POJOKSATU.id - Puluhan mahasiswa Institut Ummul Quro Al Islami (IUQI) Bogor yang tergabung dalam Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar kegiatan Diskusi Ramadhan bersama Keluarga PMII atau DISTRAKSI di Alun-alun Leuwiliang, pada Jumat (29/3/2024).
Kegiatan ini merupakan program yang dirancang oleh pengurus PK PMII IUQI, baik dari Komisariat, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Rayon PMII IUQI Bogor.
Ketua Komisariat PMII IUQI Teguh Arrahman menyebutkan kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antara keluarga PMII IUQI dan menciptakan organisasi yang mementingkan nilai-nilai kebersamaan.
"Tak sekedar bertemu dan berdiskusi. Kami juga merenungkan pentingnya regenerasi yang kuat dalam hal ideologi dan pergerakan," ujar Teguh kepada Pojoksatu.id pada Selasa (2/4/2024).
Baca Juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Ketua Kopri PC PMII Kota Bogor Komitmen Siapkan SDM Unggul
Karenanya salah satu tema yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah apakah ketua Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di IUQI Bogor harus berdarah PMII?
"Hal ini berkaitan erat dengan pembentukan kader yang mapan dan kuat, baik dari segi ideologi maupun pergerakan," jelas Teguh.
Teguh menyebut pola pembinaan dan pengembangan PMII IUQI ditetapkan sebagai panduan organisasi untuk mencapai tujuan dan cita-cita PMII, serta sebagai sarana untuk mengoperasikan nilai-nilai dasar pergerakan.
Ketua KOPRI komisariat PMII IUQI Annisa Diantika, berharap bahwa kegiatan Distraksi dapat 'mengganggu' pikiran para peserta diskusi sehingga membentuk pola pikir yang kritis.
Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, PMII UIKA Sukses Gelar PKD Se-Jabar, Peserta Beri Respon Positif
"Pola pikir yang kritis adalah bagian dari upaya membangun ideologi PMII untuk memperbaiki peradaban melalui berorganisasi di PMII," ujar Diantika.
Untuk mengasah daya kritis itu, dalam diskusi yang berlangsung dibagi tim pro dan tim kontra yang membahas berbagai pandangan dan argumen apakah ketua ORMAWA IUQI harus berdarah PMII.
Tim pro menekankan bahwa keanggotaan PMII dianggap dapat memperlihatkan kapasitas dan memberikan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai dan ideologi organisasi.
Mereka juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan internal PMII dan perjuangan nilai-nilai Islam dalam lingkup kemahasiswaan dengan basis massa yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Jalur kaderisasinya terstruktur dan berkesinambungan," ungkap tim pro.
Sementara itu, tim kontra berpendapat bahwa persyaratan tersebut terkesan eksklusif dan tidak mencerminkan semangat demokrasi dalam organisasi kemahasiswaan.
Mereka juga menyoroti pentingnya keragaman pemikiran dan keterbukaan dalam organisasi.
"Organisasi seharusnya menjadi wahana pengembangan diri dan pertukaran gagasan dari berbagai perspektif secara terbuka dan demokratis," ungkap tim kontra dalam diskusi tersebut.
Menyikapi itu, diskusi berakhir dengan kesimpulan bahwa PMII harus mampu melahirkan kader-kader yang bertanggungjawab, handal, mampu bersaing serta memberikan kontribusi penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Peserta diskusi sepakat, pentingnya peran PMII dalam membentuk pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.***




