POJOKSATU.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti menjelaskan kemungkinan perubahan kurikulum baru akan dipastikan pada tahun ajaran 2025-2026.

Ia menegaskan, proses perubahan kurikulum tidak dapat dilakukan di tengah tahun ajaran, sehingga keputusan akan diumumkan menjelang dimulainya tahun ajaran baru.

Melihat dari hitungan dan kebiasaan, di Indonesia, tahun ajaran baru 2025-2026 tersebut diperkirakan dimulai pada Juli 2025.

"Kami tidak mungkin melakukan perubahan di tengah tahun ajaran. Jadi perubahan itu, perubahan atau tidak ada perubahan itu akan kami sampaikan di awal tahun ajaran," ungkap Prof. Mu'ti.

Prof. Mu'ti juga menyebut bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru dalam mengambil kebijakan, terutama mengenai kurikulum yang saat ini menjadi bahan diskusi di masyarakat.

“Kami juga harus mengkaji ya, ini kan masih baru kan, kurikulum ini kan masih baru,” lanjutnya, merujuk pada penerapan Kurikulum Merdeka yang saat ini sedang berjalan.

Baca Juga: Perbedaan Deep Learning dengan Kurikulum Merdeka, Ada 3 Elemen Utama Mindfull, Meaningfull, dan Joyfull, Abdul Mu'ti: Tidak Perlu Dinamai Merdeka

Bahkan belum lama, Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Nasional (BSKAP) Kemendikbud Ristek, Anindito Aditomo, menyampaikan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah mencapai sekitar 95 persen.

"Jadi semua, hampir semua SMA menerapkan Kurikulum Merdeka," ujarnya dalam kutipan dari akun Instagram @beasiswaosc.

Di tengah ramainya penerapan Kurikulum Merdeka, Mendikdasmn pernah mengungkapkan konsep deep learning yang cukup menarik perhatian publik.

Banyak pihak yang salah memahami konsep ini sebagai kurikulum baru, padahal sebenarnya deep learning hanyalah pendekatan dalam pembelajaran yang berfokus pada pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.

"Deep learning itu bukan kurikulum. Itu pendekatan belajar," tegas Prof. Mu'ti.

Seperti diketahui, pendekatan deep learning ini mengedepankan tiga elemen utama yaitu Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull Learning.

Baca Juga: Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah, Madrasah Diberikan Otonomi dalam Kreasi, Inovasi dalam Praktik Pendidikan, Download Panduan Disini

Mindfull Learning (Kesadaran dalam Keberagaman) merupakan pendekatan untuk mengajak guru memahami setiap siswa sebagai individu dengan latar belakang dan kondisi yang unik, sehingga pendekatan pengajaran lebih manusiawi dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Baca Juga: Seperti Apa Deep Learning yang Dibocorkan Mendikdasmen Abdul Mu'ti? Lebih Baik dari Kurikulum Merdeka?

Tujuan utamanya adalah menciptakan suasana belajar yang inklusif dan penuh empati, di mana siswa merasa dihargai dan nyaman dalam proses pembelajaran.

Sementara, Meaningfull Learning (Mengajak Berpikir dan Berpartisipasi) ditujukan sebgai pendorong siswa untuk berperan aktif dan berpikir kritis dalam pembelajaran, dengan guru berperan sebagai fasilitator.

Sedangkam Joyfull Learning (Kepuasan dalam Setiap Pembelajaran) berfokus pada kepuasan siswa dalam memahami materi, bukan sekadar aktivitas menyenangkan.

Perihal pengalaman bermakna bagi siswa, bahkan sudah menjadi bagian dari Kurikulum Merdeka yang selama ini dijalankan.

Guru menciptakan tantangan relevan yang memotivasi siswa untuk mengatasi kesulitan dan merasa bangga atas pencapaian mereka, sehingga pembelajaran menjadi pengalaman yang positif dan memotivasi siswa untuk terus belajar.

Baca Juga: Selamat Tinggal Kurikulum Merdeka, Selamat Datang Ujian Nasional? Mendikdasmen dan Komisi X Sudah Deal, Tunggu di Januari 2025

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga mengungkapkan keinginannya untuk melakukan perubahan kurikulum pendidikan agama di tingkat sekolah, yang menekankan titik temu di antara semua agama.

"Mungkinkah kita melakukan perubahan kurikulum? Kurikulum yang menekankan titik temu semua agama," kata Nasaruddin saat menyampaikan pidato dalam Kick Off Meeting Strategi dan Arah Kebijakan Kemenag 2025-2029 dipantau via YouTube, Selasa, (12/112024).

Menurut Nasaruddin, revisi kurikulum ini perlu berfokus pada titik persamaan di antara semua agama, dengan tujuan menghindari penanaman doktrin kebencian terhadap agama lain sejak usia dini.

"Kalau ada azan, agama lain bilang matiin. Ketika ada khotbah, agama lain bilang matiin juga. Jadi penanaman kebencian yang mengendap dalam alam bawah sadar kita," kata Nasaruddin. ***


#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.