POJOKSATU.id - Kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok di turunan Ciater, Subang, sangat disesalkan banyak pihak.
Apalagi dalam kecelakaan bus Trans Putera Fajar pada Sabtu 11 Mei 2024 sekitar pukul 18.00 WIB itu sampai menelan 11 nyawa.
9 diantanya adalah siswa lalu seorang guru dan seorang pengendara motor yang merupakan warga Subang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, bus diduga mengalami rem blong sehingga meluncur kencang tidak terkendali.
Hal itu diperkuat kesaksian warga sekitar lokasi kejadian.
Dimana warga mendengar penumpang bus nahas itu berteriak-teriak dari dalam bus sesaat sebelum kecelakaan terjadi.
Ditemui usai mengunjungi korban di RSUD Subang, Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Machmuddin, langsung menyinggung soal armada bus.
Bey menekankan betapa pentingnya perusahaan bus atau PO untuk memeriksa secara rutin kelayakan kendaraan dan armadanya.
Apalagi armada bus tersebut kerap digunakan atau disewakan untuk berwisata, utama oleh rombongan sekolah.
Dalam hal pemilihan sopir bus juga tidak bisa dilakukan sembarangan.
Sopir bus harus benar-benar orang yang qualified dan memiliki pengalaman dalam memberikan bukan saja jaminan keselamatan tapi juga kenyamanan seluruh penumpang selama perjalanan.
Selain itu, selama dalam perjalanan, sang sopir harus benar-benar dalam kondisi sehat dan fit.
Bey juga meminta pihak sekolah yang akan melakukan wisata maupun studi tur agar tidak ragu meminta bantuan polisi untuk memeriksa kendaraan yang disewa.
Apalagi saat ini sudah hampir memasuki masa libur sekolah dimana kerap dimanfaatkan sekolah-sekolah untuk berwisata dan studi tur ke luar kota.
"Jangan ragu minta bantuan kepada pihak kepolisian memeriksa kondisi bus agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," tegas Bey.
Tidak Berizin dan KIR Kadaluwarsa
Sementara, Kepala Bagian Hukum dan Humas Ditjen Perhubungan Darat, Aznal, mengungkap kondisi bus maut yang membawa 57 penumpang tersebut.
Dia memastikan bahwa bus Trans Putera Fajar tersebut tidak berizin.
Bahkan Aznal juga mengungkap bahwa uji kelayakan atau KIR bus maut itu sudah kadaluwarsa sejak setahun lalu.
“Pada aplikasi Mitra Darat, bus tersebut tercatat tidak memiliki izin angkutan dan status lulus uji berkala telah kadaluwarsa sejak 6 Desember 2023,” beber Aznal, dikutip Pojoksatu.id dari keterangan tertulisnya, Minggu 12 Mei 2024.
Ditjen Hubdat juga mengimbau seluruh Perusahaan Otobus (PO) dan pengemudi melakukan pemeriksaan secara berkala terkait kondisi armadanya.
Dia menegaskan bahwa seluruh PO atau operator armada, juga harus melakukan pendaftaran izin angkutan serta rutin melakukan uji berkala kendaraan.
Bagi masyarakat atau sekolah yang menyewa bus untuk keperluan wisata dan lainnya juga diminta tidak tinggal diam.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memeriksa kendaraan yang akan dipakai melalui aplikasi Mitra Darat.
“Diimbau kepada seluruh masyarakat yang menggunakan angkutan umum bus dapat memeriksa kelayakan kendaraan sebelum keberangkatan pada aplikasi Mitra Darat yang dapat diunduh pada smartphone,” imbau dia.
Saat ini, Ditjen Hubdat telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan investigasi mendalam terkait kecelakaan bus nopol AD 7524 OG tersebut.
Wisata jadi Ajang Bisnis Sekolah dan Guru
Peristiwa ini pun langsung mendapat sorotan publik melalui media sosial.
Masyarakat beramai-ramai berpendapat bahwa wisata atau studi tur selama ini sudah jadi ajang bisnis sekolah di masa liburan.
Yang jadi kebiasaan, wisata atau studi tur tersebut selalu saja juga diikuti oleh keluarga guru atau staf dan pegawai sekolah.
"Parah, di sekolah anak saya kalau liburan selalu ada aja studi tur gitu. Tapi keluarga guru dan staf kenapa selalu pada ikut?" ujar salah seorang netizen melalui platform X, dikutip Pojoksatu.id.
Sementara pemilik akun @yunitater*** menyatakan, wisata atau studi tur itu sudah jadi ajang bisnis sekolah.
Dimana setiap masa liburan dijadikan kesempatan bagi sekolah dan guru untuk mencari untung.
"Stoudy tour ajang bisnis sekolah/guru," tulisnya dikutip Pojoksatu.id, Minggu 12 Mei 2024.
Baca Juga: Daftar 32 Nama Korban Kecelakaan Bus SMK Depok di Subang, Bertambah 11 Meninggal Dunia
Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mencari armada bus murah meriah asal dapat mengangkut semua rombongan.
"Cari yang murah biar dapet untung," sambungnya.
Namun setelah kecelakaan maut seperti rombongan SMK Lingga Kencana Depok, sekolah atau guru enggan bertanggungjawab.
"Kalau udah kejadian gini siapa yang tanggung jawab? Innalillahi," tandasnya.
Sementara, salah satu orangtua siswa sebuah SD di Kabupaten Cianjur mengaku was-was setelah mengetahui peristiwa ini dari pemberitaan.
Apalagi, sekolah anaknya akan menggelar wisata pada masa libur ini dan sudah direncanakan dengan menggunakan bus.
"Tapi memang orangtua minta busnya yang bagus. Kita nggak mau kalau busnya jelek. Ngeri kan," tutur ibu 2 anak yang tak mau disebutkan namanya itu.
Dia juga mengungkap bahwa bus yang akan dipakai nanti adalah armada ternama yang sudah cukup kesohor kualitasnya.
Menrutnya, biaya yang sedikit lebih mahal akan jauh lebih baik ketimbang mendapat armada bus abal-abal.
"Ya boleh wisata, jalan-jalan sekalian nyenengin anak. Tapi tetap keselamatan nomor 1. Makanya orangtua minta bus dari perusahaan ternama," tutup dia.
Pengakuan Orangtua Korban Kecelakaan
Riris Fardia, salah satu orangtua korban kecelakaan mau SMK Lingga Kencana Depok, histeris melontarkan protes keras kepada pihak sekolah.
Riris yang juga seorang guru itu paham betul prosedur dan segala hal terkait acara wisata, studi tur dan semacamnya yang digelar sekolah.
"Bus itu nomor 1. Bagus, minta yang bener," tegasnya.
Di sekolah tempat ia mengajar, kualitas dan kondisi bus benar-benar diperhatikan dan jadi pertimbangan utama untuk menentukan pilihan.
Itu tidak lain karena pertimbangan kenyamanan dan keselamatan para siswa mulai dari berangkat sampai kembali pulang ke rumah.
"Memang tergantung uang. Kalau (di sekolah) saya waktu itu Blue Bird, jadi berbeda," kata dia.
Dia menceritakan, sebulan sebelum kejadian, ada rombongan sekolah di Depok yang mengalami kecelakaan di Bali.
Karena itu ia langsung mendatangi sekolah untuk mengingatkan bahwa bus yang digunakan harus benar-benar dalam kondisi yang baik.
"Pak, tolong itu bus diperiksa atau kalau enggak diservis yang benar," ujarnya mengulang ucapannya kepada kepala SMK Lingga Kencana Depok.
"Oke bu, tenang aja, kami semua mobilnya kami bawa dengan baik," sambungnya menirukan jawaban kasek.
Baca Juga: Data Terbaru, 9 Korban Meninggal Akibat Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana Depok di Subang
Ia menyatakan, momen itu ia sampaikan dalam rapat yang digelar sekolah.
"Benar ya, pak, bertanggungjawab nggak akan ada apa. Karena kalau ke Bandung, ke Bogor, itu harus ada mobil (bus) yang bagus," tegas dia.
Kekecewaan Riris pun kian bertambah setelah mengetahui bahwa acara perpisahan SMK Lingga Kencana Depok itu mendadak diubah lokasinya.
"(Awalnya) Perpisahannya di Depok. Kok tiba-tiba dibawa ke sana (Ciater). Oke, kita menurut semuanya," bebernya.
"Tenang aja, Bu, kami aman-aman aja." kata dia menirukan ucapan Kepala SMK Lingga Kencana.
"Saya ini guru. Saya tahu betul prosedur wisata atau berjalan-jalan sekolah," tegas dia dengan histeris.***




