi yang dapat dikembangkan di wilayah maritim Indonesia.
Luas wilayah laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi dan merupakan tiga perempat dari total luas negara.
Selain itu, terdapat lebih dari 17 ribu pulau dan dikelilingi oleh garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, yaitu 95,2 ribu KM.
“Sekarang, Indonesia harus mengorientasikan kembali pembangunan nasional dari darat ke laut.
Kuncinya adalah mengoptimalkan pemanfaatan potensi kelautan dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh nusantara.
Melalui ini, diharapkan akan tercipta strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” terangnya.
Lebih jauh, Prof. Martin Roestamy menjelaskan bahwa konferensi ini mencakup dua ruang lingkup, yakni penelitian ilmu terapan dan penelitian ilmu sosial.
Hal ini sejalan dengan lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB, antara lain Tidak Ada Kemiskinan, Pendidikan Berkualitas, Kesetaraan Gender, Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat, serta Kemitraan untuk mencapai Tujuan.
“Melalui upaya bersama inilah kita dapat menginspirasi perubahan yang berarti dan memastikan keberlanjutan dalam pengadaan sumber daya, tata kelola, dan pembangunan masyarakat,” pungkasnya. ***




